Kamis, 10 Juli 2014

BAB II.2 MIRZA MENJADI AL MASIH


Pengaruh Nurudin
Kita telah melihat sebelumnya bahwa ketika Nuruddin di Jammu sehubungan dengan pekerjaan nya, Mirza tinggal di Sialkot, di mana ia bekerja di kantor Komisaris Distrik.Keduanya ( Nuruddin dan Mirza) memiliki sejumlah kesamaan: keduanya menikmati kontroversi dan perdebatan agama dan keduanya ambisius.Tampaknya masuk akal bahwa mereka saling mempengaruhi dalam hal kepribadian. Maka, korespondensi antara mereka dimulai pada 1885. Dalam koleksi surat-surat Mirza, surat paling awal untuk Nuruddin yang kita temukan adalah per tanggal Maret 8,1885.Korespondensi ini berjalan terus tanpahenti dan menjadi begitu intim hingga mencakup masalah keluarga dan perkawinan.Pada bulan Januari 1888, Mirza melakukan perjalanan ke Kashmir untuk menemui Nuruddin dan tinggal bersamanya selama sebulan. Mirza terus berhubungan dengan Nuruddin dalam inspirasinya, ramalan, dan beberapa  informasi baru dan beberapa penelitian. Dia bahkan mengeluh kepada Nuruddin tentang sikap dari ulama dan tudingan beberapa dari mereka bahwa ia bukanlah seorang Muslim.Dalam surat tanggal 15 Juli 1890, ia menulis kepada Nuruddin: "Dan Aku telah mendengar bahwa orang-orang mulai menyebut saya dengan nada berbisik sebagai seorang kafir. Ini merupakan petunjuk bahwa Allah Ta'ala ingin menunjukkan sesuatu yang besar.." [1].
Sampai saat itu (yaitu tahun 1890), Mirza hanya mengaku bahwa ia adalah seorang mujaddid ( pembaharu) dan bahwa ia telah ditugaskan oleh Allah dan, menurut Mirza Bashir Ahmad ( putra Mirza dari istri kedua dan penulis: Sirat Al Mahdi) , ia terus mengatakan bahwa dia telah dibangkitkan untuk mereformasi orang-orang menuju cara Mesiah dari Nazaret dan bahwa ia memiliki kemiripan tertentu dengan sang Mesiah[2].
Dalam Barahin ia mengungkapkan pendapat bahwa dominasi mutlak Islam yang telah dijanjikan dalam ayat Alquran: "Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan Agama Kebenaran untuk menyatakannya atas semua agama ", akan terpenuhi melalui Al Masihyang Dijanjikan, yang kepulangannya kembali  ke dunia telah disebutkan dalam hadis Nabi.
Mengenai  dirinya sendiri, ia hanya mirip Al masih  pada tahap pertama hidup sang Mesiah, yaitu hidup-Nya di bumi.
Seperti dalam kata-katanya sendiri:
"Ayat ini, (" Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya ) adalah sebuah nubuat yang, dalam pengertian fisik dan politik mengacu pada Al Masih, dan janji dominasi lengkap dari agama Islam, yang telah dibuat akan digenapi melalui kemenangan Al Masih danan ketika Hazrat- Masih (Nabi Isa A.S.) akan datang ke dunia ini, Islam akan tersebar di seluruh dunia, di segala negeri. Tapi telah terungkap bagi Sang Rendah Hati ini bahwa, dalam pandangan.kemiskinan dan kerendahan hati, kepercayaan kepada Allah dan pengorbanannya, dan dalam hal tanda tanda  danpencerahan pencerahan, ia adalah teladan dari bagian  pertama dari kehidupan Mesiah dan bahwa kodrat dari Sang  Rendah Hati dan Al Masih angat mirip seperti dua keeping  dari substansi yang sama, dua butir buah dari pohon yang sama, dan kesamaan mencapai tingkat  sedemikian rupa sehingga perbedaanya  sangat kecil "[3].

-
Nasihat Nuruddin
Dalam kehidupan Mirza serta dalam sejarah sekte Qadiani, tahun 1891 adalah tahun yang sangat penting. Pada tahun inilah Nuruddin, dalam salah satu suratnya, menyarankan Mirza untuk mewartakan dirinya sebagai Al Masih yang dijanjikan.[4]
Kami belum dapat melihat ini surat Nuruddin, tapi jawaban yang dikirim oleh Mirza mengacu pada nasihat dari Nuruddin. Surat Mirza ini termasuk dalam koleksi surat-suratnya dan bertanggal 24 Januari 1891. Surat ini mengungkapkan sumber-sumber intelektual, aktor intelektual, penulis sebenarnya dari sekte Qadiani. Berikut adalah kutipan dari surat bersejarah ini:
Telah dikatakan oleh Anda, Tuan, bahwa tidak ada salahnya menyatakan diri saya sebagai Al Masih yang dijanjikan bahkan independen/tersendiri dari yang sebagaimana dimaksud dalam hadis Damaskus/Damsyik. Hamba yang rendah hati ini tidak perlu menjadi replika/pengulangan dari Al Masih. Saya hanya ingin Allah untuk mengikutsertakan saya di antara para hamba-Nya yang rendah hati dan patuh. Tapi kita tidak bisa menghindari  ujian.  Allah SWT  telah membuat ujian sebagai satu-satunya cara untuk kemajuan, sebagaimana Ia mengatakan: "Apakah manusia itu mengira mereka akan dibiarkan (tak teruji) dengan ( sekedar) mengatakan ‘Kami percaya’, dan mereka tidak akan diuji ?( Al Qur’an 29:2) [5]
Apa motif sebenarnya dari saran ini? Apakah itu hanya rabun jauh/ visi pribadi Nuruddin dan sifat ambisius atau itu dibuat atas semacam dorongan dari kekuatan yang sedang berkuasa? Sulit sekarang ini untuk mengatakan apa yang sebenarnya tersembunyi di balik saran itu. Adapun kemungkinan yang kedua diatas, tampaknya tidak terlalu berlebihan sama sekali jika kita ingat latar belakang historis munculnya gerakan baru ini. Situasinya adalah  bahwa Inggris telah menyaksikan gerakan keagamaan Sayyid Ahmad Shahid dan telah mengalami kesulitan yang cukup besar dari itu. Dalam kurang lebih periode waktu yang sama, ada gerakan lain bangkit di Sudan, yang dipimpin oleh Mahdi Sudan, dan ini juga telah memberi Inggris waktu yang sangat sulit. Bukan tidak mungkin bahwa Inggris, beroleh secara kebetulan melihat, bangkitnya seorang pemimpin agama yang dapat diandalkan, justru sangat didambakan, asal pemimpin seperti itu mampu merebut kepercayaan dari umat Islam, melalui pengabdiannya pada kepentingan Islam,dan menangkap imajinasi religius orang dengan semangat keagamaannya, ia bisa berfungsi sebagai sarana yang baik untuk mengamankan Inggris dari  ancaman gerakan agama anti Inggris. Dan karena umat Islam sudah percaya pada kedatangan Al Masih, penerimaan mereka sebagai seorang Al Masih tidak bisa dianggap sebagi tidak mungkin. Seperti Al Masih, jika ia berkhotbah kesetiaan kepada yang sedang berkuasa atas nama Tuhan dan Islam, bisa menjadi pengabdian besar buat tujuan kepentingan (cause) Inggris. Namun tentu saja tak ada sesuatu yang dapat dikatakan dengan mutlak pasti. Bagaimanapun surat dari Mirza yang dikutip di atas tetap menjadi dokumen yang signifikan, dan mungkin memiliki petunjuk tentang asal-usul sekte Qadiani.
Apa yang pantas diingat pada titik ini adalah bahwa sejauh hal mengenai mengenai nabi Allah, misi mereka tidak tergantung pada saran dari luar. Mereka menerima wahyu dari langit dan secara jelas dan pasti ( kategoris) diberitahu mengenai  posisi dan misi mereka. Hati mereka penuh dengan keyakinan dan sejak hari pertama mereka mengumumkan dan terus menekankan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran. Baik iman mereka sendiri, atau panggilan mereka, tidak tergantung pada orang lain untuk mengarahkan perhatian mereka ke arah itu. Dari hari pertama, mereka terus mengatakan:
Inilah aku diperintahkan dan aku yang pertama dari mereka yang tunduk pada kehendak-Nya. (Qur'an, 6: 163).

Kepercayaan tentang Yesus
Kembalinya Yesus adalah pasal mapan dalam kepercayaan Islam. Kebangkitan Yesus ke langit dan kembali ke dunia di masa depan adalah salah satu keyakinan Muslim, yang memiliki dasar dalam Alquran dan juga dibuktikan oleh Hadis Nabi, dan di mana umat Islam percaya secara konsisten.
 Ibnu Kathir berkata bahwa hadis Nabi tentang kembalinya Yesus yang cukup banyak sedemikain rupa sehingga dapat dianggap sebagai salah satu yang didukung oleh rantai penyampaian yang tidak terputus.
Ibnu Hajar juga mengutip Abul Husain Abari dalam Fatah-al-Bari mengenai tawatur dari hadis dalam perkara  ini.
Shawkani telah menulis sebuah risalah khusus pada subjek ini yang berjudul Tasdiq fi ma ja fi al-muntazir wa at-Dajjal wa al-Masih 

Tak satu pun dari tokoh agama penting tercatat sebagai menyangkal keyakinan ini, bahkan tidak pula Mutazilah. Ibnu Hazm, dalam karyanya yang  terkenal Al-Fisal fi al-Milal wa al-Nihal, menulis bahwa keyakinan ini dibangun berdasarkan penyampaian terus menerus tak terputus . Pertanyaan ini telah dibahas secara rinci dalam karya  Anwar Shah Karhmiri Aqidat al-Islam. Adapun segi rasional pertanyaan ini, jika seseorang menerima kemahakuasaan Tuhan dan mendukung kesempurnaan sifatnyaNya, seseorang dapat tidak memiliki alasan untuk meragukan kemungkinan pernyataan yang ditemukan dalam hadis hadis yang keaslian dan keberlanjutannya telah mapan ( established). Di zaman kemajuan ilmiah luar biasa seperti yang kita kini miliki, saat sejumlah hal yang sampai sekarang dianggap mustahil berlangsung di depan mata kita, ketika satelit buatan manusia mengelilingi bumi  setiap beberapa jam, ketika manusia mulai menjamah angkasa luar, gagasan bahwa seseorang harus naik ke langit dan tinggal di sana dan hidup untuk jangka waktu tertentu tidak dapat dianggap sebagai tak terbayangkan. Untuk mengajukan keberatan yang didasarkan pada konsep-konsep Yunani tentang imu falak atau pada gagasan gagasan usang lainnya akan tampak dengan jelas sebagai kekanak-kanakan dalam masa kemajuan ilmu pengetahuan ini. Muslim telah mengetahui ini dan mempercayai ini.

Hadis dari Nabi menyebutkan ini dan, lebih lagi, karena kesulitan keadaan, kaum Muslim telah mengembangkan suasana hati untuk mengharapkan bahwa tokoh (personality) tertentu yang hebat dan secara ilahiah terilhami, akan muncul tiba-tiba dan mengatur hal yang benar bagi mereka. Ketika abad, ketiga belas hijrah mendekati akhir, suasana pengharapan ini bahkan menjadi lebih intens. Nuruddin, karenanya, memiliki alasan untuk menganggap bahwa dalam segi popularitas yang diperoleh oleh Mirza berkat pengabdian keagamannya, klaim Al Masihnya sangat mungkin( likely) untuk diterima oleh kaum muslimin.

MIRZA MENERIMA SARAN
Cara di mana Mirza menolak untuk menerima saran yang dibuat oleh Nuruddin, dan semangat kerendahan hati dan kesalehan yang dia tekankan (evinced) dalam suratnya mengenai hal ini, sangat berharga dan menambah reputasi nya. Tapi bagi siapa pun yang mempelajari karya-karyanya dalam urutan waktu, sulit untuk menjaga rasa hormat ini lebih lama. Karena kita menemukan dia begitu cepat menerima saran dari Nuruddin - yang telah ditolak sebelumnya untuk mewartakan dirinya sebagai ulangan Al masih.
Jika kita periksa karya-karya Mirza, dengan mudah kita membaginya  menjadi dua tahap. Tahap pertama terdiri dari karya-karya di mana ia berusaha hanya untuk membuktikan keabsahan Islam dan menyangkal agama-agama lain. Dalam karya-karya ini, tidak ada klaim tentang ke Al Masih-an[6]. Ini diikuti dengan tahap ketika ia membuat klaim itu dan melanjutkan membuat beberapa klaim lain tentang dirinya, setiapnya,  semakin lebih congkak dan semakin megah dari yang sebelumnya. Buku pertama yang ia tulis selama tahap ini adalah Fath-i-Islam, yang diterbitkan pada tahun 1891, tahun yang menandai titik balik-utama dalam karier Mirza tersebut. Dalam karya ini, kita bisa melihat bahwa dia mengaku sebagai pengulangan Al Masih dan sebagai  Al Masih yang dijanjikan. (Mirza Bashir Ahmad menulis dalam Sirat al-Mahdi : "Al Masih yang Dijanjikan telah menulis Fath-i-Islam menjelang akhir tahun 1890. Ini adalah karangan pertama di mana dia menyebutkan dirinya sebagai pengulangan ( replika) Al Masih dan bahwa Al Masih dari Nazaret telah meninggal. Dengan kata lain, ini adalah pengakuan pertama dari klaimnya sebagai Al Masih yang dijanjikan.. "(Jilid 1, hlm 267-268). Hal ini menunjukkan bahwa penulis juga menganggap 'pengulangan Al Masih' dan 'Al Masih yang Dijanjikan ' adalah istilah yang sama) (7. Lihat Barahin-i-Ahmadiyah, Surmah-i Chashm-i Aryah dan Shahna-i Haq.)
"Jika kalian tulus, maka bersyukurlah dan bersujud syukur; sebab, ini adalah waktu dimana leluhur kalian  terus menunggu sampai mereka meninggal, waktu yang ditunggu oleh jiwa-jiwa yang tak terhitung jumlahnya yang telah berangkat (ke dunia berikutnya) , karena sesungguhnya, kalian telah mencapai saatnya. Sekarang terserah kalian untuk menghargainya atau tidak. Saya akan mengatakan ini terus menerus  dan tidak akan berhenti mengumumkan bahwa aku lah yang Dia kirim pada waktu yang tepat dalam rangka pembaharuan (reformasi)  kaum  sehingga dengan demikian memulihkan kembali lagi agama di hati mereka ( to revive afresh religion) . Saya telah dikirim sebagaimana seseorang dikirim setelah Kalim Allah ( Musa a.s.) dan yang jiwanya, setelah banyak kepedihan besar selama pemerintahan Herodius,dinaikan ke langit. Jadi, ketika Kalim kedua Allah, yang, memang, yang dulu adalah yang pertama, dan penghulu para nabi, datang untuk menindas Firaun lainnya, menyangkut seseorang yang dikatakan:  Kami telah kirimkan kepada kalian (wahai manusia) seorang Rasul, untuk menjadi saksi atas kalian,  bahkan ketika Kami mengirim seorang rasul kepada Firaun; (LXXXXX: 15). Kemudian dia juga, yang - mirip dengan kalim  pertama (i.e. Musa a.s.) dalam hal karyanya, dan namun lebih mulia dalam kedudukannya, dijanjikan menjadi pengulangan Al Masih. Dan replika Al Masih ini, yang telah diberi kekuatan, sifat dan ciri-ciri dari Al Masih putera Mariam turun dari surga dalam zaman, mirip dengan zamannya, dan sekitar selang waktu yang hampir sama antara kalim pertama dan Al Masih anak Mariam,yakni, pada abad keempat belas Dan turunnya ini adalah bersifat spiritual dalam cara yang sama seperti setelah kebangkitannya. insan sempurna turun dalam rangka pembaharuan kaum. Dan ia juga turun dalam masa yang sama dalam segala hal, dengan masa turunnya Al Masih putera  Mariam, agar hal itu bisa tetap menjadi tanda bagi mereka yang mengerti. ".[7]

Meskipun, bagian ini dari tulisan Mirza ada sangat membingungkan dan rumit (dan mungkin disengaja dibuat begitu ), itu jelas menunjukkan klaim baru bahwa ia adalah 'pengulangan Al Masih'. Tiga dari karya-karyanya, yaitu Fath-i-Islam, Tauwzih-i-Maram, dan Izalah-i-Awham, semua berkaitan (deal)  dengan hal yang sama dan sering mengulangi klaim ini. Dalam Fath-i-Islam di tempat lain Mirza menulis:
Jadi selain dari kemiripan dengan para nenek moyang luhur lainnya dianugerahkan kepada hamba ini, ada juga kemiripan khusus dengan sifat Hazrat Masih (a.s.) dan karena kemiripan itulah hamba ini dikirim atas nama Al Masih dalam rangka untuk menghancurkan sampai berkeping-keping, kepercayaan salib. Oleh karena itu, aku telah diutus untuk menghancurkan salib dan membasmi para babi. Aku telah turun dari surga surga, diiringi oleh para malaikat di kanan dan di kiriku.[8]
Dalam bukunya Tawzih-i-Maram, yang merupakan buku berikutnya setelah Fath-i-Islam dia membuat pernyataan eksplisit:
Dengan tingkat ketidak sepakatan tertentu, Muslimin dan kaum Kristen percaya bahwa Al Masih, putra Maryam, dibangkitkan dari keberadaan dasar ini ke surga surga dan yang pada beberapa masa lainnya dia akan turun dari surga. Saya telah menulis tentang kesalahan pandangan ini dalam risalah saya dan juga menyatakan bahwa turunnya ( dari surga)  ini bukan berarti  turunnya Al Masih anak Mariam  dalam arti sebenarnya, melainkan lebih merupakan metafora ekspresi,  menginformasikan munculnya pengulangan Al Masih dan yang mana, berdasarkan petunjuk dan wahyu dari Tuhan, berlaku untuk hamba yang rendah hati ini.[9]

TAFSIRAN KHAYALI
Karena Nuruddin memiliki pengetahuan yang luas mengenai hadis dari Nabi, ia selalu mengalihkan perhatian Mirza kearah  kesulitan-kesulitan dalam membenarkan klaim-klaimnya dan juga digunakan untuk membantu dia dalam memecahkan kesulitan-kesulitan itu. Masalah bagaimana caranya menceritakan tanda tanda  yang telah disebutkan berkenaan dengan Al Masih, diperlukan kecerdasan luar biasa. Berikut adalah beberapa contoh dari kecerdasan ini- dan kesemau-mauan yang menyertainya (having run riot).
Tradisi-tradisi dimana Mirza mendasarkan klaimnya atas ke Al Masih-an juga menyebutkan sejumlah rincian yang berkaitan dengan turunnya Al Masih. Salah satunya adalah bahwa Al Masih akan turun di Damaskus. Sekarang, jika Mirza adalah  Al Masih yang dijanjikan, bagaimana hal ini dapat dibenarkan dalam situasi (in the light of) tradisi yang disebutkan di atas? Jelas bahwa Damaskus dan Qadian berada jauh dari satu sama lain. Namun demikian, kejanggalan itu tidak terpikirkan sang Mirza . Nuruddin lah yang mengingatkannya tentang hal itu. Mari kita mengacu sekali lagi ke sang Mirza sendiri tentang persoalan ini:
"Hamba yang rendah ini sejauh ini tidak menyibukan dirinya dengan mencoba untuk mencari tahu arti dari ini (yaitu Damaskus), ketika seorang teman dan kekasih dipercaya, Maulavi Hakim Nuruddin datang ke sini ke  Qadian dan dia membuat permintaan yang ditujukan ke  Allah untuk mengungkapkan pentingnya Damaskus dan dua istilah ambigu lain yang terjadi dalam Tradisi bersangkutan dalam Shahih Muslim. Karena pada masa itu, aku sakit dan pikiran saya tak mampu giat berusaha. Saya tak mampu untuk memikirkan hal ini( to attend to this matters).
Hanya sedikit upaya yang membawa saya ke penjelasan dari kata, yang mana adalah kenyataan tentang  Damaskus, terungkap kepada saya.[10]

Kemudian, ia menjelaskan tentang pencerahannya tentang makna Damaskus dengan istilah ini:
Jadi, harus jelas bahwa dalam penafsiran kata 'Damaskus' telah di wahyukan Tuhan kepada saya bahwa disini kota yang disebut sebagai  Damaskus yang dihuni oleh orang-orang yang memiliki sifat Yazid, yang mengikuti praktek-praktek dan gagasan-gagasan  Yazid yang tercemar, yang di dalam hati-tidak ada kasih kepada Allah dan Nabi ', tidak ada penghormatan untuk perintah-perintah Allah,dan telah menjadi biasa untuk mengikuti kehendak mereka dan yang menghamba pada  nafsu rendah seperti menumpahkan darah murni dan suci yang bahkan tampaknya bagi mereka sebagai mudah dan sepele, yang tidak percaya pada akhirat dan untuk siapa keberadaan Tuhan adalah masalah rumit yang membingungkan pemahaman mereka. Dan karena dokter harus datang ke orang sakit, maka adalah penting bahwa Al Masih harus muncul antara orang-orang seperti itu.[11] .
Jadi, 'turunnya Massiah di Damaskus' jelas menunjukkan bahwa ada seseorang yang merupakan pengulangan Al Masih, yang juga menyerupai Husain karena kemiripan antara kepribadian kedua beliau ini (Al Masih dan Husain), dan yang akan, turun dalam rangka untuk memperingatkan Yazidi karena  mereka kerabat orang Yahudi. [12]

Kemudian, Mirza menulis : "Damaskus digunakan semata mata  dalam kiasan.[13]
Ia juga menambahkan:

"Lalu Dia mengatakan kepada saya bahwa orang-orang ini memiliki sifat Yazid dan kota ini (Qadian) adalah serupa dengan Damaskus. Jadi, Allah Ta'ala mengutus hamba ini ke Damaskus ini untuk tujuan yang besar di sisi timur, di sebelah menara putih masjid dimana siapapun yang masuk akan aman. Diberkatilah Dia yang mengutus Aku turun di tempat ini. [14]

Dua helai kafan kuning
Dalam menafsirkan hadis yang menyinggung rincian tertentu dari turunnya Al Masih dan dalam mengamalkan nya pada dirinya sendiri, sang Mirza  selalu bermegah megahan, mengedepankan arti yang paling jauh, dan mengajukan pengertian yang paling konyol - seolah-olah ia yakin bahwa pembacanya benar benar mudah dikelabui. Sebagai contoh, lawan-lawannya pernah menunjukkan bahwa hadis atas dasar mana dia berdebat tentang persoalannya dan atas mana ia mendasarkan klaimnya, juga menyatakan bahwa, pada saat, Al Masih akan mengenakan dua helai kafan kuning. Menjawab itu, ia mengatakan:
Saya penderita sakit yang kronis. Dan dua helai kafan yang disebut  hadis sebagai yang akan dikenakan oleh Al Masih ketika ia akan turun, ada dalam diriku, dan kedua helainya ini, menurut ilmu penafsiran mimpi, adalah dua penyakit. Jadi, satu helai ada di bagian atas badan saya, jadi sakit kepala dan pusing, insomnia dan jantung  berdebar datang kepadaku dalam bentuk serangan penyakit. Helai lain yang berada di bagian bawah tubuh saya adalah diabetes yang telah aku derita untuk waktu yang cukup lama sehingga sering saya kencing seratus kali dalam sehari semalam, dan karena seringnya buang air kecil ini saya menderita semua jenis penyakit kelemahan yang umumnya disebabkan oleh  penyakit semacam itu.[15]
Menara Timur kota Damaskus
Hadis Nabi juga menyebutkan menara Timur kota Damaskus sebagai tempat di mana Al Masih akan turun. Alih-alih menafsirkan dengan cara fantastis lainnya, seperti yang biasa, apa yang dia lakukan dalam hal ini, adalah membangun sebuah menara di bagian timur kota Qadian. Dia membuat keputusan ini pada tahun 1900, menurut Sirat al-Mahdi, dan mengundang kemurahan hati umat untuk menyumbang.[16] Pada tahun 1903, ia bahkan meletakkan batu pertamanya. [17] Namun penyelesaiannya, bagaimanapun, tidak bisa terjadi dalam waktu hidupnya, dan diselesaikan oleh anaknya Mirza Bashiruddin Mahmud.

SATIR DAN EJEKAN
Tiga karya yang disebutkan di atas juga secara kasar mengungkapkan perangai buruk Mirza. Karya karya itu  penuh sindiran dan ejekan ditujukan terhadap lawan dan berisi caci maki begitu pahit sehingga buku-buku ini sulit untuk sejajarkan diantara  buku-buku bermartabat dengan tujuan mulia. Gaya dan cara pengungkapan  yang diterapkan oleh Mirza dalam buku buku ini bahkan tidak dari  keugaharian dan kemartabatan dari para penulis, manalagi dari para nabi dan para reformis agama. Cara dimana ia mencemooh keyakinan atas tetap hidup dan kembalinya Al Masih ke bumi dan pada mereka yang menganut ( subscribe) hal itu, mengingatkan salah satu jenis kecerdasan yang lebih terkait dengan badut badut-istana ( court-jester) daripada dengan intelektualitas serius. Lagi pula, jenis keterampilan debat dan permainan kata yang ia gunakan  tidak berkait  dengan cara cara pengungkapan kenabian. Ketika mencoba untuk menunjukkan ketidak mungkinan rasional ketetap hidupnya Al Masih di surga, ia menulis:
"Antara lain, salah satu keberatan adalah bahwa bahkan jika kita mengandaikan bahwa Al Masih tidak mencapai surga, bersama dengan jasadnya, maka hal itu akan memaksa kita untuk mengakui bahwa jasadnya  pasti akan terpengaruh di surga, oleh efek waktu, seperti semua manusia lain dan tubuh hewan terpengaruh,dan bahwa perjalanan waktu tak pelak lagi akan mengarahkannya pada suatu hari pada kematiannya. Jadi dalam kasus seperti itu, hal itu harus diterima sehubungan dengan Al Masih yang setelah menyelesaikan masa kehidupannya, ia harus menemui ajalnya di surga.[18], dan harus dimakamkan di pemakaman penduduk dari suatu planet (kemungkinan penghunian yang ) diterima di masa sekarang. Dan bahkan jika kita menganggap keberadaan hidupnya, tidak diragukan lagi bahwa dia akan sekarang telah menjadi orang tua jompo dan hampir bisa dikatakan tidak akan mampu menegakkan satu ibadahpun. Dalam keadaan seperti itu, turunnya ia ke bumi tampaknya akan mengakibatkan tak lain dari  kesusahan saja.[19]
Di tempat lain, dia membuat komentar sebagai berikut pada bagian dari hadis yang menyebutkan bahwa Al Masih akan "membunuh babi."
"Apakah tugas yang sangat baik yang akan dilakukan oleh Al Masih setelah ia datang ke bumi, hanya untuk pergi berkeliling, disertai dengan sekumpulan anjing, untuk berburu babi? Jika ini benar, maka Sikh, Chamars dan Sansis dan Gandils yang mencintai perburuan babi, punya alasan untuk senang, karena mereka akan makmur. [20]
Di tempat lain ia membuat pengamatan berikut mengenai turunnya  Al Masih dimasa yang akan datang :
Waspadalah supaya kamu jangan  ditipu oleh seseorang yang mula mula menaiki  balon udara dan kemudian turun dari sana di depan Anda. Jadi, berhati-hatilah! Jangan anggap orang seperti itu sebagai putra Mariam karena kemukminan Anda  .[21]

Di tempat lain ia masih mengacu pada pertanyaan yang sama dengan cara berikut:
Saudara-saudara, pertanyaan ini berdiri pada dua pijakan (two legs):
"(1) Satu, turunnya putra Mariam dari langit dengan tubuh fananya nya menjelang akhir waktu. Pijakan pertama ini telah dipatahkan oleh Al-Quran dan juga beberapa hadis dengan memberi khabar kematian Al Masih, anak Mariam.
"(2) Pijakan kedua adalah munculnya Dajjal yang dijanjikan menjelang akhir waktu. Sekarang pijakan ini telah dipecah menjadi dua bagian oleh Hadis yang telah  sepakati secara  bulat yakni  Sahih Muslim dan Sahih Bukhari yang telah diriwayatkan oleh sahabat penting, dan juga oleh disebutnya Ibnu Saba sebagai Dajjal yang dijanjikan dan, akhirnya, dengan membunuh dirinya setelah membuatnya bergabung dengan umat Islam. Sekarang, bahwa kedua pijakan dari argumen itu telah dipatahkan, bagaimana dan dengan dukungan siapa  bangkai yang tidak memiliki kedua landasan ini berdiri setelah tiga belas abad ?[22]
Berikut ini adalah contoh lain dari macam tulisannya:
Dapatkah dibuktikan bahwa telah terjadi kesepakatan mengenai Hadis bahwa Al Masih akan bepergian memburu babi di hutan dan Dajjal yang akan melakukan tawaf (memutari Kabah) dan bahwa anak Maryam akan melakukan tawaf wajib  seperti orang sakit, dibopong dua laki-laki. Apakah tidak diketahui bahwa tafsir-tafsir  (exegetists) hadis-hadis ini telah membiarkan dugaan dugaan mereka lepas tanpa batas?[23]
Di tempat lain, ia mengatakan berikut  di tujukan ke ulama ulama Sunni (harafiah: 'Salah satu jalan)'. Suatu istilah yang umumnya diterapkan pada sekte Muslim terbesar yang termasuk salah satu dari empat sekolah hukum Islam ortodoks. ) :
"Wahai para ulama yang terhormat! Sementara kematian Al Masih umumnya dibuktikan oleh Al Quran Karim, dan dari awal hingga kini, beberapa pernyataan tertentu dari beberapa sahabat dan dari beberapa penafsir (musafir) , terus menerus membunuh dia ( i.e. berpegangan bahwa Yesus sudah mati- Penterjemah). Lalu, mengapa Anda mengambil sikap keras kepala yang sia sia? Biarkan Tuhan kaum Kristiani mati? Berapa lama Anda akan terus menyebutnya sebagai Yang Hidup? Sang Baka? Apakah ada batas untuk ini?[24] "

DAMPAK PENGETAHUAN MODERN
Karya-karya dari Mirza ditulis selama periode ini juga menunjukkan bahwa ia sangat terkesan dengan kemajuan ilmu alam dan dengan pengetahuan ilmiah yang membangkitkan minat yang besar dan keingintahuan di India pada hari-harinya. Tingkat pengetahuan ilmiah yang dicapai oleh Barat pada saat itu akan tampak menjadi sederhana kalau dinilai oleh tingkat kemajuan ilmiah sekarang. Lebih lagi pengetahuan  Mirza atas pengetahuan pengetahuan itu berasal dari tangan kedua dan sangat dangkal. Tampaknya salah satu sandaran utama penolakannya terhadap gagasan kembalinya Al Masih adalah bahwa ide berlawanan dengan fakta-fakta yang diterima ilmu pengetahuan modern. Dia berpikir bahwa keyakinan semacam ini  akan memaparkan agama pada ejekan dari orang-orang berpendidikan. Ia menulis dalam Izala-i-Awham:
"Dalam era yang berpikiran-filosofis ini, yang telah dengan cepat mendatangkan penghalusan budi dan kemajuan kecendekiawanan, merupakan  kesalahan besar untuk berpikir bahwa seseorang akan mampu mencapai keberhasilan agama sembari tetap berpegang pada keyakinan ini.[25] Jika hal-hal tidak berdasar seperti itu menyebar di padang pasir Afrika atau di antara penghuni gurun Arabia atau di beberapa pulau pulau terpencil  atau di antara kelompok orang liar, mereka mungkin menyebar dengan mudah. Tapi kita tidak bisa menyebarkan ajaran tersebut yang benar-benar bertentangan dengan akal sehat dan pengalaman dan ilmu alam dan filsafat dan yang juga tidak dapat dibuktikan (berasal) dari Nabi kita (kepadanya menjadi salam dan damai dari Allah), kecuali, hadis yang cukup menentang ini, dibuktikan diantara orang-orang berpendidikan. Kita juga tidak dapat menyampaikan ini kepada orang-orang yang cenderung skolastik dari Eropa dan Amerika, yang menyingkirkan segala absurditas dari agama mereka sendiri. Mereka yang di dalam pikiran dan hatinya cahaya  pengetahuan baru telah mengembangkan kekuatan manusia (sic.), bagaimana bisa mereka  percaya pada hal-hal yang keluar dan keluar dari penghinaan terhadap Allah dan merupakan suatu pembatalan dari prinsip-prinsip Kitab-Nya? [26]"
Saat membaca bagian-bagian seperti ini, orang akan sulit untuk percaya bahwa mereka bisa saja ditulis oleh pegarang Surmah-i-Chashm-i-Arya, oleh penulis yang sama yang telah mendebat dengan kuat demi kemungkinan dan kejadian yang sebenarnya dari mukjizat dan telah menyalahkan pandangan bahwa pengertian metafisis dapat ditolak atas dasar akal budi atau pengalaman-pengalaman manusia yang terbatas.
Dalam buku ini Mirza telah berpendapat atas dasar angka angka Jummal dan di sini cara mengemukakan pendapatnya menjadi sangat dekat dengan cara para misionaris dari sekte Batiniyah yang biasanya menggunakan angka-angka sebagai bukti-bukti argumen mereka bahkan dalam hubungan dengan keyakinan agama yang mendasar.

"Perhatian saya telah ditarik melalui Kashf (Wahyu suatu rahasia , untuk seorang sufi atau orang suci oleh kasih karunia dan kuasa Allah) kearah sifat angka dari huruf  dari nama nama berikut dimana saya telah diberitahu tentang Al Masih yang muncul di akhir abad ketiga belas (Allah telah mengatakan kepada saya) yang mana telah saya simpan tanggalnya dalam mengingat-ingat nama (bahwa Dia telah disimpan dalam tampilan era (penampilan Al Masih) dalam memberikan nama ini (untuk saya) dan nama itu adalah "Mirza Ghulam Ahmad Qadiani" Penjumlahan  angka dari nama ini  persis 1300, dan dalam kota ini yaitu Qadian tidak ada nama lain kecuali hamba  yang bernama Ghulam Ahmad. Dan telah dimasukkan ke dalam hati saya bahwa pada saat ini tidak ada lain kecuali hamba yang memiliki nama 'Ghulam Ahmad Qadiani. " Dan ini telah menjadi kebiasaan (practise) Allah terhadap hamba ini bahwa Dia, Yang Maha Murni, mengungkapkan rahasia dari sifat sifat angka dalam huruf abjad. "[27]
Di tempat lain ia menulis:
"Sekarang hal itu dibuktikan oleh penelitian ini, bahwa Al-Quran mengandung ramalan tentang kedatangan Al Masih, anak Mariam, menjelang akhir waktu. Kurun waktu (the period) penampilan Al Masih, yang telah ditetapkan oleh Quran sebagai 1400 (AH) juga telah diterima oleh banyak orang suci berdasarkan kashf ( pencerahan) mereka. Dan ayat Quran : ‘ Dan Kami pasti mampu mengeringkannya’ [28], yang mana menurut (perhitungan) jummal, memuat angka1274[29], dan ini menunjuk pada malam-malam dalam almanak qoma
riah  Islam yang mengandung petunjuk tersembunyi untuk munculnya bulan baru yang bisa ditemui pada angka angka Jumal dari Ghulam Ahmad Qadiani.[30]

Dalam buku-buku ini, ketika mencoba untuk menjelaskan hadis dari Nabi SAW dan menyatakan bahwa semua mengacu kepadanya, Mirza telah sangat lalai dari semua pertimbangan,dengan memberi kuasa penuh pada angan angannya . Pada kenyataannya, hampir tidak dapat dibayangkan bahwa setiap orang harus mengambil kebebasan seperti dalam menjelaskan bahkan tulisan atau komposisi penulis biasa dan penyair untuk tidak mengatakan Hadis Nabi. Untuk memenuhi tujuannya, Mirza telah mengambil posisi bahwa kata-kata dari Hadis bersifat kiasan atau metafora. Sekali lagi, dalam hal ini, dia tampaknya mengikuti jejak dari kaum Batinis, yang biasa menjelaskan istilah-istilah agama – yang mana  teks serta artinya ada kesepakatan yang berlanjut tak terputus - dalam suatu cara yang terlalu jauh mengada-ada dan konyol, tanpa ada dasar tata bahasa atau akal sehat untuk mendukung mereka. Dan dengan demikian mereka telah membuka pintu banjir ateisme dan nihilisme.
Dalam Izalah’-i-Awham, sang Mirza berulang kali menegaskan bahwa pengetahuan tentang anak Mariam dan Dajjal ( Anti kristus) belum sepenuhnya jelas bagi Nabi dan bahwa dalam hal ini Allah hanya mengaugerahi kepadanya hanya dengan beberapa petunjuk ringkas.[31]

AL MASIH DI KASHMIR
Sang Mirza, terus "merenungkan" kematian Al Masih sampai, pada akhirnya, ia menyimpulkan bahwa kematian telah terjadi di Kashmir dan bahwa di sanalah ia di makamkan. Dalam hubungan ini, menurut kebiasaannya, ia melakukan banyak penelisikan yang  yang menunjukkan kesuburan daya khayal nya bahkan pada tingkat yang kekanak-kanakan. Dia telah mencoba untuk membuktikan bahwa pengucapan Kashmir dalam bahasa Kashmir adalah "Kashir", dan tampaknya bahwa kata ini, pada kenyataannya, adalah susunan kata Ibrani, yang terdiri dari 'K' yang digunakan untuk menunjukkan kesamaan, kemiripan dan lain lain dan 'Ashir' yang dalam bahasa Ibrani berarti Suriah. Jadi kata 'Kashir' dalam bahasa Ibrani berarti 'seperti Suriah'. Atas dasar ini, Mirza kemudian menambahkan bahwa ketika Nabi Isa a.s. hijrah dari Palestina ke bagian India, yang karena keunggulan cuaca, iklim yang nyaman dan hijau dan kesegarannya, memiliki kemiripan dekat dengan Suriah , Tuhan menamakannya "Kaashir", dalam rangka menghibur dan memuaskan beliau. Penggunaan kata yang berlebihan menyebabkan menghilangkan huruf 'a' . Dan hasilnya,menjadi 'Kashir. " Kemudian, dia membuktikan bahwa makam 'Budhasaf’  di wilayah Khan Yar Srinagar, sebenarnya makam Isa yang lebih populer dikenal sebagai "pangeran”. [32] Dalam mencoba untuk mendukung kepingan penelitiannya ini, Tak ada kemungkinan kemungkinan yang terlalu jauh untuk ia jajagi. argumen, dengan hasil bahwa tulisannya pada titik ini lebih menyerupai  puisi dan fiksi daripada apa yang biasanya dianggap sebagai tulisan  akademik. Spekulasi spekulasi yang tak terkendali dari para orientalis, yang dikenal suka untuk mengambarkan bukit sebagai gunung, bukan apa apa bila dibandingkan dengan tulisan tulisan Mirza.
Hal ini membawa kita ke sebuah tonggak yang pasti dalam pengalaman rohani dan klaim Mirza tersebut. Pada tahap ini, ia tegas mengklaim sebagai "Al Masih yang Dijanjikan" dan mencoba untuk membuktikan ini dengan apa yang disebut sebagai argumen 'rasional dan tradisional’.




[1] Maktubati-i-Ahmadiyah, jilid 5 , hal79.

[2] Sirat al-Mahdi, jilid 1,. hal.39
[3] Barahin-i-Ahmadiyah, jilid 4, hal. 495-498.

[4] Meskipun dalam suratnya Nuruddin menggunakan istilah : “ Pengulangan Al Masih”, studi Fath-i-Islam dan Izalatal-Awham menunjukkan bahwa “Pengulangan Al Masih” dan “Al Masih yang dijanjikan” diperlakukan sebagai istilah yang sama dan digunakan oleh Mirza tersebut secara bergantian. Sebagai contohnya: "Keturunan ini tidak berarti turunnya sebenarnya dari Al Masih, anak Maria, melainkan hanya sebuah ekspresi figuratif yang menginformasikan kedatangan seorang seperti Al Masih yang mana, menurut pernyataan dan inspirasi Ilahi , adalah yang rendah hati ini." ( lihat Tauzih-i Maram, hal. 2).
[5] Maktubat-i-Ahmadiyah Jilid 5 , Nomor 2, hal 85.
[6] Ada tiga buku yang  masuk dalam tahap ini: Barahin-i Ahmadyah, Surmah-‘i Chasm-i  Aryah Sharah-‘i Haqq.
[7] Fath-i- Islam, hal. 6 dan 7.

[8] Ibid., hal.9n
[9] Tawzih-i-Maram, hal.2.
[10] Izalah-Awham hal. 32-33
[11] Ibid.,hal 33-34n
[12] Ibid.,hal 34

[13] Ibid.,

[14] Ibid.,hal 68

[15] Lampiran lampiran  dari Arba’in, no. 3 dan 4, hal 4.
[16] Lihat pengumuman sehubungan dengan menara 'Al Masih, dalam Khutba-i-Ilhamiyah, hal. 1.
[17] Sirat al-Mahdi, Jilid 2, hal 154.
[18] Di zaman Mirza, ilmu fisika belum berkembang seperti yang sekarang ini ( tahun 1975), demikian pula  manusia belum memiliki pengetahuan empiris tentang luar angkasa dan planet-planet lain yang cukup mendalam untuk bisa membayangkan bahwa konsep waktu dan ruang di bumi adalah tidak mutlak dan bahwa pengukuran waktu dan ruang di luar lingkup gravitasi bumi mungkin sangat berbeda. Karena itu, ia tidak dapat memberi kemungkinan bahwa seribu tahun di dunia ini bisa sama dengan sesaat di dunia lain atau, bahwa mungkin ada dunia yang sangat berbeda dari kita sendiri dalam hal perubahan, kematian, perasaan, yang diperlukan untuk kelangsungan hidup, dll. Manusia tampaknya memiliki kelemahan yang tak terelakan dalam kepercayan buta atas pengetahuan dan informasi dalam masanya sendiri dan cenderung untuk menyangkal semua yang belum diketahui atau dialami sampai saat itu. Dalam kata-kata Quran, "Tidak, mereka menuduh dengan kebohongan dengan pengetahuan yang mereka tidak bisa lampaui, bahkan sebelum penjelasan daripadanya telah mencapai mereka " ( Q 10:39).
[19] Izalah-i-Awham, hal. 25-26.

[20] Izalah-i-Awham, hal. 21.

[21] Ibid., hal. 143.
[22] Ibid., hal. 133-134
[23] Ibid, hal. 214
[24] Izalah-i-Awham, hal. 235
[25] Sulit untuk mengatakan bagaimana dan mengapa Mirza yang percaya pada dalil-dalil metafisika lainnya seperti wahyu, malaikat, surga, neraka, dll dan bagaimana ia mentaati agama. Memang, jantung agama yang dibimbing oleh iman pada yang gaib. Kutipan di atas hanya menggambarkan sejauh mana ia secara mental hormat secara berlebihan pada "modernisme", dan bagaimana ia, seperti para penulis dangkal lainnya dan orang-orang setengah berpendidikan dari abad kesembilan belas, mendewa-dewakan ilmu pengetahuan modern tanpa menempatkan secara benar domain dan keterbatasan inherent nya.
[26] Izalah-i-Awham, hal. 135

[27]  Izalah-i-Awham, hal. 90
[28] Perlu dicatat bahwa ayat ini mengacu pada hujan, dan seluruh ayat berbunyi demikian.: "Dan Kami turunkan air dari langit secara terukur dan Kami menyebabkan itu membasahi tanah, dan Kami tentu mampu mengeringkannya (dengan mudah,) (Al Quran  XL: 18)
[29] Perhitungan inipun salah ( penterjemah awal).
[30] Izalah-i-Awham, jilid 2 hal. 338
[31] Ibid, jilid 2  hal. 346
[32] Barahin-i-Ahmadiyah, hal. 228.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar