Kamis, 10 Juli 2014

BAB II -3 DARI AL MASIH KE NABI


Sebuah studi yang obyektif namun kritis atas tulisan-tulisan Mirza memberikan kesan kepada seeorang bahwa klaim-klaimnya berjalan dalam tahapan tahapan menaik. Semua ini tampaknya telah direncanakan sangat hati-hati dan Mirza tampaknya dengan penuh kesabaran dan ke hati-hatian bergerak dari satu tahap ke tahap yang lain. Pada awalnya, dia menyatakan pendapat bahwa ilham, pengalaman firasat dan pengetahuan positif itu merupakan unsur-unsur yang menyatukan ( concomitant) yang penting dalam mengikuti Nabi secara menyeluruh, satu tahap alami di mana seseorang tiba,sebagai akibat dari meluruhkan diri dalam ketaatan kepada Nabi. Dia pada tahap ini, tidak secara langsung mengklaim dirinya sebagai nabi, tapi berbicara tentang sifat-sifat dan ciri-ciri kenabian dan mencoba untuk membuktikan bahwa sifat-sifat dan ciri-ciri  ini disandang ( juga)  kepada pengikut Nabi - terutama pada yang lebih sempurna - berdasarkan ketaatan mereka kepada Nabi . Logika ini dan dasar pendapatnya, dipastikan akan membawa  Mirza, cepat atau lambat, kepada pewartaan dirinya sebagai nabi. Tampaknya bahwa selama tahun-tahun ini, ia tetap sibuk membuka jalan dan mencoba untuk menciptakan suasana yang tepat untuk proklamasi semacam itu. Ia tampaknya telah berusaha untuk mengira-ngira apakah pengabdian para pengikutnya telah mencapai tahap di mana mereka akan tidak keberatan menerima bahkan klaim ini, seperti mereka telah menerima klaim lainnya sebelum ini.

PEWARTAAN KENABIAN
Pada akhirnya  hal itu memang terjadi. Pada tahun l900, Maulawi Abdul Karim, seorang khotib Jumat, memberi khotbah di mana dia, menggunakan kata-kata Nabi (Nabi) dan Rasul (Messenger) untuk sang Mirza. Hal ini menyebabkan ketersinggungan yang hebat pada Maulawi Sayyid Muhammad Ahsan Amrohawi. Ketika Maulawi Abdul Karim sadar mengenai hal ini, ia memberikan khotbah Jumat BERIKUTNYA yang ditujukan ke Mirza, meminta dia untuk memperbaiki keyakinan ( atas kenabian dirinya: penterjemah) , jika ia salah dalam menganggap dirinya sebagai seorang nabi dan Rasul Allah. Setelah sholat Jumat selesai, Maulawi Abdul Karim menarik jubah Mirza sambil meminta dia untuk memperbaiki keyakinannya, jika itu keliru. Mirza berbalik dan mengatakan bahwa dia tetap mempertahankan keyakinannya. Sementara itu, Maulawi Muhammad Ahsan sangat murka dengan khotbah itu dan dalam kemarahannya ia mondar-mandir di lantai masjid. Setelah Maulawi Abdul Karim kembali, ia memulai pertengkaran dengan dia. Ketika suara mereka naik sangat tinggi, Mirza keluar dari rumahnya dan membacakan ayat Alquran: " Hai orang-orang beriman Janganlah meninggikan suara Anda di atas suara Nabi (Al Quran XLIX.2)."[1]
Jadilah khotbah Maulawi Abdul Karim meresmikan tahap baru dalam karier Mirza tersebut. Khotbah ini memberikannya jaminan yang sangat dibutuhkan bahwa para pengikutnya telah beriman kepadanya secara meyakinkan sehingga mereka akan menerima apa pun atas klaim yang ia buat. Anak Mirza sendiri, Bashiruddin Mahmood, telah sangat cakap menggambarkan perkembangan ini dengan menunjukkan bahwa Mirza telah terbiasa mengklaim dirinya menyandang  sifat-sifat yang tidak dapat ditemukan pada siapapun kecuali seorang nabi namun ia selalu  menyangkal kenabiannya. Ketika ia menjadi sadar atas inkonsistensi ini dan menyadari bahwa atribut tidak dapat dipertahankan dengan penolakan tentang kenabian, ia menyatakan dirinya seorang nabi. Dia menulis:
"Singkatnya, karena di awal Al Masih yang Dijanjikan berpikir bahwa definisi Nabi adalah orang yang membawa Syariah baru atau membatalkan beberapa perintah atau seorang nabi secara langsung (ditunjuk oleh Allah): sehingga, meskipun semua atribut dan kualitas yang dibutuhkan seorang nabi ditemukan dalam dirinya, ia sebelumnya menolak untuk menganggap dirinya  seorang nabi. Dia menganggap ini semua sebagai bukan sifat sifat Nabi tetapi sifat sifat seorang Muhaddas ( mahluk suci) . Kemudian ketika ia menyadari bahwa maksud  klaimnya  adalah bahwa ia seorang nabi dan bukan seorang Muhaddas, lalu ia menyatakan dirinya seorang nabi . " [2]
Namun, apakah Mirza yang menahan diri dari menyatakan dirinya menjadi nabi sampai kesalah pahaman itu telah dihapus dan ia ditugaskan oleh Allah untuk memberitakan kenabiannya, atau ia telah menunggu selama ini untuk saat yang tepat untuk membuat deklarasi ini, tidak ada keraguan bahwa dia akhirnya diarahkan untuk membuat proklamasi kenabiannya yang merupakan hasil logis dari klaim sebelumnya.

PENJELASAN DAN TANTANGAN
Sebagaimana dinyatakan oleh Mirza Bashiruddin Mahmud, permasalahan itu akhirnya diputuskan pada tahun 1901 dan Mirza mulai menulis tentang hal itu secara eksplisit dalam tulisan-tulisannya. Kumpulan artikel yang disebut Arba’in [3]ini penuh dengan deklarasi tentang misi baru ini serta penjelasan dan tantangannya. Keterusterangannya  terus meningkat secara ajeg. Pada tahun 1902, ia menulis sebuah risalah berjudul Tuhfat al-Nadwah, yang ditujukan kepada para anggota majelis Majlis-i-Nadwah Al Ulama dan ulama lainnya yang mengambil bagian dalam musyawarah  Konferensi Nadwah yang diadakan di Amritsar pada tahun 1902.  Dalam risalah ini, ia menulis:
"Jadi, seperti yang telah saya katakan berulang kali, apa yang saya ucapkan kepadamu adalah kategoris dan tentu firman Allah, dalam cara yang sama seperti Al Quran dan Taurat adalah kata-kata Allah, dan bahwa saya seorang Zilli [4] dan Buruzi [5], dan setiap Muslim wajib mematuhi saya dalam soal agama. Dan setiap orang yang telah menerima informasi tentang saya, meskipun ia menjadi seorang Muslim, tetapi tidak menganggap saya penengah dalam urusannya, ataupun tidak mengakui saya sebagai Al Masih yang Dijanjikan, atau tidak menganggap wahyu saya sebagai wahyu yang datang dari Allah, ia dikenakan hukuman di langit karena dia telah menolak apa yang harus ia terima  pada waktunya yang tepat. Saya tidak hanya mengatakan bahwa saya akan merayu (bencana) kematian itu seandainya   saya adalah pembohong , saya juga mengatakan bahwa saya benar bahkan seperti Musa danYesus dan Muhammad (damai dan berkah Allah pada mereka) benar, dan bahwa Allah telah menunjukkan lebih dari sepuluh ribu tanda-tanda untuk menegakkan klaim saya. Rasul Allah SAW telah bersaksi untuk saya. Dan para nabi sebelumnya telah mengindikasikan waktu kedatangan saya, yang adalah sekarang ini.  Al-Qur'an juga sudah menunjukkan waktu kedatangan saya yang sekarang ini.  Baik langit dan bumi telah menanggung kesaksian yang mendukung saya. Juga tidak ada nabi yang tidak bersaksi menguntungkan saya.[6]

Dalam nada yang sama adalah apa yang ia tulis dalam Haqiqat al-Wahyu:
"Karena itu semua orang dari ummat ini, saya satu-satunya yang telah menerima  bagian besar dari wahyu Ilahi ini dan pengetahuan tentang yang gaib. Tak satu pun dari orang-orang kudus dari ummat ini, yang menjadi pendahuluku, diberi pangsa besar karunia seperti ini [7] Untuk alasan ini, hanya saya dipilih sebagai nabi dan tak ada orang lainnya yang berhak atas gelar ini.

 bagi diri sendiri tapi untuk keagungan nabi-Nya. Hal ini untuk alasan ini ia klaim, yang namanya di langit adalah Muhammad dan Ahmad ini berarti bahwa nubiwah Nabi Muhammad diterima akhirnya oleh (lagi,) Muhammad.. meskipun dengan cara buruzi, dan bukan oleh badan lain ".Ek Ohattr ka Itilah, hal 5.

Semua tulisan-tulisan selanjutnya dari Mirza penuh dengan penjelasannya kategoris yang sama atas klaim untuk kenabian. Terlalu banyak untuk disebutkan dalam buku ini. Bagi mereka yang tertarik dalam studi yang lebih rinci mengenai ini harus mempelajari  Haqiqat al-Wahyu karya Mirza , dan Haqiqat al-Nubuwat karya  Bashiruddin Mahmud.


Berikutnya: 

KENABIAN YANG BERDIRI SENDIRI 




[1] Kejadian ini didasarkan pada laporan pidato Sayyid Sarwar Shah Qadiani pada konferensi tahunan yang diadakan di Qadian, dan diterbitkan di al-Fadhl, Jilid 10, No 51, tertanggal Januari 4,1923 . Lihat juga haqiqat al - Nubuwat, hal 124) .

[2] Haqiqat al-Nubuwat, jilid1 hal. 124.

[3] Sang Mirza-telah berjanji untuk menulis empat puluh risalah pada masalah ini tetapi ia menyimpulkan seri hanya setelah yang keempa.t Lihat Arbain, Jilid 4, hal. 14
[4] Penerimaan wahyu melalui kasih karunia Muhammad SAW telah disebut "Zilli Nubuwah" oleh Mirza . Lihat Haqiqat al-Wahyu , hal. 28 .
[5] Nabi sejenis in, menurut Mirza “ .......tidak menerima ini  ( yakni kenabian) dari dirinya sendiri, tetapi dari keturunan nabi nya, dan bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk kemuliaan nabinya . Untuk alasan inilah namanya di surga adalah Muhammad dan Ahmad. Ini berarti bahwa nubuwah ( kenabian ) Muhammad pada akhirnya telah diterima oleh Muhammad (sic.) walau dalam cara buruzi , tetapi bukan untuk lain nya “. ( Ek.Ghalati ka Izallah, hal 5).
[6] Tuhfat al-Nadwah, hal 4.
[7] Ini hanyalah klaim, dan itu didasarkan pada kurangnya pengetahuan agama dan bertentangan dengan fakta sejarah. Dalam umat Muhammad SAW ada begitu. banyak orang kudus yang telah anugerahii inspirasi ilahi , tetapi tidak ada yang menyatakan itu adalah wahyu, juga mengklaim kenabian atas dasar itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar