BAB -3 - SAINT PAUL NYA
SEKTE QADIANI ( TANGAN KANAN MIRZA)
Kelahiran dan Pendidikan Dasar
Hakim[1] Nuruddin Bhairawi menempati kedudukan
istimewa penting dalam sejarah sekte Qadiani, Hanya
satu tingkat lebih rendah dengan pendirinya. Bahkan, beberapa pengamat berpandangan bahwa Hakim yang
disebutkan ini adalah otak sebenarnya di balik pergerakan ini, bahwa arus intelektual dari gerakan
ini muncul dari pikirannya.
Hakim Nuruddin Bhairawi dengan putranya Abdul Hayy
Kelahiran dan Pendidikan Dasar
Hakim Nuruddin dilahirkan pada
tahun 1258 H (1841M) di Bhaira (
Bhera), Distrik Sargodha, Punjab[2]. Jadi pada tahun 1857, ia berusia
16 tahun, dan
lebih muda dari Mirza hanya satu atau dua tahun. Ayahnya, Hafiz Ghulam Rasul,
adalah seorang imam di sebuah masjid di Bhaira, dan merupakan Faruqi secara
keturunan.
Pendidikan dini Hakim berlangsung di rumah desa-nya.Dia membaca buku-buku tentang Fiqh dalam bahasa Punjabi di bawah bimbingan ibunya. Lalu ia pergi ke Lahore.Ia diajarkan bahasa Persia oleh Munshi Qasim Kashmir dan belajar kaligrafi dari Mirza Irhim Dayrawi. Tetapi ke dua nya tidak membuatnya tertarik. Kedua guru itu dari aliran Syiah. Pada tahun 1272 H atau 1855 M, ia kembali ke rumah dan tinggal selama beberapa waktu ,belajar di bawah bimbingan Mian Haji Sharfuddin. Di sekitar waktu inilah ia mulai mempelajari bahasa Arab secara sistematis.
Di bawah pengaruh seorang penjual buku yang termasuk dalam gerakan Sayyid Ahmad Shahid, ada muncul dalam dirinya keinginan untuk menerjemahkan Al-Qur'an, dan dengan bersemangat ia membaca Taqwiyatul Iman dan Mashziriq-al-Anwar.
Sebentar kemudian, ia kembali ke Lahore dan memperoleh beberapa pengetahuan Kedokteran. Sementara masa pendidikan berada di tahap yang sangat lanjut, ia mendapat pekerjaan pada Sekolah Normal, Rawalpindi. Di sana ia mengajar Persia dan pada saat yang sama belajar Aritmatika dan Geografi dari guru lain. Setelah lulus ujian tahsil, ia menjadi kepala sekolah di Pind Dadan Khan dan sekali lagi melanjutkan pelajaran bahasa Arab. Setelah empat tahun, ia berhenti mengabdi dan mulai mencurahkan seluruh waktunya untuk studi sendiri. Untuk beberapa waktu, ia belajar di bawah Maulavi Ahmaduddin (yang dikenal sebagai Qazi Buggiwale Sahib). Kemudian, kecintaanya untuk pengetahuan membuatnya bepergian ke beberapa bagian India.
Di Rampur, ia melanjutkan pendidikan-pendidikannya, mempelajari Misykat al-Masbih dibawah bimbingan Maulana Hasan Shah, Sharah-i-Wiqayah di bawah bimbingan Maulavi Azizullah Afgbani, Ushul al-Shashi dan Maibazi , dibawah bimbingan Maulina Irshid Husain, Diwan al-Mutanabbi di bawah bimbingan Maulavi Sa "Dullah, Sadra, dll, di bawah bimbingan Maulavi 'Abd al-'Ali, dan kitab-kitab yang lebih tinggi tentang logika seperti karya Mir Zahid :”Risalah” dan Mir Zahid ala Mulla Jalal, dengan setengah hati.
Pendidikan dini Hakim berlangsung di rumah desa-nya.Dia membaca buku-buku tentang Fiqh dalam bahasa Punjabi di bawah bimbingan ibunya. Lalu ia pergi ke Lahore.Ia diajarkan bahasa Persia oleh Munshi Qasim Kashmir dan belajar kaligrafi dari Mirza Irhim Dayrawi. Tetapi ke dua nya tidak membuatnya tertarik. Kedua guru itu dari aliran Syiah. Pada tahun 1272 H atau 1855 M, ia kembali ke rumah dan tinggal selama beberapa waktu ,belajar di bawah bimbingan Mian Haji Sharfuddin. Di sekitar waktu inilah ia mulai mempelajari bahasa Arab secara sistematis.
Di bawah pengaruh seorang penjual buku yang termasuk dalam gerakan Sayyid Ahmad Shahid, ada muncul dalam dirinya keinginan untuk menerjemahkan Al-Qur'an, dan dengan bersemangat ia membaca Taqwiyatul Iman dan Mashziriq-al-Anwar.
Sebentar kemudian, ia kembali ke Lahore dan memperoleh beberapa pengetahuan Kedokteran. Sementara masa pendidikan berada di tahap yang sangat lanjut, ia mendapat pekerjaan pada Sekolah Normal, Rawalpindi. Di sana ia mengajar Persia dan pada saat yang sama belajar Aritmatika dan Geografi dari guru lain. Setelah lulus ujian tahsil, ia menjadi kepala sekolah di Pind Dadan Khan dan sekali lagi melanjutkan pelajaran bahasa Arab. Setelah empat tahun, ia berhenti mengabdi dan mulai mencurahkan seluruh waktunya untuk studi sendiri. Untuk beberapa waktu, ia belajar di bawah Maulavi Ahmaduddin (yang dikenal sebagai Qazi Buggiwale Sahib). Kemudian, kecintaanya untuk pengetahuan membuatnya bepergian ke beberapa bagian India.
Di Rampur, ia melanjutkan pendidikan-pendidikannya, mempelajari Misykat al-Masbih dibawah bimbingan Maulana Hasan Shah, Sharah-i-Wiqayah di bawah bimbingan Maulavi Azizullah Afgbani, Ushul al-Shashi dan Maibazi , dibawah bimbingan Maulina Irshid Husain, Diwan al-Mutanabbi di bawah bimbingan Maulavi Sa "Dullah, Sadra, dll, di bawah bimbingan Maulavi 'Abd al-'Ali, dan kitab-kitab yang lebih tinggi tentang logika seperti karya Mir Zahid :”Risalah” dan Mir Zahid ala Mulla Jalal, dengan setengah hati.
Pada saat ini, ia dengan bersemangat mendukung Ismail Shahid dan kadang-kadang biasa berbicara dengan gurunya dengan sangat berani.
Dari Rampur, ia pindah ke Lucknow dan mulai belajar kedokteran di bawah bimbingan seorang dokter terkenal, Hakim Ali Husain. Ketika Ali Husain pergi ke Rampur atas undangan Nawab Kalb-i-Ali Khan dari Rampur, Nuruddin menemaninya. Selama tinggal di Rampur lebih lanjut ia belajar sastra di bawah bimbingan Mufti Sa'dullab. Secara keseluruhan dia tinggal dengan Hakim Ali Husain untuk jangka waktu dua tahun dan kemudian pergi ke Bhopal untuk menyelesaikan pendidikan dalam bahasa Arab dan studi Hadis. Bhopal, pada masa itu telah menjadi pusat besar belajar.
Pengayoman Pemerintah atas pengetahuan dan pembelajaran telah menarik sejumlah besar sarjana. Di Bhopal, ia tinggal bersama dan dalam pengayoman Jamaluddin Munshi Khan, seorang yang menjabat Menteri Kepala. Selama tinggal disana, Nuruddin mengambil pelajaran Hadis Shahih Bukhari dan Hidayah dari Maulana Abdul Qayyum (putra Maulana Abdul Hal Burhanwat, yang adalah seorang Khalifah dari Hazrat Sayyid Ahmad Shahid). Dari Bhopal ia melanjutkan kunjungan ke dua kota Suci Mekah dan Madinah, untuk menyelesaikan pendidikan dan juga untuk mencari kesenangan duniawi lainnya[3]
Di Mekah, ia mempelajari
Sunans karya Abu Da'ud dibawah bimbingan
Syaikh
Muhammad Khazraji, Sahih Muslim di
bawah Sayyid Husain dan mulai mempelajari Al-Musallam
al Thubut dibawah bimbingan Maulana Rahmatullah Kayranawi, penulis Izhar al-Haqq. Kadang-kadang, ia terlibat diskusi panas dengan guru dan menunjukkan kecenderungan
tidak kompromi dan punya
rasa percaya diri berlebihan atas kedalaman pandangan dan kecerdasannya sendiri[4]
Di Mekah pula, dia menyelesaikan studinya Abu Daud dan Ibnu Majah di bawah bimbingan Syaikh Muhammad Khazraji. Sementara itu Shah Abdul Ghani Mujaddidi tiba di Mekah. Kemudian, ketika Shah Mujaddidi kembali ke Madinah, Hakim bergabung dengannya dan setelah mengangkat sumpah setia kepadanya ia menjadi muridnya selama enam bulan.
Di Mekah pula, dia menyelesaikan studinya Abu Daud dan Ibnu Majah di bawah bimbingan Syaikh Muhammad Khazraji. Sementara itu Shah Abdul Ghani Mujaddidi tiba di Mekah. Kemudian, ketika Shah Mujaddidi kembali ke Madinah, Hakim bergabung dengannya dan setelah mengangkat sumpah setia kepadanya ia menjadi muridnya selama enam bulan.
Pekerjaan
Setelah melakukan umrah dan mengunjungi Madinah, Nuruddin kembali ke tempat asalnya, Bhaira dan tinggal di sana untuk beberapa waktu. Selama tinggal ia berdebat dengan orang – orang tentang apakah kebiasaan dan adat saat ini sesuai dengan ajaran yang terkandung dalam koleksi Hadis yang ternyata membuat beberapa orang memusuhinya. Hal ini menyebabkan dia sadar akan ketidaktahuan dan stagnasi para awam dan menyadai keunggulan dan keistimewaan intelektualnya sendiri.
Dia juga pergi ke Delhi semasa Durbar diperintah oleh Lord Lytton dan ada bertemu Munshi Jamaluddin Khan, Menteri Kepala Bhopal, yang membawanya ke Bhopal. Setelah tinggal singkat di Bhopal, Nuruddin sekali lagi kembali ke Bhaira dan mulai berlpraktek dokter di sana. Segera reputasinya sebagai dokter yang sukses menyebar dan dia diundang oleh Maharaja Jammu untuk mengabdi sebagai dokter pribadinya. Untuk periode yang cukup lama ia menjabat penguasa Jammu, Poonch dan Kashmir dan menjadi orang yang berpengaruh cukup besar di sana berkat kemampuannya sebagai dokter, dan keluwesannya, pengetahuan dan kecendekiawaiannya. Dia telah menjadi orang kepercayaan yang sangat dekat dengan Maharaja dan, dengan demikian, menjadi sangat berkuasa..
Pengikut Mirza yang berapi api.
Ada banyak kesamaan karakter dan temperamen antara Hakim Nuruddin dan Mirza Ghulam Ahmad. Sulit untuk mengatakan bagaimana cara mereka saling bertemu dulu. Namun pertemuan pertama mereka berlangsung di Qadian tahun 1885. Ketika Mirza menulis Bardhin-i-Ahmadiyah, Nuruddin menulis buku pendukungnya. Kekagumannya pada Mirza begitu meningkat sehingga ia mengambil sumpah setia di tangan dan menerimanya sebagai panduan spiritual, pemimpin, dan berjanji untuk mengikutinya. Surat berikut Nuruddin menunjukkan kedalaman pengikatan dirinya dengan Mirza tersebut.
"Tuanku, panduan saya, pemimpin saya: Assalamu--alaikum wa Rahmat ullah wa barakatuh,
Ini adalah doa saya untuk selalu hadir dihadapan Anda dan untuk belajar dari Anda semua yang mana Imam zaman telah dibuat menjadi mujaddid itu. Jika diizinkan, saya akan mengundurkan diri dari pekerjaan saya dan menghabiskan hari dan malam dalam pelayanan mulia Anda, atau, jika diperintahkan, saya akan melepaskan kegiatan kegiatan saya sekarang dan pergi mengelilingi seluruh dunia, memanggil orang ke agama yang benar dan akan mempertaruhkan nyawa saya untuk tujuan itu. Saya seorang martir dalam cita cita Anda: apa yang saya miliki bukan milik saya, melainkan milik Anda.
Panduan dan wali yang terhormat, dengan ketulusan yang amat sangat saya mengatakan bahwa-jika semua kekayaan dan semua milik saya dikorbankan untuk tujuan khotbah agama, saya akan merasa telah mencapai tujuan hidup saya. Jika para pembeli buku Barahin telah membayar uang muka merasa tidak nyaman pada keterlambatan dalam penerbitan buku ini, silakan mengizinkan saya untuk membuat pelayanan yang rendah hati membayar semua hak mereka dari saku saya.
"Pir dan panduan saya yang terhormat :
Hamba sahaya ini, malu pada dirinya sendiri, mengatakan bahwa jika tawaran ini
diterima itu akan menjadi kesenangan baginya. Yang saya maksud adalah bahwa saya mungkin diizinkan untuk
menanggung seluruh biaya pencetakan Barahin dan bahwa apapun yang di hasilkan
dari
penjualannya, harus dibelanjakan pada kebutuhan Anda. Hubungan saya dengan Anda
adalah sama dengan Faruq (dengan, Nabi) dan saya siap untuk mengorbankan semua di jalan ini. Mohon didoakan bahwa akhir hidup saya akan seperti Siddiqs (yang benar). "[5]
Kepercayaan
Nuruddin kepada Mirza sangat dalam memang. Kebetulan ketika Mirza menulis
Fath-i-Islam dan al-Maram Tawdih seseorang bertanya ke Nuruddih sebelum ia melihat buku-buku
ini kalau ada Nabi lain bisa datang setelah Nabi Muhammad
SAW. "Tidak", jawabnya.
"Dan jika seseorang mengaku
sebagai nabi?" ia bertanya. 'Nuruddin menjawab bahwa jika seseorang melakukan klaim
demikian, akan dilihat apakah dia jujur atau tidak, dan bahwa klaimnya akan
diterima jika ia benar. Setelah menceritakan kejadian ini, Nuruddin sendiri
menambahkan:
"Ini hanya kasus kenabian. Keyakinan saya adalah bahwa bahkan jika Al Masih yang Dijanjikan adalah untuk menyatakan dirinya sebagai pembawa, sebuah Syariah dan membatalkan Syariah Quran, saya tidak akan menolak pengakuan itu karena ketika kita menerima dia (yaitu Mirza) sebagai orang yang jujur dan telah menerima penugasan dari Allah SWT , maka apa pun yang dia katakan harus benar dan kita harus berpikir bahwa ayat (Alquran)yang menyangkut “Khatam al Nabiyin “(yang terakhir dari para nabi) memiliki arti yang berbeda." [6]
Selama masa hubungannya dengan Istana Jammu, Nuruddin menulis FasL-ul-Khitab dalam empat jilid di
bawah bimbingan Mirza di mana ia menyangkal kekristenan.Dia terus memberikan kontribusi yang sangat
murah hati pada penerbitan karya-karya dari Mirza dan Mirza cukup sering
mengambil sejumlah besar uang sebagai pinjaman dari dia[7] dan memuji
dia karena semangat keagamaan dan kesiapannya untuk membantu tujuan agama dan kemurahan hati-Nya yang besar.
Bait terkenal dari Mirza tentang Nuruddin adalah:
"Betapa baiknya apabila setiap orang dalam ummat adalah Nuruddin;
Demikianlah jadinya, jika cahaya iman menyala di jantung semua orang. "[8]
Untuk beberapa alasan, terutama karena intrik-intrik dari para petinggi istana, sikap Maharaja terhadap Nuruddin kemudian berubah. Pada tahun 1893 atau 1894, pengabdiannya untuk Maharaja dihentikan dan Nuruddin kembali ke Bhaira. Setelah sejenak tinggal dan praktek kedokteran di sana ia pindah menetap di Qadian dan mengabdikan hidupnya untuk mendukung Mirza dan menyebarkan gerakannya.
"Betapa baiknya apabila setiap orang dalam ummat adalah Nuruddin;
Demikianlah jadinya, jika cahaya iman menyala di jantung semua orang. "[8]
Untuk beberapa alasan, terutama karena intrik-intrik dari para petinggi istana, sikap Maharaja terhadap Nuruddin kemudian berubah. Pada tahun 1893 atau 1894, pengabdiannya untuk Maharaja dihentikan dan Nuruddin kembali ke Bhaira. Setelah sejenak tinggal dan praktek kedokteran di sana ia pindah menetap di Qadian dan mengabdikan hidupnya untuk mendukung Mirza dan menyebarkan gerakannya.
Aksesi Khilafat
Pada kematian Mirza pada tanggal 26 Mei 1908, ia
menjadi Khalifah pertama. Para pengikut Mirza menyatakan
kesetiaan
mereka kepadanya dan memproklamirkannya sebagai "Khalifah Al Masih yang Dijanjikan", dan
"Nuruddin Agung." Untuk beberapa waktu Nuruddin tetap ragu apakah ia harus
mempertimbangkan orang-orang yang tidak percaya pada kenabian Mirza sebagai kafir. Kemudian, dia merubah pandangannya bahwa mereka adalah
orang orang yang kafir[9]. Ada beberapa kontroversi
tentang pencalonannya sebagai Khalifah. Beberapa orang sangat
menentangnya. Pada satu kesempatan seperti ini ia berkata:
"Kukatakan
demi Tuhan bahwa Tuhan sendiri yang telah membuat saya Khalifah. Jadi
siapa sekarang yang memiliki kekuatan untuk merebut dariku jubah (harfiah: lembar yang
menutupi) dari kekhalifahan ini? Ini adalah kehendak Tuhan sendiri dan dalam
keadaan sebagai kebijaksanaanNya untuk membuat saya Imam dan Khalifah Anda. Anda dapat menyandangkan seribu kekurangan padaku,
Hal itu, pada
kenyataannya, bukan ditujukan bagi saya, tetapi akan ditujukan ke Tuhan sendiri yang telah
menunjuk saya sebagai Khalifah. "[10]
Pada kesempatan lain ia berkata:
"Tuhan telah membuat saya Khalifah Sekarang,. Tidak bisa saya dipecat (dari kekhalifahan) oleh voting Anda dan tak seorangpun memiliki kekuatan untuk menyingkirkan saya. Jika Anda memaksa saya lebih jauh, ingat bahwa saya memiliki banyak Khalid bin Walid dalam genggaman saya yang akan mendakwa Anda sebagaimana (Khalid bin Waild telah mendakwa ) para murtad itu.[11]
"Tuhan telah membuat saya Khalifah Sekarang,. Tidak bisa saya dipecat (dari kekhalifahan) oleh voting Anda dan tak seorangpun memiliki kekuatan untuk menyingkirkan saya. Jika Anda memaksa saya lebih jauh, ingat bahwa saya memiliki banyak Khalid bin Walid dalam genggaman saya yang akan mendakwa Anda sebagaimana (Khalid bin Waild telah mendakwa ) para murtad itu.[11]
Kematian
Perangai
Nuruddin
tetap menjabat Khalifah gerakan Qadiani selama enam tahun. Pada tanggal 13 Maret 1914, ia
jatuh dari kuda dan meninggal. Beberapa hari sebelum kematiannya, lidahnya telah berhenti berfungsi[12]. Dia mencalonkan
Bashiruddin Mirza Mahmood, putra
sulung Mirza Ghulam Ahmad, untuk menjadi penerusnya
sebagai Khalifah.
-Perangai
Sebuah studi tentang kehidupan Nuruddin
menunjukkan bahwa ia memiliki sifat berubah-ubah dan tetap menjadi penderita konflik mental selama sebagian
besar masa hidupnya. Sejak awal dia tunduk
pada kecenderungan " berpikir bebas". Pertama-tama, ia membebaskan
diri dari ikatan empat mashab sunah Muslim dan membawa sifat non-konformisme ke tingkat
ekstrim. Lalu kemudian
ia berada bawah pengaruh sastra Sir
Sayyid Ahmad Khan dan berasimilasi cara berpikirnya. Saat itu
adalah waktu dimana beberapa pengetahuan dasar ilmu fisika menemukan jalannya ke India dan kaum rasionalis di kalangan umat Islam India yang
menjadi sangat terkesan oleh itu. Mereka yang soleh berusaha untuk menyelaraskan
ajaran Alquran dengan pengetahuan ilmiah. Jika penyelarasan
ini mendapatkan
suatu kesulitan, mereka mencoba untuk
mengatasinya dengan menawarkan interpretasi yang
sangat jauh dari ayat Alquran dan terminologi
Alquran. Ajaran Nuruddin tentang
Tafsir , merupakan dari kecenderungan
intelektual ini[13].
Dalam
Sirat al-Mahdi, Mirza Bashir Ahmad menulis:
"Pada awalnya Hazrat Nuruddin, Khalifah
pertama, sangat dalam dipengaruh oleh cara berpikir dan karya Sir
Sayyid Tapi, kemudian, karena kontak dengan Hazrat Sahib, pengaruh ini secara
bertahap mereda." [14]
Tetapi
studi tentang gagasan gagasannya sendiri serta gagasan
gagasan murid-muridnya membuat jelas bahwa baik karena pengaruh ide-ide
Sir Sayyid maupun karena kegemarannya sendiri, ia tetap sama
sepanjang hidupnya. Pikirannya telah terbentuk menjadi sebuah bingkai
kaku dan sikap mentalnya telah menjadi terlalu keras
untuk berubah.
Sebuah
penelitian yang lebih cermat tentang kehidupannya mengungkapkan
bahwa seiring dengan pencerahan dan rasionalisme dalam dirinya, ada unsur
takhayul yang kuat dalam kepribadiannya.Dengan
segala non-konformisme dan rasionalismenya, dia sangat
mementingkan 'mimpi-mimpi' dan 'wangsit-wangsit'. Kalau diamati , tidak jarang orang yang membela kebebasan intelektual, bahkan,
mendukung pemberontakan intelektual, juga memiliki sifat
ketahayulan yang melekat.
Kerangka pikiran mereka pada dasarnya pemaaf( apologetik). Orang-orang seperti ini terus mengibarkan panji panji pemberontakan terhadap lembaga-lembaga atau pribadi-pribadi tertentu sepanjang hidup mereka , tetapi, pada saat yang sama, ketika mereka mengabdikan diri mereka kepada seseorang, kekuatan bebas berpikir dan penilaian independen mereka benar-benar lumpuh. Hidup manusia adalah kombinasi yang aneh dari aksi dan reaksi, dan kepribadian merupakan sebuah kompleks penyimpangan, dari,bahkan, unsur-unsur yang saling bertentangan. Tidak ada yang lebih sulit dari memahami dan menganalisis dorongan hati dari kepribadian seseorang.
Kerangka pikiran mereka pada dasarnya pemaaf( apologetik). Orang-orang seperti ini terus mengibarkan panji panji pemberontakan terhadap lembaga-lembaga atau pribadi-pribadi tertentu sepanjang hidup mereka , tetapi, pada saat yang sama, ketika mereka mengabdikan diri mereka kepada seseorang, kekuatan bebas berpikir dan penilaian independen mereka benar-benar lumpuh. Hidup manusia adalah kombinasi yang aneh dari aksi dan reaksi, dan kepribadian merupakan sebuah kompleks penyimpangan, dari,bahkan, unsur-unsur yang saling bertentangan. Tidak ada yang lebih sulit dari memahami dan menganalisis dorongan hati dari kepribadian seseorang.
[2] Ini
didasarkan pada karya Akbar Shah Khan Najibabadi : “al-raqzn Mirqt al- Yaqin fi Hayat-i Nuruddin “. Najibabadi adalah seorang murid
dari Hakim. Rincian rincian riwayat hidup ini diceritakan kepadanya oleh Hakim sendiri pada saat
Najibabadi adalah murid serta pengikutnya yang taat.
[3] Sebuah
anekdot menarik adalah terkait dalam hubungan ini, yang diriwayatkan oleh
Nuruddin sendiri. Pada saat hendak pergi menuju dua kota
suci (Mekkah dan Madinah), ia meminta Maulana Abdul Qayyum untuk membekalinya beberapa nasihat. Dia berkata, "Jangan
menjadi Tuhan atau Nabi." Abdul Qayyum menjelaskan bahwa
dengan 'tidak menjadi Tuhan apa yang ia maksudkan adalah
bahwa, jika ada keinginannya yang membuat dia putus asa, ia tidak harus merasa sangat
sedih, karena untuk dapat melakukan apa yang seseorang suka adalah hanya
hak Tuhan saja; dengan 'tidak
menjadi Nabi' ini berarti bahwa jika orang
menolak fatwanya, ia tidak harus menganggap mereka untuk dikutuk ke
neraka , karena hanya ketidaktaatan terhadap Nabi lah yang membuat seseorang terkutuk masuk neraka (Mirqat al-Yaqin, hal 79).
[10] Tinjauan
Agama-agama, Qadian, jilid 14 No 6, hal 234 "dikutip
dari Ilyas Barni dalam buku “Qadiyani Mazhab”.
[13] Sebuah
contoh yang baik dari cara berpikirnya ditemukan dalam tafsir (
penjelasan Al Qur’an) dari muridnya: Maulana Muhammad Ali dari Lahore. Tafsir ini tersedia
dalam bahasa
Inggris serta bahasa Urdu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar