Kamis, 10 Juli 2014

BAB I-3 SAINT PAUL NYA SEKTE QADIANI

BAB -3 - SAINT  PAUL NYA  SEKTE  QADIANI ( TANGAN KANAN  MIRZA)


Hakim[1] Nuruddin Bhairawi menempati kedudukan istimewa penting dalam sejarah sekte Qadiani, Hanya satu tingkat  lebih rendah dengan pendirinya. Bahkan, beberapa pengamat berpandangan bahwa Hakim yang disebutkan ini adalah otak sebenarnya di balik pergerakan ini, bahwa  arus intelektual dari gerakan ini muncul dari pikirannya.


Hakim Nuruddin Bhairawi dengan putranya Abdul Hayy



Kelahiran dan Pendidikan Dasar
Hakim Nuruddin dilahirkan pada tahun 1258 H (1841M) di Bhaira ( Bhera), Distrik Sargodha, Punjab[2]. Jadi pada tahun 1857, ia berusia 16 tahun, dan lebih muda dari Mirza hanya satu atau dua tahun. Ayahnya, Hafiz Ghulam Rasul, adalah seorang imam di sebuah masjid di Bhaira, dan merupakan Faruqi secara keturunan.

Pendidikan dini Hakim berlangsung di rumah desa-nya.Dia membaca buku-buku tentang Fiqh dalam bahasa Punjabi di bawah bimbingan ibunya. Lalu ia pergi ke Lahore.Ia diajarkan
bahasa Persia oleh Munshi Qasim Kashmir dan belajar kaligrafi dari Mirza Irhim Dayrawi. Tetapi ke dua nya tidak membuatnya tertarik. Kedua guru itu dari aliran Syiah. Pada tahun 1272 H atau  1855 M, ia kembali ke rumah dan tinggal selama beberapa waktu ,belajar di bawah bimbingan  Mian Haji Sharfuddin. Di sekitar waktu inilah ia mulai mempelajari bahasa Arab secara sistematis.

Di bawah pengaruh seorang penjual buku yang termasuk dalam gerakan Sayyid Ahmad Shahid, ada muncul dalam dirinya keinginan untuk menerjemahkan Al-Qur'an, dan
dengan bersemangat ia  membaca Taqwiyatul Iman dan Mashziriq-al-Anwar. 

Sebentar kemudian, ia kembali ke Lahore dan memperoleh beberapa pengetahuan Kedokteran. Sementara masa pendidikan berada di tahap yang sangat lanjut, ia mendapat pekerjaan pada Sekolah Normal, Rawalpindi. Di sana ia mengajar Persia dan pada saat yang sama belajar Aritmatika dan Geografi dari guru lain. Setelah lulus ujian tahsil, ia menjadi kepala sekolah di Pind Dadan Khan dan sekali lagi melanjutkan pelajaran bahasa Arab. Setelah empat tahun, ia berhenti mengabdi dan mulai mencurahkan seluruh waktunya untuk studi sendiri. Untuk beberapa waktu, ia belajar di bawah Maulavi Ahmaduddin (yang dikenal sebagai Qazi Buggiwale Sahib). Kemudian, kecintaanya untuk pengetahuan membuatnya bepergian ke beberapa bagian India. 

Di Rampur, ia melanjutkan pendidikan-pendidikannya, mempelajari Misykat al-Masbih dibawah bimbingan Maulana Hasan Shah, Sharah-i-Wiqayah di bawah bimbingan Maulavi Azizullah Afgbani, Ushul al-Shashi dan Maibazi , dibawah bimbingan Maulina Irshid Husain, Diwan al-Mutanabbi  di bawah bimbingan Maulavi Sa "Dullah, Sadra, dll, di bawah bimbingan Maulavi 'Abd al-'Ali, dan kitab-kitab yang lebih tinggi tentang logika seperti karya Mir Zahid :”Risalah dan Mir Zahid ala  Mulla Jalal, dengan setengah hati. 

Pada saat ini, ia dengan bersemangat mendukung Ismail Shahid dan kadang-kadang biasa berbicara dengan gurunya dengan sangat berani. 

Dari Rampur, ia pindah ke Lucknow dan mulai  belajar kedokteran di bawah bimbingan seorang dokter terkenal, Hakim Ali Husain. Ketika Ali Husain pergi ke Rampur atas undangan Nawab Kalb-i-Ali Khan dari Rampur, Nuruddin menemaninya. Selama tinggal di Rampur lebih lanjut ia belajar sastra di bawah bimbingan Mufti Sa'dullab. Secara keseluruhan dia tinggal  dengan Hakim Ali Husain untuk jangka waktu dua tahun dan kemudian pergi ke Bhopal untuk menyelesaikan pendidikan dalam bahasa Arab dan studi Hadis. Bhopal, pada masa itu  telah menjadi pusat besar belajar. 

Pengayoman Pemerintah atas pengetahuan dan pembelajaran telah menarik sejumlah besar sarjana. Di Bhopal, ia tinggal bersama dan dalam pengayoman  Jamaluddin Munshi Khan, seorang yang menjabat Menteri Kepala. Selama tinggal disana, Nuruddin mengambil pelajaran Hadis Shahih Bukhari dan Hidayah dari Maulana Abdul Qayyum (putra Maulana Abdul Hal Burhanwat, yang adalah seorang Khalifah dari Hazrat Sayyid Ahmad Shahid). Dari Bhopal ia melanjutkan kunjungan ke dua kota Suci Mekah dan Madinah, untuk menyelesaikan pendidikan dan juga untuk mencari kesenangan duniawi lainnya[3]

Di Mekah, ia mempelajari Sunans karya  Abu Da'ud dibawah bimbingan Syaikh Muhammad Khazraji, Sahih Muslim di bawah Sayyid Husain dan mulai mempelajari Al-Musallam al Thubut dibawah bimbingan Maulana Rahmatullah Kayranawi, penulis Izhar al-Haqq. Kadang-kadang, ia terlibat  diskusi panas dengan guru dan menunjukkan kecenderungan  tidak kompromi  dan punya rasa percaya diri berlebihan atas kedalaman  pandangan dan kecerdasannya  sendiri[4]

Di Mekah
pula, dia menyelesaikan  studinya Abu Daud dan Ibnu Majah di bawah bimbingan Syaikh Muhammad Khazraji.  Sementara itu Shah Abdul Ghani Mujaddidi tiba di Mekah. Kemudian, ketika Shah Mujaddidi kembali ke Madinah, Hakim bergabung dengannya dan setelah mengangkat sumpah setia kepadanya ia menjadi  muridnya selama enam bulan.


Pekerjaan
Setelah
melakukan umrah dan mengunjungi Madinah, Nuruddin kembali ke tempat asalnya, Bhaira dan tinggal di sana untuk beberapa waktu. Selama tinggal ia berdebat dengan orang – orang  tentang apakah  kebiasaan dan adat saat ini sesuai dengan ajaran yang terkandung dalam koleksi Hadis yang ternyata membuat  beberapa orang memusuhinya. Hal ini menyebabkan dia sadar akan  ketidaktahuan dan stagnasi para awam  dan menyadai keunggulan  dan keistimewaan intelektualnya sendiri. 

Dia juga pergi ke Delhi semasa  Durbar diperintah oleh  Lord  Lytton dan ada bertemu Munshi Jamaluddin Khan, Menteri Kepala Bhopal, yang membawanya ke Bhopal. Setelah tinggal singkat di Bhopal, Nuruddin sekali lagi kembali ke Bhaira dan mulai berlpraktek dokter di sana. Segera reputasinya sebagai dokter yang sukses menyebar dan dia diundang oleh Maharaja Jammu untuk mengabdi sebagai dokter pribadinya. Untuk periode yang cukup lama ia menjabat penguasa Jammu, Poonch dan Kashmir dan menjadi orang yang berpengaruh  cukup besar di sana berkat kemampuannya sebagai dokter, dan keluwesannya, pengetahuan dan kecendekiawaiannya. Dia telah menjadi orang kepercayaan yang sangat dekat dengan Maharaja dan, dengan demikian, menjadi sangat berkuasa..

Pengikut Mirza yang berapi api.
Ada banyak kesamaan karakter dan temperamen antara Hakim Nuruddin dan Mirza Ghulam Ahmad. Sulit untuk mengatakan bagaimana
cara mereka saling bertemu dulu. Namun pertemuan pertama mereka berlangsung di Qadian tahun 1885. Ketika Mirza menulis Bardhin-i-Ahmadiyah, Nuruddin menulis buku  pendukungnya. Kekagumannya pada Mirza begitu meningkat sehingga ia mengambil sumpah setia di tangan dan menerimanya sebagai panduan spiritual, pemimpin, dan berjanji untuk mengikutinya. Surat berikut Nuruddin menunjukkan kedalaman pengikatan dirinya dengan Mirza tersebut.

"Tuanku, panduan saya, pemimpin saya: Assalamu--alaikum wa Rahmat ullah
wa barakatuh,

Ini adalah doa saya untuk selalu hadir
dihadapan Anda dan untuk belajar dari Anda semua yang mana  Imam zaman telah dibuat menjadi mujaddid itu. Jika diizinkan, saya akan mengundurkan diri dari pekerjaan saya dan menghabiskan hari dan malam dalam pelayanan mulia Anda, atau, jika diperintahkan, saya akan melepaskan kegiatan kegiatan saya sekarang dan pergi mengelilingi seluruh dunia, memanggil orang ke agama yang benar dan akan mempertaruhkan nyawa saya untuk tujuan itu. Saya seorang martir dalam cita cita Anda: apa yang saya miliki bukan milik saya, melainkan milik Anda. 

Panduan dan wali yang terhormat, dengan ketulusan yang amat sangat  saya mengatakan bahwa-jika semua kekayaan dan semua milik saya dikorbankan untuk tujuan khotbah agama, saya akan merasa telah mencapai tujuan hidup saya. Jika para pembeli buku Barahin telah membayar uang muka merasa tidak nyaman pada keterlambatan dalam penerbitan buku ini, silakan mengizinkan saya untuk membuat pelayanan yang rendah hati membayar semua hak mereka dari saku saya.

"Pir
dan panduan saya yang terhormat :

Hamba sahaya ini, malu pada dirinya sendiri, mengatakan bahwa jika tawaran ini diterima itu akan menjadi kesenangan baginya. Yang saya maksud adalah bahwa saya mungkin diizinkan untuk menanggung seluruh biaya pencetakan  Barahin dan bahwa apapun yang di hasilkan  dari penjualannya, harus dibelanjakan pada kebutuhan Anda. Hubungan saya dengan Anda adalah sama dengan Faruq (dengan, Nabi) dan saya siap untuk mengorbankan semua di jalan ini. Mohon didoakan bahwa akhir hidup saya akan seperti Siddiqs (yang benar). "[5]



Kepercayaan  Nuruddin kepada Mirza sangat dalam memang. Kebetulan ketika Mirza menulis Fath-i-Islam dan al-Maram Tawdih seseorang bertanya ke Nuruddih sebelum ia melihat buku-buku ini kalau ada Nabi lain bisa datang setelah Nabi Muhammad SAW. "Tidak", jawabnya. 



"Dan jika seseorang mengaku sebagai nabi?" ia bertanya. 'Nuruddin menjawab bahwa jika seseorang melakukan klaim demikian, akan dilihat apakah dia jujur ​​atau tidak, dan bahwa klaimnya akan diterima jika ia benar. Setelah menceritakan kejadian ini, Nuruddin sendiri menambahkan:

"Ini hanya kasus
kenabian. Keyakinan saya adalah bahwa bahkan jika Al Masih yang Dijanjikan adalah untuk menyatakan dirinya sebagai pembawa, sebuah Syariah dan membatalkan Syariah Quran, saya tidak akan menolak pengakuan itu karena ketika kita menerima dia (yaitu Mirza) sebagai orang yang  jujur ​​dan telah menerima penugasan dari Allah SWT , maka apa pun yang dia katakan harus benar dan kita harus berpikir bahwa ayat (Alquran)yang menyangkut Khatam al Nabiyin (yang terakhir dari para nabi) memiliki arti yang berbeda." [6]

Selama masa hubungannya dengan Istana Jammu, Nuruddin menulis FasL-ul-Khitab dalam empat jilid di bawah bimbingan Mirza di mana ia menyangkal kekristenan.Dia terus memberikan kontribusi yang sangat murah hati pada penerbitan karya-karya dari Mirza dan Mirza cukup sering mengambil sejumlah besar uang sebagai pinjaman dari dia[7] dan memuji dia karena semangat keagamaan  dan kesiapannya untuk membantu tujuan agama dan kemurahan hati-Nya yang besar. 
Bait terkenal dari Mirza tentang Nuruddin adalah:

"B
etapa baiknya apabila setiap orang dalam ummat  adalah Nuruddin;
 Demikianlah jadinya, jika cahaya iman menyala di jantung semua orang. "[8]

Untuk beberapa alasan, terutama
karena intrik-intrik dari para petinggi istana, sikap Maharaja terhadap Nuruddin kemudian berubah. Pada tahun 1893 atau 1894, pengabdiannya untuk Maharaja dihentikan dan Nuruddin kembali ke Bhaira. Setelah sejenak tinggal dan praktek kedokteran di sana ia pindah menetap di Qadian dan mengabdikan hidupnya untuk mendukung Mirza dan menyebarkan gerakannya.

Aksesi Khilafat

Pada kematian Mirza pada tanggal 26 Mei 1908, ia menjadi Khalifah pertama. Para pengikut Mirza menyatakan kesetiaan mereka kepadanya dan memproklamirkannya sebagai "Khalifah Al Masih yang Dijanjikan", dan "Nuruddin Agung." Untuk beberapa waktu Nuruddin tetap ragu apakah ia harus mempertimbangkan orang-orang yang tidak percaya pada kenabian Mirza sebagai kafir. Kemudian, dia merubah pandangannya bahwa mereka adalah orang orang yang kafir[9]. Ada beberapa kontroversi tentang pencalonannya sebagai Khalifah. Beberapa orang sangat menentangnya. Pada satu kesempatan seperti ini ia berkata:



"Kukatakan demi  Tuhan  bahwa Tuhan sendiri yang telah membuat saya Khalifah. Jadi siapa sekarang yang memiliki kekuatan untuk merebut dariku jubah (harfiah: lembar yang menutupi) dari kekhalifahan ini? Ini adalah kehendak Tuhan sendiri dan dalam keadaan sebagai kebijaksanaanNya untuk membuat saya Imam dan Khalifah Anda. Anda dapat menyandangkan  seribu kekurangan padaku,  Hal itu, pada kenyataannya, bukan ditujukan bagi saya, tetapi akan ditujukan ke  Tuhan sendiri yang telah menunjuk saya sebagai Khalifah. "[10]

Pada kesempatan lain ia berkata:
"
Tuhan  telah membuat saya Khalifah Sekarang,. Tidak bisa saya dipecat (dari kekhalifahan) oleh voting  Anda dan tak seorangpun memiliki  kekuatan untuk menyingkirkan saya. Jika Anda memaksa saya lebih jauh, ingat bahwa saya memiliki banyak Khalid bin Walid dalam genggaman saya yang akan mendakwa  Anda sebagaimana (Khalid bin Waild telah mendakwa ) para murtad itu.[11]

Kematian
Nuruddin tetap menjabat Khalifah gerakan Qadiani selama enam tahun. Pada tanggal 13 Maret 1914, ia jatuh dari kuda dan meninggal. Beberapa hari sebelum kematiannya, lidahnya telah berhenti berfungsi[12].  Dia mencalonkan  Bashiruddin Mirza Mahmood, putra sulung Mirza Ghulam Ahmad, untuk menjadi penerusnya sebagai Khalifah.
-
Perangai

Sebuah studi tentang kehidupan Nuruddin menunjukkan bahwa ia memiliki sifat berubah-ubah dan tetap menjadi penderita konflik mental selama sebagian besar masa  hidupnya. Sejak awal dia tunduk pada kecenderungan  " berpikir bebas". Pertama-tama, ia membebaskan diri dari ikatan empat mashab sunah  Muslim dan membawa sifat non-konformisme ke tingkat ekstrim. Lalu kemudian ia berada bawah pengaruh sastra Sir Sayyid Ahmad Khan dan berasimilasi cara berpikirnya.  Saat itu adalah waktu dimana beberapa pengetahuan dasar ilmu fisika menemukan jalannya ke India dan kaum rasionalis di kalangan umat Islam India yang menjadi sangat terkesan oleh itu. Mereka yang soleh berusaha untuk menyelaraskan ajaran Alquran dengan pengetahuan ilmiah. Jika penyelarasan  ini mendapatkan suatu kesulitan, mereka mencoba untuk mengatasinya dengan menawarkan interpretasi yang sangat jauh dari ayat Alquran dan terminologi Alquran. Ajaran Nuruddin tentang  Tafsir , merupakan dari kecenderungan  intelektual ini[13]


Dalam Sirat al-Mahdi, Mirza Bashir Ahmad menulis:

"Pada awalnya Hazrat Nuruddin, Khalifah pertama, sangat dalam dipengaruh oleh cara berpikir dan karya Sir Sayyid Tapi, kemudian, karena kontak dengan Hazrat Sahib, pengaruh ini secara bertahap mereda." [14]



Tetapi studi tentang gagasan gagasannya sendiri serta gagasan gagasan murid-muridnya membuat jelas bahwa baik karena pengaruh ide-ide Sir Sayyid maupun  karena kegemarannya sendiri, ia tetap sama sepanjang hidupnya. Pikirannya telah terbentuk menjadi sebuah bingkai kaku dan sikap mentalnya telah menjadi terlalu keras untuk berubah.



Sebuah penelitian yang lebih cermat tentang kehidupannya mengungkapkan bahwa seiring dengan pencerahan dan rasionalisme dalam dirinya, ada unsur takhayul yang kuat dalam kepribadiannya.Dengan segala non-konformisme dan rasionalismenya, dia sangat mementingkan 'mimpi-mimpi' dan 'wangsit-wangsit'. Kalau diamati , tidak jarang orang yang  membela kebebasan intelektual, bahkan, mendukung pemberontakan intelektual, juga memiliki sifat ketahayulan  yang melekat. 

Kerangka pikiran mereka pada dasarnya pemaaf( apologetik). Orang-orang seperti ini terus mengibarkan panji panji  pemberontakan terhadap lembaga-lembaga atau pribadi-pribadi tertentu sepanjang hidup mereka , tetapi, pada saat yang sama, ketika mereka mengabdikan diri mereka kepada seseorang, kekuatan  bebas berpikir dan penilaian independen mereka benar-benar lumpuh. Hidup manusia adalah kombinasi yang aneh dari aksi dan reaksi, dan kepribadian merupakan  sebuah kompleks penyimpangan, dari,bahkan, unsur-unsur yang saling bertentangan. Tidak ada yang lebih sulit dari  memahami dan menganalisis dorongan hati dari kepribadian seseorang.





[1] Hakim berarti seorang dokter yang melakukan  praktik sistem obat obatan  tradisional Yunani-Arab.
[2] Ini didasarkan pada karya Akbar Shah Khan Najibabadi : al-raqzn Mirqt al- Yaqin fi  Hayat-i Nuruddin “. Najibabadi adalah seorang murid dari Hakim. Rincian rincian riwayat hidup ini  diceritakan  kepadanya oleh Hakim sendiri pada saat Najibabadi adalah murid serta pengikutnya yang taat.
[3] Sebuah anekdot menarik adalah terkait dalam hubungan ini, yang diriwayatkan oleh Nuruddin sendiri. Pada saat hendak pergi menuju dua kota suci (Mekkah dan Madinah), ia meminta Maulana Abdul Qayyum untuk membekalinya beberapa nasihat. Dia berkata, "Jangan menjadi Tuhan atau Nabi."  Abdul Qayyum menjelaskan bahwa dengan 'tidak menjadi Tuhan apa yang ia maksudkan adalah bahwa, jika ada keinginannya yang membuat dia putus asa, ia tidak harus merasa sangat sedih, karena untuk dapat melakukan apa yang seseorang suka adalah hanya hak Tuhan  saja; dengan 'tidak menjadi Nabi' ini berarti bahwa jika orang menolak fatwanya, ia tidak harus menganggap mereka untuk dikutuk ke neraka , karena hanya  ketidaktaatan terhadap Nabi lah yang membuat seseorang terkutuk masuk neraka (Mirqat al-Yaqin, hal 79).

[4] Mirqat al- Yaqin  fi hayati- Nuruddin hal 95-97
[5] Mirqat al- Yaqin  fi hayati- Nuruddin hal 17-18
[6] Sirat al-Mahdi, hal. 96-99

[7] Maktubat-i-Ahmadiyah, jilid 5, lihat; Surat surat kepada Nuruddin.
[8] Mirqat al- Yaqin  fi hayati- Nuruddin
[9] Lihat Mirza Bazir Ahmad, Kalimat al-Fasl, bagian 6.
[10] Tinjauan Agama-agama, Qadian, jilid 14 No 6, hal 234 "dikutip dari Ilyas Barni dalam  buku Qadiyani Mazhab”.

[11] .Tashkhiz al-Azhan, jilid. 9 No 11 dikutip oleh Barni dalam Qadiyani Mazhab.

[12] Harian Al-Fazl, Qadian, 23 Februari, 1932, (dikutip pada Qadiani Mazhab)
[13] Sebuah contoh yang baik dari cara berpikirnya ditemukan dalam tafsir ( penjelasan Al Qur’an) dari muridnya:  Maulana Muhammad Ali dari Lahore. Tafsir ini tersedia dalam bahasa Inggris serta bahasa Urdu.

[14] Sirat al-Mahdi, jilid 1,. hal. 159.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar