Kamis, 10 Juli 2014

BAGIAN II JALAN MENUJU KENABIAN

Bagian II - Jalan Menuju kenabian

Bab II-1 - Mirza sebagai kampiun Islam
Kita telah mempelajari sejauh ini bagian dari kehidupan Mirza Ghulam Ahmad, hidupnya di perkampungan di distrik Gurdaspur di mana kita melihatnya tenggelam dalam studi buku-buku agama. Karya-karyanya yang diterbitkan setelah 1880 menunjukkan bahwa subyek utama dari studinya adalah beberapa agama yang berlainan, terutama Kristen dan agama-agama India seperti Sanatan Dharma dan Arya Samaj.
Periode ini dikenal karena polemik agama. Orang-orang berpendidikan waktu itu memiliki kegemaran atas  perdebatan dan kontroversi agama. Kita telah melihat bahwa para misionaris Kristen sibuk menyebarkan Kristen dan menyangkal Islam. Pemerintah Inggris, yang secara resmi adalah pembela agama Kristen, melindungi kegiatan ini, dengan anggapan bahwa  India adalah karunia dari Yesus Kristus. Di sisi lain berdiri para pengkhotbah dari gerakan Arya Samaj, yang antusias mencoba untuk merongrong Islam.
Inggris yang menyadari kemungkinan berbahaya dari kerukunan antar-komunal di India, sebuah manifestasi dari mana  perjuangan untuk kemerdekaan India tahun 1857 datang, dengan cerdik justru mendorong pertentangan agama. Kepentingan politik Inggris dilayani oleh pertentangan ini hingga sejauh ini ketika hal-hal itu  menjurus kearah  saling kebencian, kebingungan intelektual dan kekacauan moral di negeri ini sehingga masyarakat religius India mungkin bisa diarahkan setidaknya untuk menerima  pemerintahan yang berusaha untuk melindungi semua dari mereka dan di bawah bayang-bayang mana, semua bisa melanjutkan perdebatan suci mereka. Dalam suasana seperti itu, siapa pun yang tegak membela Islam dan menelanjangi agama-agama lain dengan sendirinya  menarik perhatian seluruh kaum  Muslim.
Sang Mirza yang ambisius dan berpandangan jauh memilih bidang ini untuk petualangannya. Dia giat  berkarya untuk menghasilkan sebuah buku tebal  untuk menunjukkan, di satu sisi, kebenaran Islam, asal Ilahi Quran, dan kenabian dari Rasulullah dengan argumen rasional dan, di sisi lain, untuk menyangkal kekristenan, Sanatan Dharma, Arya Samaj dan Brahma Samaj dan lain lain. Dia menamakan buku ini:   Barahin-i-Ahmadiyah


Buku Barahin dan Tantangan Mirza

Penulisan Barahin dimulai pada l879[1].  Penulis melakukan pengajuan seratus argumen untuk mendukung Islam. Dalam melakukan ini, Mirza juga melakukan korespondensi dengan orang-orang terpelajar lain yang ia minta untuk mengkomunikasikan pandangan mereka untuk membantu dia dalam usaha ini.
Mereka yang memenuhi permintaan itu termasuk Maulavi Chirdghall, yang adalah rekan masyhur dari Sir Sayyid Ahmad Khan.  Mirza memasukan beberapa artikel dan penelitian dalam karyanya. Pada akhirnya pekerjaan ini, yang ditunggu dengan antusias oleh ratusan orang, naik cetak dalam empat  jilid. 
Seiring dengan penerbitan buku ini, penulis juga mengumumkan maklumat dalam bahasa Urdu dan bahasa Inggris dan mengirimkannya ke penguasa-penguasa  dan menteri-menteri Negara, para  pendeta Kristen dan pendeta-pendeta Hindu. Dalam buku ini, Mirza mengumumkan untuk pertama kalinya bahwa dia telah ditunjuk oleh Tuhan untuk menunjukkan kebenaran Islam dan bahwa ia siap untuk memuaskan para pengikut agama-agama lain tentang agamanya. Pengumuman ini dengan  pasti menyatakan:
Hamba yang rendah hati ini (penulis Barahin-i-Ahmadiyah) telah ditunjuk oleh Yang Maha Kuasa Agung untuk berjuang untuk mereformasi makhluk Allah dan untuk menunjukkan kepada kaum jahil  jalan lurus (yang mengarah kepada keselamatan sejati dan yang dengan mengikutinya, cahaya keberadaan surgawi dan kenikmatan dan kerahiman  Illahi dapat dialami bahkan di dunia ini) dengan cara Nabi Israel dari Nazaret (Al Masih) dengan segala kerendahan hati, penyangkalan dan pengingkaran diri serta  kelembutan. Untuk tujuan ini buku Barahin -i-Ahmadiyah ini ditulis, dimana tiga puluh tujuh bagiannya telah diterbitkan.
Ringkasan buku ini bisa dilihat pada maklumat terlampir pada surat ini.Tapi karena publikasi dari seluruh buku akan memakan waktu yang lama, diputuskan bahwa surat ini bersama dengan pengumuman dalam bahasa Inggris akan di sebarluaskan dan satu salinan dari masing-masing dikirim ke imam-imam  terhormat di Punjab, India dan negeri Inggris dan negara-negara lain, dimana mungkin[2].
Mirza menantang dunia untuk mengajukan  buku manapun yang bisa disetarakan dengan bukunya ini dan mengundang wakil-wakil dari agama-agama lain untuk membuktikan kebenaran agama-agama mereka dengan jumlah argument yang sama atau bahkan lebih sedikit dari argumen yang dia ajukan.
Dia menulis:
Saya, penulis buku ini, Barahin-i-Ahmadiyah, membuat pengumuman ini dengan janji untuk membuat hadiah 10.000 rupee bagi para pengikut dari semua keyakinan dan semua agama, yang menyangkal kebenaran dari Al-Quran yang Mulia dan kerasulan  Muhammad  SAW. Dan untuk mendukung itu saya mengikatkan diri untuk melakukan tindakan hukum formal dan sumpah Syariah bahwa, jika salah satu dari para penyangkal dapat menunjukkan bahwa kitab suci mereka memiliki bahasan sebanyak dan sedalam  seperti yang ditemukan dalam Al-Qur'an dan yang telah kami sebutkan di sini untuk menunjukkan kebenaran dari Pesan Agung dan kebenaran Kerasulan dari Khatim al-Ambiya (syukur dan salam Allah besertanya) yang telah diturunkan dari Kitab Suci (Quran) sendiri; atau jika mereka tidak bisa maju dengan jumlah argumen yang sama, yaitu setengah, atau sepertiga, atau seperempat, atau seperlima dari jumlah argumen kami, atau jika mereka mendapatkan bahwa tidak mungkin, maka setidaknya untuk membantah argumen kita satu demi satu- kemudian, dalam hal yang manapun, asal tiga penulis buku yang diterima oleh kedua belah pihak, secara aklamasi menyatakan pandangan bahwa persyaratan  telah dipenuhi seperti  yang seharusnya dipenuhi, pembuat  pengumuman ini harus menyerahkan kepada penerima tantangan ini  tanpa alasan atau keraguan , penguasaan dan kepemilikan harta miliknya  senilai Rupee 10.000[3].

Mirza menyerukan kepada kaum Muslimin untuk mengeluarkan sumbangan uang untuk pengabdian   besar ini , yang akan dia tujukan bagi cita cita Islam dan dia akan turut serta  dengan murah hati di dalamnya [4].
Tampaknya, tanggapan kaum Muslimin  atas seruan ini tidak begitu antusias seperti yang Mirza harapkan. Dalam jilid  Barahin selanjutnya , ia menyatakan kesedihannya atas  kurangnya antusiasme ini. 
Pengumuman yang menjadi kata pengantar dari buku ini menjadi penting. Di dalamnya, kita menemukan beberapa tanda tanda dari kekuatan-kekuatan pendorong dibelakang kepribadian Mirza. Di dalamnya, kita melihat kebiasaannya untuk membual dan penyanjungan diri dan keyakinannya pada tanda-tanda surgawi " sebagai dasar  untuk klaimnya dan sebagai sarana untuk membujuk masyarakat. Seiring dengan semua itu, pernyataan-pernyatan itu tak  salah lagi menyerbakkan bau mentalitas komersialnya[5]


Berkhotbah dan Politik

Dalam
jilid  ketiga dan keempat Barahin-i-Ahmadiyah, Mirza secara terbuka memuji pemerintah Inggris dan disebutkan panjang lebar tindakan kebajikan mereka  terhadap Muslim padai bagian -bagian yang berjudul, Sebuah Himbauan Penting bagi Organisasi organisasi Islam: Kondisi Genting Kaum Muslim dan Pemerintahan Kolonial  Inggris. " Dalam himbauan  ini dia, mendesak semua Organisasi Islam untuk menyiapkan memorandum bersama dan mengirimkannya kepada pemerintah dengan tanda tangan dari semua Muslim terkemuka. Dia juga mengingatkan tentang jasa yang diberikan oleh keluarganya ke Pemerintah Kolonial Inggris dan menekankan ketidak toleranan pemerintah kolonial Inggris atas Jihad[6]
Dengan demikian kita menemukan bahwa bahkan karya pertama dari Mirza tidak bebas dari puji-pujian kepada pemerintah kolonial Inggris atau dari peringatan politik bagi umat Islam untuk tetap setia kepada Inggris.

Karya Besar
Mirza menulis  buku ini dari tahun1880 hingga tahun 1884. Setelah penerbitan  jilid keempat ada jeda  panjang, sedang  jilid kelima dan terakhir muncul pada tahun 1905, dua puluh lima tahun penuh sejak  dimulainya penulisan[7]. 
Dalam jilid kelima penulis menyebutkan bahwa penerbitan  jilid terakhir telah tertunda  selama dua puluh tiga tahun[8]. Selama periode ini sejumlah besar orang yang telah membayar di muka untuk semua lima jilid, tetapi hanya menerima empat jilid telah meninggal dunia. Beberapa orang lain yang telah membayar di muka telah mencela dan menyesalkan ini  karena  tidak mendapat jilid yang dijanjikan untuk mana Mirza mengajukan permohonan maaf  dalam jilid kelima. 
Dalam buku ini, ia juga menyebutkan bahwa sebelumnya telah ada  dalam pikirannya untuk mengemukakan  300 bahasan  untuk membuktikan kebenaran Islam, namun kemudian ia membuang gagasan tersebut. Hal yang sama juga terjadi pada jumlah jilid. Bukan lima puluh jilid , yang akan ditulis namun  hanya lima jilid. Alasan untuk perubahan pikiran ini adalah bahwa perbedaan diantara dua angka itu ( 500 dan 50) hanya pada angka nol. 
Dalam kata katanya sendiri:
Sebelumnya saya berpikir untuk menulis 50 jilid, tetapi sekarang saya telah membatasi diri untuk menulis lima karena perbedaan antara angka lima puluh dan lima hanya satu titik (dalam angka Arab titik adalah nol/penterjemah). Dengan demikian janji telah dipenuhi dengan diterbitkannya  lima jilid.  [9]

Dalam Sirat al-Mahdi, Mirza Bashir Ahmad menulis:
Sekarang empat jilid Barahin-i-Ahmadiyah telah keluar cetak, kata pengantar dan catatan-catatan  semua berhubungan dengan waktu penerbitan dan sangat sedikit berisi karya dari versi asli, yaitu, tidak lebih dari beberapa halaman. Hal ini dapat diukur dari fakta bahwa dari 300 argumen yang ia telah tulis Barahin-i-Ahmadiyah hanya berisi satu argumen dan itu juga tidak dalam bentuk lengkap. " [10]

Siapapun yang mempelajari Barahin-i-Ahmadiyah pasti akan terkesan oleh, produktifitas penulis, ketekunan dan kerajinannya.Kebajikan-kebajikan ini,pada keadaan terbaiknya, bisa berguna baginya untuk menjadi  pendebat sukses dan penulis handal  tentang polemik agama  dengan umat Kristen dan Arya Samajis. Dalam karya besar ini, bagaimanapun juga, kita tidak menemukan hasil penelitian yang berharga. Juga tidak seseorangpun  menemukan kedekatan dengan sumber-sumber Kristen, sastra kuno, doktrin-doktrin dan sejarah, dan pemahaman dari konsep dasar, seperti yang bisa dijumpai, misalnya, dalam karya Maulana Rahmatuillah Kayranwi (wafat 1309 H / 1891 M ), penulis lzhar al-Haqq dan al-Awham Izalat. 
Juga kita tidak menemukan bahwa manisnya dan keanggunan ekspresi, dan orisinalitas dan kecemerlangan argumentasi yang bisa ditemukan dalam karya-karya seperti Maulana Muhammad Qasim Nanotawi (wafat 1297 H / 1879 M) Taqrlr Dilpizir dan-Hujjat al-IsiFim.


Wahyu-wahyu dan Bual[11]

Pembaca juga sering
mendapatkan dalam buku Mirza acuan acuan pada wahyu yang dia dapat, mukjizat-mukjizat  dan komunikasi ilahi dan nubuat, dan, terakhir namun bukan yang terkecil, pembualan nya. Semua ini meninggalkan rasa tidak enak di mulut dan menjadikan buku yang tadinya diklaim untuk mewujudkan sebuah diskusi akademik yang santun  dan debat agama yang bermartabat, menjadi sebuah karya pembualan pribadi - sebuah karya di mana, lagi dan lagi, penulis merendah  untuk mengiklankan dan pemuliaan diri.

Tema sentral dari buku ini adalah bahwa inspirasi Ilahi tidak pernah berhenti dan tidak harus
berhenti. Inspirasi itu sendiri adalah bukti paling kuat dari keberlakuannya klaim dan kebenaran agama dan iman. Siapa pun yang  akan mentaati Nabi Muhammad SAW secara sempurna akan diberkahi dengan pengetahuan eksternal dan internal yang telah diberikan awalnya kepada para nabi, dan orang itu akan, oleh karena itu, menjadi memiliki pasti pengetahuan yang kategoris. Pengetahuan intuitif dari orang orang semacam itu akan menyerupai pengetahuan para nabi. Orang-orang inilah yang telah disebut sebagai l Amsal  dalam Hadis dan Siddiq dalam Al Quran. Waktu Munculnya mereka akan menyerupai waktu kedatangan para nabi. Orang-orang semacam inilah
 yang akan mengokohkan  kebenaran Islam dan wahyu  mereka akan bersifat pasti[12]

Dalam ikhtiarnya membuktikan keberlanjutan dari wahyu ini, ia mengutip ilhamnya sendiri dan menulis:

Kami memiliki beberapa contoh
wahyu ini sebelum kita. Tetapi dalam salah satu yang, terjadi sekarang pada saat menulis catatan ini di bulan Maret 1882, telah turun  sebagai sebuah nubuat bahwa melalui buku ini dan ketika mengetahui isinya , lawan pada akhirnya akan dikalahkan, bahwa para pencari kebenaran akan mendapatkan hidayah sejati; penyimpangan iman  akan tercabut, dan orang akan membantu dan mengalihkan perhatian mereka mereka pada saya dan datang mengerumuni saya, dst…..dst…, karena Tuhan akan menempatkan ini ke dalam hati mereka dan mengarahkan mereka ke ini [13]


Dalam bukunya pernyataan diatas ini telah diikuti oleh ilham yang berkepanjangan  yang baru saja diterima saat itu  yang mana merupakan  kumpulan beberapa ayat-ayat Alquran yang hampir sama sekali tidak saling terpaut. Ilham ini mencakup sekitar empat puluh bait  Barahin dan berisi sekitar lima puluh tiga atau lima puluh empat ayat Quran, diselingi dengan beberapa hadis Nabi. Selain itu, ada beberapa kalimat oleh Mirza sendiri yang merupakan contoh dari apa yang mungkin disebut sebagai kata kata Arab yang diadopsi kedalam bahasa India secara buruk. Bait bait  terakhir dari ilham yang berisi ayat-ayat Alquran dalam bagian ( proporsi) yang lebih kecil, berbunyi sebagai berikut:

Hidup di dunia
ini adalah seperti orang asing atau musafir. Menjadi salah satu dari yang benar dan yang jujur. ​​Tawarankan apa apa  yang baik dan larang apa pun yang buruk dan berilah salam hormat untuk Muhammad dan keturunannya.Sholat sendiri mengasuh seseorang. Sesungguhnya Aku akan membangkitkan engkau menuju kediriKu  dan Aku telah menempatkan rahmatKu (dalam hati orang-orang). Tidak ada Tuhan selain Allah. Jadi, tulislah dan sebarluaskan ke seluruh dunia. Peganglah ketauhidan ( dari Tuhan), Ke tauhidan Tuhan , Wahai bangsa Iran dan beri kabar gembira kepada mereka yang percaya bahwa mereka memiliki kedudukan di sisi Tuhan mereka dan bacakan dengan keras kepada mereka apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu Dan janganlah memasamkan  wajah mu bagi makhluk Tuhan dan janganlah kau jemu dengan mereka. Kaum al-Suffah. Dan siapakah kaum  al-Suffah? Engkau melihat mata mereka basah dengan air mata dan mereka akan mengirim salam mereka kepadamu.Wahai Tuhan kami! Kami mendengar bentara memanggil menuju keyakinan, suatu panggilan menuju Allah, lampu yang cemerlang. Berharaplah! [14]
Dengan cara yang sama, ilham yang sama dimunculkan lagi dalam jilid keempat dari buku yang sama. Ilham ilham  ini juga adalah kumpulan yang   dari ayat-ayat Alquran dan penegasan Qur’ani  yang tidak saling berpaut. Buku ini juga mengandung beberapa kesalahan yang sangat jelas dari bahasa Arab dan tata bahasa Arab (yang telah ditunjukkan oleh kami /penulis/ dengan tanda tanya):
Dan apabila dikatakan kepada mereka, Berimanlah seperti seharusnya  seorang  beriman”,  mereka berkata: Haruskah kita beriman seperti mereka percaya kepada yang bodoh? Hati-hati ! Mereka sendirilah yang bodoh, namun  mereka tak menyadari dan berharap bahwa Anda harus berkompromi dengan mereka(?) katakanlah: Orang kafir, aku tidak menyembah yang kamu sembah. Dikatakan kepadamu “ berpalinglah  keTuhan tetapi kamu tidak berpaling, dan dikatakan kepada  Anda, tundukkanlah  jiwa Anda, tetapi Anda tidak menundukkannya. Apakah  engkau meminta imbalan dari mereka yang merasa terbebani (dalam menerima pesan Anda). 
Tidak, kami membawa kebenaran kepada mereka(secara cuma cuma) dan itu adalah Kebenaran yang mereka benci. Allah adalah murni dan bebas dari apa pun yang mereka persangkakan( attribute). Apakah orang berpikir bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan: Kami percaya, dan mereka tidak di uji?  Orang-orang ini suka dipuji atas perbuatan yang  tidak mereka lakukan, sementara tidak ada yang tersembunyi dari Allah dan tidak ada yang baik yang Tuhan tidak membuatnya  baik dan tidak ada yang dapat memulihkan karunianya Nya yang telah jatuh dari kasih karunia-Nya. [15]
Diluar  dari wahyu-wahyu dalam bahasa Arab ini  ada juga dua wahyu dalam bahasa Inggris.[16]


Keyakinan Mirza atas Barahin
Dalam empat jilid dari Barahin (diterbitkan 1880-1884), Mirza hanya mengemukakan sekedar pandangan bahwa ilham (inspirasi Ilahi) tidak berhenti dan tidak akan berhenti, dan bahwa warisan para nabi terus berlanjut dalam hal pemahaman ilhami tentang sesuatu, sehubungan dengan pencerahan iman dan pengetahuan mutlak (kategoris). Dalam buku ini dia juga sering menyebutkan bahwa akan telah ditugaskan oleh Tuhan untuk mengubah dunia dan menyebarkan pesan-pesan Islam, bahwa dia mujaddid (ahli memperbarui) untuk zaman sekarang, dan bahwa ia memiliki kemiripan dengan Yesus (damai padanya ). [17] Dalam buku ini ia juga menganut gagasan kenaikan Yesus ke surga dan bahwa akan akan kembali ke bumi. Dalam lampiran untuk bukunya , Nuzul al-Masih, diterbitkan pada tahun 1902, dan dalam jilid 5 Barahin, yang terbit pada tahun 1905, Mirza mengakui bahwa ia menganut pandangan di atas dan bahkan telah menyatakan keterkejutannya karena kepercayannya  pada kenaikan dan kembalinya Yesus.[18]
 Dalam Barahin dia juga sangat menolak ide dari setiap wahyu segar dan munculnya setiap Nabi baru. Alasan keyakinan ini adalah bahwa Al-Quran dan ajaran-ajarannya tidak berada dalam bahaya penyimpangan  juga tidak ada bahaya  kembalinya muslim  ke kebodohan dan paganisme masa sebelum Islam.
Sebalikna  “ sikap orang musyrik, karena kontak dengan monoteis, secara bertahap cenderung bergerak menuju ke ketauhidan.  Itulah hal yang sebenarnya. Bahwa bahaya utama yang mana wahyu dan kenabian  yang hendak dicegah tidak lagi nyata - tidak ada kebutuhan untuk Syariah baru atau ilham ( inspirasi) segar. Ini juga yang melahirkan kekhataman  kenabian dengan munculnya Nabi Muhammad S.A.W:

"Sekarang, karena secara rasional tidak mungkin dan tak terbayangkan bahwa ajaran-ajaran benar dari Furqan Agung akan di
simpangkan  atau diubah, atau kegelapan musyrik dan penyembahan makhluk Allah akan mendominasi lagi, juga secara  akal sehat tak terbayangkan bahwa harus ada Syariah baru, atau menurunkan lagi  ilhan baru. Karena, yang mengarah ke kemustahilan itu secara  diri sendiri juga tidak mungkin. Dengan demikian, terbukti, bahwa Nabi Muhammad S.A.W  , dalam kenyataannya adalah yang terakhir dari para nabi.[19]


Sambutan Atas Buku Ini:
Tampaknya buku itu disambut antusias di kalangan/lingkaran agama dan akademis diseluruh negeri. Memang karya ini sangat diperhitungkan  waktu penerbitannya dan Mirza, serta teman-temannya, menerbitankannya dengan semangat yang besar. Rahasia kesuksesan buku tampaknya terletak pada kenyataan bahwa buku itu menantang agama-agama lain, bukannya meminta maaf atas nama Islam, tetapi mengambil sikap  ofensif terhadap mereka. Diantara kalangan atas yang  antusias mendukung buku ini adalah , Maulana Muhammad Husain Batalawi. Dalam  majalahnya Isha al-Sunnah, ia menulis review panjang memuji buku di enam edisi majalah. [20] Dalam review ini, buku itu habis habisan  dipuja dan dipuji  sebagai prestasi akademik besar saat itu, sebuah adikarya penelitian dan penulisan.Tidak begitu lama kemudian, Maulana merasa khawatir dengan klaim besar dan 'inspirasi' dari Mirza dan, kemudian, menjadi salah satu lawan gigihnya. Di sisi lain, ada banyak orang yang dikhawatirkan  bahkan oleh buku pertamanya dan yang mulai merasakan bahwa penulisnya telah menetapkan dirinya di jalur yang akan menuntun dia, dalam waktu dekat, mengklaim kenabian bagi dirinya sendiri. Diantara orang-orang berpandangan jauh ini adalah dua putra dari almarhum Maulana Abdul Qadir Ludbianawi yakni  Maulana Muhammad dan Maulana Abdul 'Aziz. 
Para ahli hadis “ ulama” dari  Amritsar dan beberapa ulama dari keluarga Ghaznawi menentang dia dari awal dan mencela wahyu  Mirza  sebagai fantasi.[21]

Buku ini menempatkan  Mirza di panggung kemasyhuran dari ketidak terkenalan, sehingga semua mata memandang ke arahnya.Dalam Sirat al-Mahdi, Mirza Bashir Ahmad dengan tepat menggambarkan bagaimana buku ini telah membawa Mirza kedalam sorotan lampu panggung:

"Sebelum menulis Barahin, Al Masihyang
dijanjikan ini menghabiskan kehidupan terpencil dan dalam ketersendirian ini kehidupannya  adalah kehidupan seorang darwis. Sebelum terbitnya Barahin, ia menjadi terkenal sampai batas tertentu karena  menulis serangkaian artikel di beberapa surat kabar itu, tapi semua ini tidak banyak. Bahkan, pemaklumatan  Barahin-i-Ahmadiyah inilah  yang, untuk pertama kalinya dan untuk yang seterusnya, menempatkannya didepan seluruh  negeri dan memperkenalkan dia kepada  mereka yang tertarik pada soal soal akademis dan agama. Mata orang-orang mulai berubah dengan takjub memandang ke arah putra desa yang tak dikenal, yang telah berjanji untuk menulis sebuah buku besar tentang kebenaran Islam dengan cara seperti menantang dan dengan janji sejumlah besar uang sebagai hadiah (untuk salah satu yang bisa mematahkan argumennya).
Maka matahari hidayah sudah muncul di cakrawala, sekarang mulai naik lebih tinggi.  Kemudian penerbitan Barahin-i-Ahmadiyah membangkitkan kegemparan  luar biasa di kalangan agama seluruh negeri.
 Secara umum, umat muslim menyambutnya sebagai 'mujaddid'besar . Adapun bagi musuh-musuh Islam, buku ini datang kepada mereka laksana  bom dan membangkitkan pergolakan yang besar di pihak mereka.[22]

Mirza sendiri mengatakan hal berikut tentang kehidupan sebelum penerbitan Barahin:

Saat itu adalah saat dimana tak ada yang mengenal saya, ketika tak ada yang mendukung maupun yang menentang saya, karena, pada waktu itu, aku tak ber ujud, saya hanya satu di antara orang-orang, tersembunyi disudut ketidak terkenalan.
Dia menambahkan:
Semua orang di kota ini (yaitu Qadian) dan ribuan orang lain menyadari bahwa pada masa itu saya pada dasarnya, seperti mayat yang telah dikubur disuatu makam selama berabad-abad dan tidak ada seorang pun yang tahu kuburan siapa itu. [23]

Perdebatan dengan Arya Samajis
Pada tahun 1886, Mirza melakukan perdebatan dengan Murli Dhar dari Arya Samij, di Hoshiarpur. Ia telah menulis dengan lengkap pada sebuah buku tentang debat ini, Surmah-i-Chashm-i-Arya (Celak untuk mata dari Arya). Perdebatan ini adalah yang kedua yang mengenai agama agama dan sekte-sekte keagamaan.
Topik perdebatan hari pertama adalah bukti rasional dan historis dari mukjizat terbelahnya bulan. Mirza tidak hanya sangat menegaskan keajaiban ini, tetapi juga mukjizat nabi-nabi lain. Dia menunjukkan bahwa mujizat dan kejadian supranatural itu secara rasional adalah mungkin. Dia mengambil posisi bahwa karena keterbatasan yang inherent dalam kecerdasan, pengetahuan dan pengalamannya,  manusia  tidak berhak untuk menyangkal mujizat dan dengan demikian juga tak berhak membuat klaim bahwa mereka telah memahami alam semesta yang luas ini secara keseluruhan. 

Dia berulang kali menekankan bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas sementara kisaran dari berbagai kemungkinan sangatlah luas [24](sehingga gagasan bahwa pengetahuan manusia bisa komprehensif tak bisa dipertahankan). Dia juga menekankan bahwa dalam urusan agama, percaya pada yang gaib itu penting dan bahwa ini tidak bertentangan dengan akal sehat, karena yang terakhir ini ( akal sehat) tidak dapat menjadi menyeluruh dalam kisarannya. Bahkan, betapapun rasionalnya keberatan yang Mirza tunjukkan tentang  keyakinannya mengenai kenaikan Yesus ke langit dan turunnya  di masa depan dan tinggal di surga selama beberapa abad dan apa yang disebut kecenderungan 'rasionalis' dalam tulisan-tulisannya, paling baik dapat disanggah oleh argumen yang ia sendiri ajukan dalam buku ini. Kepribadian penulis dalam buku ini cukup berbeda dengan kepribadiannya pada tulisan tulisannya yang lain berikutnya.

Kedua buku
ini membuat Mirza secara berlebihan menghargai diri sendiri, ia menyadari kemampuannya sebagai penulis dan debat dan menjadi yakin bahwa dia mampu memulai gerakan baru dan mempengaruhi lingkungannya.Tampaknya bahwa penemuan ini membuktikan menjadi titik balik dalam hidupnya. Sejak saat itu, bukannya berdebat dengan umat Kristen dan Samajis Arya, ia malah berbalik melawan kaum Muslim dan mulai menantang mereka untuk berdebat dengan dia.




[1] Sirat di-Mahdi, Jilid 11, hal 157.
[2] Tambahan Barahn-i-Ahmadiyah, jilid I oleh Merajuddin Umar, hal 82f.

[3] Barahin-i-Ahmadiyah, jilid 1. Hal. 17-22.

[4] Lihat  Iltimas-i-Zaruri di Barahin, jilid 2
[5] Arz-i-Zaruri  ba Halat -i-Majburi. Barahin, jilid 1.

[6] Barahin-i-Ahmadiyah, jilid 3.
[7] Sirat di-Mahdi, Jilid 2, hal 154.
[8] Barahin-i-Ahmadiyah, jilid 5. Kata Pengantar hal.1
[9] Kata Pengantar pada Barahin-i-Ahmadiyah, Jilid 5, hal. 7.

[10] Sirat al-Mahdi, jilid 1, Hal.112.

[11] Dari bahasa Inggris: inspirations and Bragging
[12] Barahin-i-Ahmadiyah, jilid 3, hal. 231,244.

[13] Barahin-i-Ahmadiyah, jilid 3, hal. 238
[14] Ibid. hal. 242
[15] Ibid. jilid 4 hal. 509


[16] Ibid. hal. 554 dan 556, Beberapa kalimat dalam “ Wahyu” dalam Bahasa Inggris: “Saya akan memberimu bagian besar dari Islam”(sic.) (ibid, hal 556). Saya seorang berselera ( cuerler)(sic.)( ibid. hal 479)” Saya bersama Isa. Dia bersamamu untuk membunuh musuh. (sic.) ( ibid. hal. 484).” Kami bisa apa yang kami ingin lakukan.(sic.) (ibid., hal 480). ( tr.).

[17] Sirat al-Mahdi, jilid 1,. hal.39.

[18] Lampiran dari “Nuzul Al Masih, hal. 6; Barahin, jilid5 hal. 85

[19] Khalim –aku- Rusul,Barahin-i-Ahmadiyah, jilid 4, hal. 111


[20] Vol. 7 1884 684, no  6-11.
[21] Lihat  Isha di al-Sunnah, Juni, 1884  vol. 7,. No 6

[22] Sirat al-Mahdi, jilid 1,. hal.103-104.

[23] lbid, hal 28.

[24] Surmah-i-Chashm-i-Arya hal. 557

Tidak ada komentar:

Posting Komentar