Bagian II - Jalan Menuju kenabian
Bab II-1 - Mirza sebagai kampiun Islam
Kita telah mempelajari sejauh ini bagian dari kehidupan Mirza
Ghulam Ahmad, hidupnya di perkampungan di distrik Gurdaspur mana kita
melihatnya tenggelam dalam studi buku-buku agama. Karya-karyanya yang
diterbitkan setelah 1880 menunjukkan bahwa subyek utama dari studinya adalah
beberapa agama yang berlainan, terutama Kristen dan agama-agama India seperti Sanatan Dharma dan Arya Samaj.
Periode ini dikenal karena polemik agama. Orang-orang berpendidikan
waktu itu memiliki kegemaran atas
perdebatan dan kontroversi agama. Kita telah melihat bahwa para
misionaris Kristen sibuk menyebarkan Kristen dan menyangkal Islam. Pemerintah
Inggris, yang secara resmi adalah pembela agama Kristen, melindungi kegiatan
ini, dengan anggapan bahwa India adalah
karunia dari Yesus Kristus. Di sisi lain berdiri para pengkhotbah dari gerakan
Arya Samaj, yang antusias mencoba untuk merongrong Islam.
Inggris yang menyadari kemungkinan berbahaya dari kerukunan
antar-komunal di India, sebuah manifestasi dari mana perjuangan untuk kemerdekaan India tahun 1857
datang, dengan cerdik justru mendorong pertentangan agama. Kepentingan politik
Inggris dilayani oleh pertentangan ini hingga sejauh ini ketika hal-hal
itu menjurus kearah saling kebencian, kebingungan intelektual dan
kekacauan moral di negeri ini sehingga masyarakat religius India mungkin bisa
diarahkan setidaknya untuk menerima
pemerintahan yang berusaha untuk melindungi semua dari mereka dan di
bawah bayang-bayang mana, semua bisa melanjutkan perdebatan suci mereka. Dalam
suasana seperti itu, siapa pun yang tegak membela Islam dan menelanjangi
agama-agama lain dengan sendirinya
menarik perhatian seluruh kaum
Muslim.
Sang Mirza yang ambisius dan berpandangan jauh memilih bidang
ini untuk petualangannya. Dia giat
berkarya untuk menghasilkan sebuah buku tebal untuk menunjukkan, di satu sisi, kebenaran
Islam, asal Ilahi Quran, dan kenabian dari Rasulullah dengan argumen rasional
dan, di sisi lain, untuk menyangkal kekristenan, Sanatan Dharma, Arya Samaj dan
Brahma Samaj dan lain lain. Dia menamakan buku ini: Barahin-i-Ahmadiyah
BUKU BARAHIN DAN TANTANGAN MIRZA
Penulisan Barahin dimulai pada l879[1]. Penulis melakukan pengajuan seratus argumen untuk
mendukung Islam. Dalam melakukan ini, Mirza juga melakukan korespondensi dengan
orang-orang terpelajar lain yang ia minta untuk mengkomunikasikan pandangan mereka untuk
membantu dia dalam usaha ini.
Mereka yang memenuhi permintaan itu termasuk Maulavi Chirdghall,
yang adalah rekan masyhur dari Sir Sayyid Ahmad Khan. Mirza memasukan beberapa artikel dan
penelitian dalam karyanya. Pada akhirnya pekerjaan ini, yang ditunggu
dengan antusias oleh ratusan orang, naik cetak dalam empat jilid.
Seiring dengan penerbitan buku ini, penulis juga mengumumkan
maklumat dalam bahasa Urdu dan bahasa Inggris dan mengirimkannya ke
penguasa-penguasa dan menteri-menteri
Negara, para pendeta Kristen dan
pendeta-pendeta Hindu. Dalam buku ini, Mirza mengumumkan untuk pertama kalinya
bahwa dia telah ditunjuk oleh Tuhan untuk menunjukkan kebenaran Islam dan bahwa
ia siap untuk memuaskan para pengikut agama-agama lain tentang agamanya.
Pengumuman ini dengan pasti menyatakan:
Hamba yang
rendah hati ini (penulis Barahin-i-Ahmadiyah) telah ditunjuk oleh Yang Maha
Kuasa Agung untuk berjuang untuk mereformasi makhluk Allah dan untuk
menunjukkan kepada kaum jahil jalan
lurus (yang mengarah kepada keselamatan sejati dan yang dengan mengikutinya,
cahaya keberadaan surgawi dan kenikmatan dan kerahiman Illahi dapat dialami bahkan di dunia ini)
dengan cara Nabi Israel dari Nazaret (Al Masih) dengan segala kerendahan hati,
penyangkalan dan pengingkaran diri serta
kelembutan. Untuk tujuan ini buku Barahin -i-Ahmadiyah ini ditulis,
dimana tiga puluh tujuh bagiannya telah diterbitkan.
Ringkasan buku
ini bisa dilihat pada maklumat terlampir pada surat ini.Tapi karena publikasi
dari seluruh buku akan memakan waktu yang lama, diputuskan bahwa surat ini
bersama dengan pengumuman dalam bahasa Inggris akan di sebarluaskan dan satu
salinan dari masing-masing dikirim ke imam-imam
terhormat di Punjab, India dan negeri Inggris dan negara-negara lain,
dimana mungkin[2].
Mirza menantang dunia untuk mengajukan buku manapun yang bisa disetarakan dengan
bukunya ini dan mengundang wakil-wakil dari agama-agama lain untuk membuktikan
kebenaran agama-agama mereka dengan jumlah argument yang sama atau bahkan lebih
sedikit dari argumen yang dia ajukan.
Dia menulis:
Saya, penulis
buku ini, Barahin-i-Ahmadiyah, membuat pengumuman ini dengan janji untuk
membuat hadiah 10.000 rupee bagi para pengikut dari semua keyakinan dan semua
agama, yang menyangkal kebenaran dari Al-Quran yang Mulia dan kerasulan Muhammad
SAW. Dan untuk mendukung itu saya mengikatkan diri untuk melakukan
tindakan hukum formal dan sumpah Syariah bahwa, jika salah satu dari para
penyangkal dapat menunjukkan bahwa kitab suci mereka memiliki bahasan sebanyak
dan sedalam seperti yang ditemukan dalam
Al-Qur'an dan yang telah kami sebutkan di sini untuk menunjukkan kebenaran dari
Pesan Agung dan kebenaran Kerasulan dari Khatim al-Ambiya (syukur dan salam
Allah besertanya) yang telah diturunkan dari Kitab Suci (Quran) sendiri; atau
jika mereka tidak bisa maju dengan jumlah argumen yang sama, yaitu setengah,
atau sepertiga, atau seperempat, atau seperlima dari jumlah argumen kami, atau
jika mereka mendapatkan bahwa tidak mungkin, maka setidaknya untuk membantah
argumen kita satu demi satu- kemudian, dalam hal yang manapun, asal tiga
penulis buku yang diterima oleh kedua belah pihak, secara aklamasi menyatakan
pandangan bahwa persyaratan telah
dipenuhi seperti yang seharusnya
dipenuhi, pembuat pengumuman ini harus
menyerahkan kepada penerima tantangan ini
tanpa alasan atau keraguan , penguasaan dan kepemilikan harta miliknya senilai Rupee
10.000[3].
Mirza menyerukan kepada kaum Muslimin untuk mengeluarkan sumbangan uang untuk pengabdian besar ini , yang akan dia tujukan bagi cita cita Islam dan dia akan turut serta dengan murah hati di dalamnya [4].
Tampaknya,
tanggapan kaum Muslimin atas seruan ini tidak begitu antusias
seperti yang Mirza harapkan. Dalam jilid Barahin
selanjutnya , ia menyatakan kesedihannya atas kurangnya antusiasme ini.
Pengumuman yang menjadi kata pengantar dari buku ini menjadi
penting. Di dalamnya, kita menemukan beberapa tanda
tanda dari kekuatan-kekuatan pendorong dibelakang
kepribadian
Mirza. Di dalamnya, kita melihat kebiasaannya untuk
membual dan penyanjungan diri dan keyakinannya pada “tanda-tanda surgawi " sebagai dasar untuk klaimnya dan sebagai
sarana untuk membujuk masyarakat. Seiring dengan semua itu,
pernyataan-pernyatan itu tak salah lagi menyerbakkan
bau
mentalitas komersialnya[5]
Berkhotbah dan Politik
Dalam jilid ketiga dan keempat Barahin-i-Ahmadiyah, Mirza secara terbuka memuji pemerintah Inggris dan disebutkan panjang lebar tindakan kebajikan mereka terhadap Muslim padai bagian -bagian yang berjudul, “Sebuah Himbauan Penting bagi Organisasi organisasi Islam: Kondisi Genting Kaum Muslim dan Pemerintahan Kolonial Inggris. " Dalam himbauan ini dia, mendesak semua Organisasi Islam untuk menyiapkan memorandum bersama dan mengirimkannya kepada pemerintah dengan tanda tangan dari semua Muslim terkemuka. Dia juga mengingatkan tentang jasa yang diberikan oleh keluarganya ke Pemerintah Kolonial Inggris dan menekankan ketidak toleranan pemerintah kolonial Inggris atas Jihad[6]
Dalam jilid ketiga dan keempat Barahin-i-Ahmadiyah, Mirza secara terbuka memuji pemerintah Inggris dan disebutkan panjang lebar tindakan kebajikan mereka terhadap Muslim padai bagian -bagian yang berjudul, “Sebuah Himbauan Penting bagi Organisasi organisasi Islam: Kondisi Genting Kaum Muslim dan Pemerintahan Kolonial Inggris. " Dalam himbauan ini dia, mendesak semua Organisasi Islam untuk menyiapkan memorandum bersama dan mengirimkannya kepada pemerintah dengan tanda tangan dari semua Muslim terkemuka. Dia juga mengingatkan tentang jasa yang diberikan oleh keluarganya ke Pemerintah Kolonial Inggris dan menekankan ketidak toleranan pemerintah kolonial Inggris atas Jihad[6]
Dengan demikian kita menemukan bahwa bahkan karya pertama dari
Mirza tidak bebas dari puji-pujian kepada pemerintah kolonial
Inggris atau dari peringatan politik bagi umat Islam untuk tetap setia
kepada Inggris.
Karya Besar
Karya Besar
Mirza menulis buku ini dari
tahun1880 hingga
tahun 1884. Setelah penerbitan jilid keempat ada
jeda panjang, sedang jilid kelima dan terakhir muncul pada
tahun 1905, dua puluh lima tahun penuh sejak dimulainya penulisan[7].
Dalam jilid kelima penulis menyebutkan bahwa penerbitan
jilid terakhir telah
tertunda selama dua puluh tiga
tahun[8]. Selama periode ini sejumlah
besar orang yang telah membayar di muka untuk semua lima jilid, tetapi hanya
menerima empat jilid telah meninggal dunia. Beberapa orang lain yang telah membayar di muka telah mencela dan menyesalkan
ini karena tidak mendapat jilid yang dijanjikan untuk
mana Mirza mengajukan
permohonan maaf dalam jilid kelima.
Dalam buku ini, ia juga menyebutkan bahwa sebelumnya telah ada dalam pikirannya untuk mengemukakan
300 bahasan
untuk membuktikan kebenaran Islam, namun
kemudian ia membuang gagasan tersebut. Hal yang sama juga
terjadi pada jumlah jilid. Bukan lima puluh jilid , yang akan ditulis
namun hanya lima jilid. Alasan untuk perubahan pikiran ini adalah bahwa perbedaan diantara dua angka itu ( 500
dan 50) hanya pada angka nol.
Dalam kata katanya sendiri:
Sebelumnya
saya berpikir untuk menulis 50 jilid, tetapi sekarang saya telah membatasi diri
untuk menulis lima karena perbedaan antara angka lima puluh dan lima hanya satu
titik (dalam angka Arab titik adalah nol/penterjemah). Dengan demikian janji telah dipenuhi dengan diterbitkannya lima jilid. [9]
Dalam Sirat al-Mahdi,
Mirza Bashir Ahmad menulis:
Sekarang empat jilid Barahin-i-Ahmadiyah telah keluar cetak, kata pengantar dan catatan-catatan
semua berhubungan dengan waktu penerbitan
dan sangat
sedikit berisi karya dari versi asli, yaitu, tidak lebih dari
beberapa halaman. Hal ini dapat diukur dari fakta bahwa dari 300 argumen yang ia telah tulis Barahin-i-Ahmadiyah hanya
berisi satu argumen dan itu juga tidak dalam bentuk lengkap. " [10]
Siapapun yang mempelajari Barahin-i-Ahmadiyah pasti akan terkesan oleh, produktifitas
penulis, ketekunan dan
kerajinannya.Kebajikan-kebajikan ini,pada keadaan terbaiknya, bisa berguna baginya untuk menjadi pendebat sukses dan penulis handal tentang
polemik agama dengan umat Kristen dan Arya Samajis. Dalam karya besar ini, bagaimanapun
juga, kita
tidak menemukan hasil penelitian yang berharga. Juga tidak seseorangpun menemukan kedekatan dengan sumber-sumber Kristen,
sastra kuno, doktrin-doktrin dan sejarah, dan pemahaman dari konsep dasar,
seperti yang bisa dijumpai, misalnya, dalam karya Maulana Rahmatuillah Kayranwi (wafat 1309 H / 1891 M ), penulis lzhar al-Haqq dan al-Awham
Izalat.
Juga kita tidak menemukan bahwa manisnya dan
keanggunan ekspresi, dan orisinalitas dan kecemerlangan argumentasi yang bisa
ditemukan dalam karya-karya seperti Maulana Muhammad Qasim Nanotawi (wafat 1297 H / 1879 M) Taqrlr Dilpizir dan-Hujjat al-IsiFim.
Wahyu-wahyu dan Bual[11]
Pembaca juga sering mendapatkan dalam buku Mirza acuan acuan pada wahyu yang dia dapat, mukjizat-mukjizat dan komunikasi ilahi dan nubuat, dan, terakhir namun bukan yang terkecil, pembualan nya. Semua ini meninggalkan rasa tidak enak di mulut dan menjadikan buku yang tadinya diklaim untuk mewujudkan sebuah diskusi akademik yang santun dan debat agama yang bermartabat, menjadi sebuah karya pembualan pribadi - sebuah karya di mana, lagi dan lagi, penulis merendah untuk mengiklankan dan pemuliaan diri.
Tema sentral dari buku ini adalah bahwa inspirasi Ilahi tidak pernah berhenti dan tidak harus berhenti. Inspirasi itu sendiri adalah bukti paling kuat dari keberlakuannya klaim dan kebenaran agama dan iman. Siapa pun yang akan mentaati Nabi Muhammad SAW secara sempurna akan diberkahi dengan pengetahuan eksternal dan internal yang telah diberikan awalnya kepada para nabi, dan orang itu akan, oleh karena itu, menjadi memiliki pasti pengetahuan yang kategoris. Pengetahuan intuitif dari orang orang semacam itu akan menyerupai pengetahuan para nabi. Orang-orang inilah yang telah disebut sebagai l Amsal dalam Hadis dan Siddiq dalam Al Quran. Waktu Munculnya mereka akan menyerupai waktu kedatangan para nabi. Orang-orang semacam inilah
Pembaca juga sering mendapatkan dalam buku Mirza acuan acuan pada wahyu yang dia dapat, mukjizat-mukjizat dan komunikasi ilahi dan nubuat, dan, terakhir namun bukan yang terkecil, pembualan nya. Semua ini meninggalkan rasa tidak enak di mulut dan menjadikan buku yang tadinya diklaim untuk mewujudkan sebuah diskusi akademik yang santun dan debat agama yang bermartabat, menjadi sebuah karya pembualan pribadi - sebuah karya di mana, lagi dan lagi, penulis merendah untuk mengiklankan dan pemuliaan diri.
Tema sentral dari buku ini adalah bahwa inspirasi Ilahi tidak pernah berhenti dan tidak harus berhenti. Inspirasi itu sendiri adalah bukti paling kuat dari keberlakuannya klaim dan kebenaran agama dan iman. Siapa pun yang akan mentaati Nabi Muhammad SAW secara sempurna akan diberkahi dengan pengetahuan eksternal dan internal yang telah diberikan awalnya kepada para nabi, dan orang itu akan, oleh karena itu, menjadi memiliki pasti pengetahuan yang kategoris. Pengetahuan intuitif dari orang orang semacam itu akan menyerupai pengetahuan para nabi. Orang-orang inilah yang telah disebut sebagai l Amsal dalam Hadis dan Siddiq dalam Al Quran. Waktu Munculnya mereka akan menyerupai waktu kedatangan para nabi. Orang-orang semacam inilah
Dalam ikhtiarnya
membuktikan keberlanjutan
dari wahyu ini, ia mengutip ilhamnya sendiri dan menulis:
Kami memiliki beberapa contoh wahyu ini sebelum kita. Tetapi dalam salah satu yang, terjadi sekarang pada saat menulis catatan ini di bulan Maret 1882, telah turun sebagai sebuah nubuat bahwa melalui buku ini dan ketika mengetahui isinya , lawan pada akhirnya akan dikalahkan, bahwa para pencari kebenaran akan mendapatkan hidayah sejati; penyimpangan iman akan tercabut, dan orang akan membantu dan mengalihkan perhatian mereka mereka pada saya dan datang mengerumuni saya, dst…..dst…, karena Tuhan akan menempatkan ini ke dalam hati mereka dan mengarahkan mereka ke ini [13]
Kami memiliki beberapa contoh wahyu ini sebelum kita. Tetapi dalam salah satu yang, terjadi sekarang pada saat menulis catatan ini di bulan Maret 1882, telah turun sebagai sebuah nubuat bahwa melalui buku ini dan ketika mengetahui isinya , lawan pada akhirnya akan dikalahkan, bahwa para pencari kebenaran akan mendapatkan hidayah sejati; penyimpangan iman akan tercabut, dan orang akan membantu dan mengalihkan perhatian mereka mereka pada saya dan datang mengerumuni saya, dst…..dst…, karena Tuhan akan menempatkan ini ke dalam hati mereka dan mengarahkan mereka ke ini [13]
-----------------------------------------------------11Agustus 2011 jam
8:32 pagi
Dalam bukunya pernyataan diatas ini telah diikuti oleh ilham yang
berkepanjangan yang baru saja
diterima saat itu yang mana
merupakan kumpulan
beberapa ayat-ayat Alquran yang hampir sama sekali tidak saling
terpaut. Ilham ini mencakup sekitar empat
puluh bait Barahin dan berisi
sekitar lima puluh tiga atau lima puluh empat ayat Quran, diselingi dengan
beberapa hadis Nabi. Selain itu, ada beberapa kalimat oleh Mirza sendiri yang
merupakan contoh dari apa yang mungkin disebut sebagai kata
kata Arab yang
diadopsi kedalam bahasa India secara buruk. Bait
bait terakhir dari ilham yang berisi ayat-ayat Alquran dalam
bagian ( proporsi) yang lebih kecil, berbunyi sebagai berikut:
Hidup di dunia ini adalah seperti orang asing atau musafir. Menjadi salah satu dari yang benar dan yang jujur. Tawarankan apa apa yang baik dan larang apa pun yang buruk dan berilah salam hormat untuk Muhammad dan keturunannya.Sholat sendiri mengasuh seseorang. Sesungguhnya Aku akan membangkitkan engkau menuju kediriKu dan Aku telah menempatkan rahmatKu (dalam hati orang-orang). Tidak ada Tuhan selain Allah. Jadi, tulislah dan sebarluaskan ke seluruh dunia. Peganglah ketauhidan ( dari Tuhan), Ke tauhidan Tuhan , Wahai bangsa Iran dan beri kabar gembira kepada mereka yang percaya bahwa mereka memiliki kedudukan di sisi Tuhan mereka dan bacakan dengan keras kepada mereka apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu Dan janganlah memasamkan wajah mu bagi makhluk Tuhan dan janganlah kau jemu dengan mereka. Kaum al-Suffah. Dan siapakah kaum al-Suffah? Engkau melihat mata mereka basah dengan air mata dan mereka akan mengirim salam mereka kepadamu.Wahai Tuhan kami! Kami mendengar bentara memanggil menuju keyakinan, suatu panggilan menuju Allah, lampu yang cemerlang. Berharaplah! [14]
--------------------------------------------------------------------13Ag2011 3:09 pagi.
Hidup di dunia ini adalah seperti orang asing atau musafir. Menjadi salah satu dari yang benar dan yang jujur. Tawarankan apa apa yang baik dan larang apa pun yang buruk dan berilah salam hormat untuk Muhammad dan keturunannya.Sholat sendiri mengasuh seseorang. Sesungguhnya Aku akan membangkitkan engkau menuju kediriKu dan Aku telah menempatkan rahmatKu (dalam hati orang-orang). Tidak ada Tuhan selain Allah. Jadi, tulislah dan sebarluaskan ke seluruh dunia. Peganglah ketauhidan ( dari Tuhan), Ke tauhidan Tuhan , Wahai bangsa Iran dan beri kabar gembira kepada mereka yang percaya bahwa mereka memiliki kedudukan di sisi Tuhan mereka dan bacakan dengan keras kepada mereka apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu Dan janganlah memasamkan wajah mu bagi makhluk Tuhan dan janganlah kau jemu dengan mereka. Kaum al-Suffah. Dan siapakah kaum al-Suffah? Engkau melihat mata mereka basah dengan air mata dan mereka akan mengirim salam mereka kepadamu.Wahai Tuhan kami! Kami mendengar bentara memanggil menuju keyakinan, suatu panggilan menuju Allah, lampu yang cemerlang. Berharaplah! [14]
--------------------------------------------------------------------13Ag2011 3:09 pagi.
Dengan cara yang sama, ilham
yang sama dimunculkan lagi dalam jilid keempat dari buku yang sama. Ilham
ilham ini juga adalah kumpulan
yang dari ayat-ayat Alquran dan penegasan
Qur’ani yang tidak saling berpaut. Buku ini juga mengandung beberapa kesalahan yang sangat
jelas dari bahasa Arab dan tata bahasa Arab (yang telah ditunjukkan oleh
kami /penulis/ dengan tanda tanya):
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah seperti
seharusnya seorang beriman”, mereka berkata: Haruskah kita beriman seperti mereka percaya kepada yang bodoh? Hati-hati ! Mereka sendirilah yang bodoh, namun mereka tak menyadari dan berharap bahwa Anda harus berkompromi dengan mereka(?) katakanlah: Orang kafir, aku tidak menyembah yang kamu sembah. Dikatakan kepadamu “ berpalinglah
keTuhan” tetapi kamu tidak berpaling, dan dikatakan kepada
Anda, tundukkanlah jiwa Anda, tetapi
Anda tidak
menundukkannya.
Apakah engkau meminta imbalan dari
mereka yang merasa
terbebani (dalam menerima pesan Anda).
Tidak, kami membawa kebenaran kepada mereka(secara cuma
cuma) dan itu adalah Kebenaran yang mereka benci. Allah adalah murni dan bebas dari apa pun yang mereka persangkakan(
attribute). Apakah orang berpikir bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan: Kami percaya, dan
mereka tidak di uji? Orang-orang ini
suka dipuji
atas perbuatan yang tidak
mereka lakukan, sementara tidak ada yang tersembunyi dari Allah dan tidak ada yang baik yang Tuhan tidak membuatnya baik
dan tidak
ada yang dapat memulihkan karunianya Nya yang telah jatuh dari kasih karunia-Nya. [15]
Keyakinan
Mirza atas Barahin
Dalam empat jilid dari
Barahin (diterbitkan 1880-1884), Mirza hanya mengemukakan
sekedar pandangan bahwa ilham (inspirasi Ilahi) tidak berhenti dan tidak
akan berhenti, dan bahwa warisan para nabi terus berlanjut
dalam hal
pemahaman ilhami tentang sesuatu, sehubungan dengan pencerahan iman dan pengetahuan mutlak
(kategoris). Dalam buku ini dia juga sering
menyebutkan bahwa akan telah ditugaskan oleh Tuhan untuk mengubah dunia dan menyebarkan
pesan-pesan Islam, bahwa dia mujaddid (ahli memperbarui) untuk zaman sekarang,
dan bahwa ia memiliki kemiripan dengan Yesus (damai padanya ). [17] Dalam buku ini ia juga menganut
gagasan kenaikan Yesus ke surga dan bahwa akan akan kembali ke bumi. Dalam
lampiran untuk bukunya , Nuzul al-Masih, diterbitkan pada tahun
1902, dan dalam jilid 5 Barahin, yang terbit pada tahun 1905, Mirza
mengakui bahwa ia menganut pandangan di atas dan bahkan
telah menyatakan keterkejutannya karena kepercayannya pada kenaikan dan kembalinya Yesus.[18]
Dalam Barahin dia juga sangat menolak ide dari
setiap wahyu segar dan munculnya setiap Nabi baru. Alasan keyakinan ini adalah
bahwa Al-Quran dan ajaran-ajarannya tidak berada dalam bahaya penyimpangan
juga tidak ada bahaya kembalinya
muslim ke kebodohan dan paganisme masa
sebelum Islam.
Sebalikna
“ sikap orang musyrik, karena kontak dengan monoteis, secara bertahap cenderung bergerak
menuju ke ketauhidan. Itulah hal yang sebenarnya. Bahwa bahaya utama yang
mana wahyu
dan kenabian
yang hendak dicegah tidak lagi nyata - tidak ada kebutuhan untuk
Syariah baru atau ilham ( inspirasi) segar. Ini juga yang
melahirkan kekhataman kenabian dengan munculnya
Nabi Muhammad S.A.W:
"Sekarang, karena secara rasional tidak mungkin dan tak terbayangkan bahwa ajaran-ajaran benar dari Furqan Agung akan disimpangkan atau diubah, atau kegelapan musyrik dan penyembahan makhluk Allah akan mendominasi lagi, juga secara akal sehat tak terbayangkan bahwa harus ada Syariah baru, atau menurunkan lagi ilhan baru. Karena, yang mengarah ke kemustahilan itu secara diri sendiri juga tidak mungkin. Dengan demikian, terbukti, bahwa Nabi Muhammad S.A.W , dalam kenyataannya adalah yang terakhir dari para nabi.[19]
"Sekarang, karena secara rasional tidak mungkin dan tak terbayangkan bahwa ajaran-ajaran benar dari Furqan Agung akan disimpangkan atau diubah, atau kegelapan musyrik dan penyembahan makhluk Allah akan mendominasi lagi, juga secara akal sehat tak terbayangkan bahwa harus ada Syariah baru, atau menurunkan lagi ilhan baru. Karena, yang mengarah ke kemustahilan itu secara diri sendiri juga tidak mungkin. Dengan demikian, terbukti, bahwa Nabi Muhammad S.A.W , dalam kenyataannya adalah yang terakhir dari para nabi.[19]
Sambutan Atas Buku Ini:
Tampaknya buku itu disambut antusias di kalangan/lingkaran agama dan akademis diseluruh
negeri. Memang karya ini sangat diperhitungkan
waktu penerbitannya
dan Mirza,
serta teman-temannya, menerbitankannya dengan semangat yang besar. Rahasia kesuksesan buku
tampaknya terletak pada kenyataan bahwa buku
itu menantang agama-agama lain, bukannya meminta maaf atas nama Islam, tetapi
mengambil sikap ofensif terhadap mereka. Diantara
kalangan atas yang antusias mendukung buku
ini adalah , Maulana Muhammad Husain Batalawi. Dalam majalahnya Isha al-Sunnah, ia menulis review panjang memuji buku di enam edisi majalah. [20] Dalam review ini, buku itu habis
habisan dipuja dan dipuji sebagai prestasi akademik besar saat itu, sebuah
adikarya
penelitian dan penulisan.Tidak begitu lama kemudian, Maulana merasa
khawatir dengan klaim besar dan 'inspirasi' dari Mirza dan, kemudian, menjadi
salah satu lawan gigihnya. Di sisi lain, ada banyak orang
yang dikhawatirkan bahkan oleh buku pertamanya dan yang mulai
merasakan bahwa penulisnya telah menetapkan dirinya di jalur yang akan menuntun dia, dalam
waktu dekat, mengklaim kenabian bagi dirinya sendiri. Diantara orang-orang berpandangan
jauh ini adalah dua putra dari almarhum
Maulana Abdul
Qadir Ludbianawi yakni Maulana Muhammad dan Maulana Abdul 'Aziz.
Para ahli
hadis “ ulama” dari Amritsar dan beberapa ulama dari keluarga
Ghaznawi menentang dia dari awal dan mencela wahyu Mirza sebagai fantasi.[21]
Buku ini menempatkan Mirza di panggung kemasyhuran dari
ketidak terkenalan, sehingga semua mata
memandang ke arahnya.Dalam Sirat al-Mahdi, Mirza Bashir Ahmad dengan tepat menggambarkan bagaimana buku ini telah
membawa
Mirza kedalam sorotan lampu panggung:
"Sebelum menulis Barahin, Al Masihyang dijanjikan ini menghabiskan kehidupan terpencil dan dalam ketersendirian ini kehidupannya adalah kehidupan seorang darwis. Sebelum terbitnya Barahin, ia menjadi terkenal sampai batas tertentu karena menulis serangkaian artikel di beberapa surat kabar itu, tapi semua ini tidak banyak. Bahkan, pemaklumatan Barahin-i-Ahmadiyah inilah yang, untuk pertama kalinya dan untuk yang seterusnya, menempatkannya didepan seluruh negeri dan memperkenalkan dia kepada mereka yang tertarik pada soal soal akademis dan agama. Mata orang-orang mulai berubah dengan takjub memandang ke arah putra desa yang tak dikenal, yang telah berjanji untuk menulis sebuah buku besar tentang kebenaran Islam dengan cara seperti menantang dan dengan janji sejumlah besar uang sebagai hadiah (untuk salah satu yang bisa mematahkan argumennya).
"Sebelum menulis Barahin, Al Masihyang dijanjikan ini menghabiskan kehidupan terpencil dan dalam ketersendirian ini kehidupannya adalah kehidupan seorang darwis. Sebelum terbitnya Barahin, ia menjadi terkenal sampai batas tertentu karena menulis serangkaian artikel di beberapa surat kabar itu, tapi semua ini tidak banyak. Bahkan, pemaklumatan Barahin-i-Ahmadiyah inilah yang, untuk pertama kalinya dan untuk yang seterusnya, menempatkannya didepan seluruh negeri dan memperkenalkan dia kepada mereka yang tertarik pada soal soal akademis dan agama. Mata orang-orang mulai berubah dengan takjub memandang ke arah putra desa yang tak dikenal, yang telah berjanji untuk menulis sebuah buku besar tentang kebenaran Islam dengan cara seperti menantang dan dengan janji sejumlah besar uang sebagai hadiah (untuk salah satu yang bisa mematahkan argumennya).
Maka matahari hidayah
sudah muncul di cakrawala, sekarang mulai
naik lebih tinggi. Kemudian penerbitan Barahin-i-Ahmadiyah membangkitkan
kegemparan luar biasa di kalangan
agama seluruh negeri.
Secara umum, umat muslim menyambutnya sebagai 'mujaddid'besar . Adapun bagi musuh-musuh Islam, buku ini
datang kepada mereka laksana bom dan membangkitkan
pergolakan yang besar di pihak mereka.[22]
Mirza sendiri mengatakan hal berikut tentang kehidupan sebelum penerbitan
Barahin:
Saat itu adalah saat dimana tak ada yang mengenal saya, ketika tak ada yang mendukung maupun yang menentang saya, karena, pada waktu itu, aku tak ber ujud, saya hanya satu di antara orang-orang, tersembunyi disudut ketidak terkenalan.
Saat itu adalah saat dimana tak ada yang mengenal saya, ketika tak ada yang mendukung maupun yang menentang saya, karena, pada waktu itu, aku tak ber ujud, saya hanya satu di antara orang-orang, tersembunyi disudut ketidak terkenalan.
Dia menambahkan:
Semua orang di
kota ini (yaitu Qadian) dan ribuan orang lain menyadari bahwa pada masa itu saya pada dasarnya, seperti mayat yang telah dikubur disuatu makam selama berabad-abad dan tidak ada seorang pun yang tahu
kuburan siapa itu. [23]
Perdebatan dengan Arya Samajis
Pada tahun 1886, Mirza melakukan perdebatan dengan Murli Dhar
dari Arya Samij, di Hoshiarpur. Ia telah menulis dengan lengkap pada sebuah buku tentang debat ini, Surmah-i-Chashm-i-Arya (Celak untuk mata dari Arya). Perdebatan
ini adalah yang kedua yang mengenai agama agama dan sekte-sekte keagamaan.
Topik perdebatan hari pertama adalah bukti rasional dan historis
dari mukjizat terbelahnya bulan. Mirza tidak hanya sangat
menegaskan keajaiban ini, tetapi juga mukjizat nabi-nabi lain. Dia menunjukkan bahwa mujizat
dan kejadian supranatural itu secara rasional adalah mungkin. Dia mengambil posisi bahwa
karena keterbatasan yang inherent dalam kecerdasan, pengetahuan dan pengalamannya, manusia tidak berhak untuk menyangkal
mujizat dan
dengan demikian juga tak berhak membuat klaim bahwa
mereka telah memahami alam semesta yang luas ini secara keseluruhan.
Dia berulang kali menekankan bahwa pengetahuan manusia sangat
terbatas sementara kisaran dari berbagai
kemungkinan
sangatlah luas [24](sehingga gagasan bahwa
pengetahuan manusia bisa komprehensif tak bisa dipertahankan). Dia juga menekankan bahwa dalam
urusan agama, percaya pada yang gaib itu penting dan bahwa ini
tidak bertentangan dengan akal sehat, karena
yang terakhir ini ( akal sehat) tidak dapat menjadi menyeluruh dalam kisarannya. Bahkan, betapapun rasionalnya keberatan yang Mirza tunjukkan
tentang keyakinannya
mengenai kenaikan Yesus ke langit dan turunnya di masa depan dan tinggal di surga selama
beberapa abad dan apa yang disebut kecenderungan 'rasionalis' dalam
tulisan-tulisannya, paling baik dapat disanggah oleh argumen yang ia
sendiri ajukan dalam buku ini. Kepribadian penulis dalam buku ini cukup
berbeda dengan kepribadiannya pada tulisan tulisannya yang lain berikutnya.
Kedua buku ini membuat Mirza secara berlebihan menghargai diri sendiri, ia menyadari kemampuannya sebagai penulis dan debat dan menjadi yakin bahwa dia mampu memulai gerakan baru dan mempengaruhi lingkungannya.Tampaknya bahwa penemuan ini membuktikan menjadi titik balik dalam hidupnya. Sejak saat itu, bukannya berdebat dengan umat Kristen dan Samajis Arya, ia malah berbalik melawan kaum Muslim dan mulai menantang mereka untuk berdebat dengan dia.
[16] Ibid. hal. 554 dan 556, Beberapa kalimat dalam “ Wahyu” dalam Bahasa
Inggris: “Saya akan memberimu bagian besar dari Islam”(sic.) (ibid, hal 556).
Saya seorang berselera ( cuerler)(sic.)( ibid. hal 479)” Saya bersama Isa. Dia
bersamamu untuk membunuh musuh. (sic.) ( ibid. hal. 484).” Kami bisa apa yang
kami ingin lakukan.(sic.) (ibid., hal 480). ( tr.).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar