Pengaruh
Nurudin
Kita telah melihat sebelumnya bahwa ketika Nuruddin di Jammu
sehubungan dengan pekerjaan nya, Mirza tinggal di Sialkot, di mana ia bekerja
di kantor Komisaris Distrik.Keduanya ( Nuruddin dan Mirza) memiliki sejumlah kesamaan:
keduanya menikmati kontroversi dan perdebatan agama dan keduanya
ambisius.Tampaknya masuk akal bahwa mereka saling
mempengaruhi
dalam hal kepribadian. Maka, korespondensi antara mereka
dimulai pada 1885. Dalam koleksi surat-surat Mirza, surat paling awal untuk
Nuruddin yang kita temukan adalah per tanggal Maret
8,1885.Korespondensi ini berjalan terus tanpahenti dan menjadi begitu intim hingga mencakup masalah keluarga dan
perkawinan.Pada bulan Januari 1888, Mirza melakukan perjalanan ke Kashmir untuk
menemui Nuruddin dan tinggal bersamanya selama sebulan. Mirza terus
berhubungan dengan Nuruddin dalam inspirasinya, ramalan, dan beberapa
informasi baru dan beberapa
penelitian.
Dia bahkan mengeluh kepada Nuruddin tentang sikap dari ulama dan tudingan beberapa dari mereka bahwa ia
bukanlah seorang Muslim.Dalam surat tanggal 15 Juli 1890, ia menulis kepada
Nuruddin: "Dan Aku telah mendengar bahwa orang-orang mulai menyebut saya dengan nada berbisik sebagai
seorang kafir. Ini
merupakan petunjuk bahwa Allah Ta'ala ingin menunjukkan sesuatu yang besar.." [1].
Sampai saat itu (yaitu tahun 1890), Mirza hanya
mengaku bahwa ia adalah seorang mujaddid (
pembaharu) dan bahwa ia telah ditugaskan oleh Allah dan, menurut Mirza
Bashir Ahmad ( putra Mirza dari istri kedua dan penulis: Sirat Al Mahdi) , ia terus mengatakan bahwa dia
telah dibangkitkan untuk mereformasi orang-orang menuju cara Mesiah dari Nazaret dan bahwa ia
memiliki kemiripan tertentu dengan sang Mesiah[2].
Dalam Barahin ia mengungkapkan pendapat bahwa dominasi mutlak
Islam yang telah dijanjikan dalam ayat Alquran: "Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan Agama
Kebenaran untuk menyatakannya atas semua agama ", akan terpenuhi melalui Al Masihyang
Dijanjikan, yang kepulangannya kembali ke dunia telah disebutkan dalam hadis Nabi.
Mengenai dirinya sendiri, ia hanya mirip Al
masih pada tahap pertama hidup sang
Mesiah, yaitu hidup-Nya di bumi.
Seperti dalam kata-katanya sendiri:
"Ayat ini, (" Dialah
yang telah mengutus Rasul-Nya “) adalah sebuah nubuat yang,
dalam pengertian fisik dan politik mengacu pada Al
Masih, dan
janji dominasi lengkap dari agama Islam, yang telah dibuat akan digenapi
melalui kemenangan Al Masih danan ketika Hazrat- Masih (Nabi
Isa A.S.) akan datang ke dunia ini, Islam akan tersebar di seluruh
dunia, di segala negeri. Tapi telah terungkap bagi Sang Rendah Hati ini bahwa, dalam
pandangan.kemiskinan dan kerendahan hati, kepercayaan kepada Allah dan
pengorbanannya, dan dalam hal tanda tanda danpencerahan pencerahan, ia adalah teladan
dari bagian
pertama dari kehidupan Mesiah dan bahwa kodrat dari
Sang Rendah Hati dan Al Masih angat mirip seperti dua keeping
dari substansi yang sama, dua butir buah dari pohon yang sama, dan
kesamaan mencapai tingkat sedemikian
rupa sehingga
perbedaanya sangat kecil "[3].
-
Nasihat
Nuruddin
Dalam
kehidupan Mirza serta dalam sejarah sekte Qadiani, tahun 1891 adalah tahun yang
sangat penting. Pada tahun inilah Nuruddin, dalam salah satu suratnya,
menyarankan Mirza untuk mewartakan dirinya sebagai Al Masih yang dijanjikan.[4]
Kami belum dapat melihat ini surat Nuruddin, tapi jawaban yang
dikirim oleh Mirza mengacu pada nasihat dari Nuruddin. Surat Mirza ini termasuk
dalam koleksi surat-suratnya dan bertanggal 24 Januari 1891. Surat ini
mengungkapkan sumber-sumber intelektual, aktor intelektual, penulis sebenarnya
dari sekte Qadiani. Berikut adalah kutipan dari surat bersejarah ini:
Telah
dikatakan oleh Anda, Tuan, bahwa tidak ada salahnya menyatakan diri saya sebagai
Al Masih yang dijanjikan bahkan independen/tersendiri dari yang sebagaimana dimaksud dalam hadis Damaskus/Damsyik. Hamba yang rendah
hati ini tidak perlu menjadi replika/pengulangan
dari Al Masih. Saya hanya
ingin Allah untuk mengikutsertakan saya di antara para hamba-Nya yang rendah
hati dan patuh. Tapi kita tidak bisa menghindari ujian. Allah SWT telah membuat ujian sebagai satu-satunya cara
untuk kemajuan, sebagaimana Ia mengatakan: "Apakah manusia itu mengira
mereka akan dibiarkan (tak teruji) dengan ( sekedar) mengatakan ‘Kami percaya’,
dan mereka tidak akan diuji ?( Al Qur’an 29:2) [5]
Apa motif sebenarnya dari saran ini? Apakah itu hanya rabun jauh/ visi pribadi Nuruddin dan sifat ambisius
atau itu dibuat atas semacam dorongan dari kekuatan yang sedang berkuasa? Sulit
sekarang ini untuk mengatakan apa yang sebenarnya tersembunyi di balik saran
itu. Adapun kemungkinan yang kedua diatas, tampaknya tidak terlalu berlebihan
sama sekali jika kita ingat latar belakang historis munculnya gerakan baru ini.
Situasinya adalah bahwa Inggris telah
menyaksikan gerakan keagamaan Sayyid
Ahmad Shahid dan telah mengalami kesulitan yang cukup besar dari itu. Dalam
kurang lebih periode waktu yang sama, ada gerakan lain bangkit di Sudan, yang
dipimpin oleh Mahdi Sudan, dan ini juga telah memberi Inggris waktu yang sangat
sulit. Bukan tidak mungkin bahwa Inggris, beroleh secara kebetulan melihat, bangkitnya seorang pemimpin
agama yang dapat diandalkan, justru sangat didambakan, asal pemimpin seperti itu mampu merebut
kepercayaan dari umat Islam, melalui pengabdiannya pada kepentingan Islam,dan menangkap imajinasi religius orang dengan semangat keagamaannya,
ia bisa berfungsi sebagai sarana yang baik untuk mengamankan Inggris dari ancaman gerakan agama anti Inggris. Dan karena
umat Islam sudah percaya pada kedatangan Al Masih, penerimaan mereka sebagai
seorang Al Masih tidak bisa dianggap sebagi tidak mungkin. Seperti Al Masih,
jika ia berkhotbah kesetiaan kepada yang sedang berkuasa atas nama Tuhan dan
Islam, bisa menjadi pengabdian besar buat tujuan kepentingan (cause) Inggris. Namun tentu saja tak
ada sesuatu yang dapat dikatakan dengan mutlak pasti. Bagaimanapun surat dari
Mirza yang dikutip di atas tetap menjadi dokumen yang signifikan, dan mungkin
memiliki petunjuk tentang asal-usul sekte Qadiani.
Apa yang pantas diingat pada titik ini adalah bahwa sejauh hal
mengenai mengenai nabi Allah, misi mereka tidak tergantung pada saran dari luar.
Mereka menerima wahyu dari langit dan secara jelas dan pasti ( kategoris) diberitahu mengenai posisi dan misi mereka. Hati mereka penuh
dengan keyakinan dan sejak hari pertama mereka mengumumkan dan terus menekankan
apa yang mereka yakini sebagai kebenaran. Baik iman mereka sendiri, atau
panggilan mereka, tidak tergantung pada orang lain untuk mengarahkan perhatian
mereka ke arah itu. Dari hari pertama, mereka terus mengatakan:
Inilah aku
diperintahkan dan aku yang pertama dari mereka yang tunduk pada kehendak-Nya.
(Qur'an, 6: 163).
Kepercayaan
tentang Yesus
Kembalinya Yesus adalah pasal mapan dalam kepercayaan Islam. Kebangkitan Yesus ke
langit dan kembali ke dunia di masa depan adalah salah satu keyakinan Muslim,
yang memiliki dasar dalam Alquran dan juga dibuktikan oleh Hadis Nabi, dan di
mana umat Islam percaya secara konsisten.
Ibnu Kathir berkata bahwa hadis Nabi
tentang kembalinya Yesus yang cukup banyak sedemikain rupa sehingga dapat dianggap
sebagai salah satu yang didukung oleh rantai penyampaian yang tidak terputus.
Ibnu Hajar juga mengutip Abul Husain Abari dalam Fatah-al-Bari mengenai tawatur dari
hadis dalam perkara ini.
Shawkani telah menulis sebuah risalah khusus pada subjek ini
yang berjudul Tasdiq fi ma ja fi
al-muntazir wa at-Dajjal wa al-Masih
Tak satu pun dari tokoh agama penting tercatat sebagai menyangkal keyakinan
ini, bahkan tidak pula Mutazilah. Ibnu
Hazm, dalam karyanya yang terkenal Al-Fisal
fi al-Milal wa al-Nihal, menulis bahwa keyakinan ini dibangun berdasarkan
penyampaian terus menerus tak terputus . Pertanyaan ini telah dibahas secara
rinci dalam karya Anwar Shah Karhmiri Aqidat
al-Islam. Adapun segi rasional pertanyaan ini, jika seseorang menerima kemahakuasaan
Tuhan dan mendukung kesempurnaan sifatnyaNya, seseorang dapat tidak memiliki alasan
untuk meragukan kemungkinan pernyataan yang ditemukan dalam hadis hadis yang keaslian
dan keberlanjutannya telah mapan ( established). Di zaman kemajuan ilmiah luar biasa seperti yang kita kini
miliki, saat sejumlah hal yang sampai sekarang dianggap mustahil berlangsung di
depan mata kita, ketika satelit buatan manusia mengelilingi bumi setiap beberapa jam, ketika manusia mulai menjamah
angkasa luar, gagasan bahwa seseorang harus naik ke langit dan tinggal di sana dan
hidup untuk jangka waktu tertentu tidak dapat dianggap sebagai tak terbayangkan.
Untuk mengajukan keberatan yang didasarkan pada konsep-konsep Yunani tentang imu
falak atau pada gagasan gagasan usang lainnya akan tampak dengan jelas sebagai kekanak-kanakan
dalam masa kemajuan ilmu pengetahuan ini. Muslim telah mengetahui ini dan mempercayai
ini.
Hadis dari Nabi menyebutkan ini dan, lebih lagi, karena
kesulitan keadaan, kaum Muslim telah mengembangkan suasana hati untuk
mengharapkan bahwa tokoh (personality) tertentu yang hebat dan secara ilahiah terilhami,
akan muncul tiba-tiba dan mengatur hal yang benar bagi mereka. Ketika abad,
ketiga belas hijrah mendekati akhir, suasana pengharapan ini bahkan menjadi
lebih intens. Nuruddin, karenanya, memiliki alasan untuk menganggap bahwa
dalam segi popularitas yang diperoleh oleh Mirza berkat pengabdian keagamannya,
klaim Al Masihnya sangat mungkin( likely) untuk diterima oleh kaum muslimin.
MIRZA MENERIMA SARAN
Cara di mana Mirza menolak untuk menerima saran yang dibuat oleh
Nuruddin, dan semangat kerendahan hati dan kesalehan yang dia tekankan (evinced) dalam suratnya mengenai
hal ini, sangat berharga dan menambah reputasi nya. Tapi bagi siapa pun yang
mempelajari karya-karyanya dalam urutan waktu, sulit untuk menjaga rasa hormat ini
lebih lama. Karena kita menemukan dia begitu cepat menerima saran dari Nuruddin
- yang telah ditolak sebelumnya untuk mewartakan dirinya sebagai ulangan Al masih.
Jika kita periksa
karya-karya Mirza, dengan mudah kita membaginya menjadi dua tahap. Tahap pertama terdiri dari karya-karya
di mana ia berusaha hanya untuk membuktikan keabsahan Islam dan menyangkal
agama-agama lain. Dalam karya-karya ini, tidak ada klaim tentang ke Al Masih-an[6]. Ini diikuti dengan tahap ketika ia membuat klaim itu dan melanjutkan
membuat beberapa klaim lain tentang dirinya, setiapnya, semakin lebih congkak dan semakin megah dari
yang sebelumnya. Buku pertama yang ia tulis
selama tahap ini adalah Fath-i-Islam, yang diterbitkan pada tahun 1891, tahun
yang menandai titik balik-utama dalam karier Mirza tersebut. Dalam karya ini,
kita bisa melihat bahwa dia mengaku sebagai pengulangan Al Masih dan sebagai Al Masih yang dijanjikan. (Mirza Bashir Ahmad
menulis dalam Sirat al-Mahdi : "Al
Masih yang Dijanjikan telah menulis Fath-i-Islam
menjelang akhir tahun 1890. Ini adalah karangan pertama di mana dia menyebutkan
dirinya sebagai pengulangan ( replika) Al Masih dan bahwa Al Masih dari Nazaret
telah meninggal. Dengan kata lain, ini adalah pengakuan pertama dari klaimnya
sebagai Al Masih yang dijanjikan.. "(Jilid 1, hlm 267-268). Hal ini
menunjukkan bahwa penulis juga menganggap 'pengulangan Al Masih' dan 'Al Masih yang Dijanjikan
' adalah istilah yang sama) (7. Lihat Barahin-i-Ahmadiyah, Surmah-i Chashm-i Aryah
dan Shahna-i Haq.)
"Jika kalian tulus, maka bersyukurlah dan bersujud syukur; sebab, ini adalah
waktu dimana leluhur kalian terus
menunggu sampai mereka meninggal, waktu yang ditunggu oleh jiwa-jiwa yang tak
terhitung jumlahnya yang telah berangkat (ke dunia berikutnya) , karena
sesungguhnya, kalian telah mencapai saatnya. Sekarang terserah kalian untuk
menghargainya atau tidak. Saya akan mengatakan ini terus menerus dan tidak akan berhenti mengumumkan bahwa aku lah
yang Dia kirim pada waktu yang tepat dalam rangka pembaharuan (reformasi) kaum sehingga dengan demikian memulihkan kembali
lagi agama di hati mereka ( to revive afresh religion) . Saya telah dikirim
sebagaimana seseorang dikirim setelah Kalim
Allah ( Musa a.s.) dan yang jiwanya, setelah banyak kepedihan besar selama pemerintahan
Herodius,dinaikan ke langit. Jadi, ketika Kalim kedua Allah, yang, memang, yang
dulu adalah yang pertama, dan penghulu para nabi, datang untuk menindas Firaun
lainnya, menyangkut seseorang yang dikatakan:
Kami telah kirimkan kepada kalian
(wahai manusia) seorang Rasul, untuk menjadi saksi atas kalian, bahkan ketika Kami mengirim seorang rasul
kepada Firaun; (LXXXXX: 15). Kemudian dia juga, yang - mirip dengan kalim pertama (i.e. Musa a.s.) dalam hal karyanya,
dan namun lebih mulia dalam kedudukannya, dijanjikan menjadi pengulangan Al Masih. Dan
replika Al Masih ini, yang telah diberi kekuatan, sifat dan ciri-ciri dari Al
Masih putera Mariam turun dari surga dalam zaman, mirip dengan zamannya, dan
sekitar selang waktu yang hampir sama antara kalim pertama dan Al Masih anak
Mariam,yakni, pada abad keempat belas Dan turunnya ini adalah bersifat spiritual
dalam cara yang sama seperti setelah kebangkitannya. insan sempurna turun dalam
rangka pembaharuan kaum. Dan ia juga turun dalam masa yang sama dalam segala hal,
dengan masa turunnya Al Masih putera Mariam, agar hal itu bisa tetap menjadi tanda
bagi mereka yang mengerti. ".[7]
Meskipun, bagian ini dari tulisan Mirza ada sangat membingungkan dan rumit (dan mungkin disengaja
dibuat begitu ), itu jelas menunjukkan klaim baru bahwa ia adalah 'pengulangan Al
Masih'. Tiga dari karya-karyanya, yaitu Fath-i-Islam,
Tauwzih-i-Maram, dan Izalah-i-Awham,
semua berkaitan (deal) dengan hal yang
sama dan sering mengulangi klaim ini. Dalam Fath-i-Islam
di tempat lain Mirza menulis:
Jadi selain dari kemiripan dengan
para nenek moyang luhur lainnya dianugerahkan kepada hamba ini, ada juga kemiripan
khusus dengan sifat Hazrat Masih (a.s.) dan karena kemiripan itulah hamba ini
dikirim atas nama Al Masih dalam rangka untuk menghancurkan sampai berkeping-keping,
kepercayaan salib. Oleh karena itu, aku telah diutus untuk menghancurkan salib
dan membasmi para babi. Aku telah turun dari surga surga, diiringi oleh para
malaikat di kanan dan di kiriku.[8]
Dalam bukunya Tawzih-i-Maram,
yang merupakan buku berikutnya setelah Fath-i-Islam
dia membuat pernyataan eksplisit:
Dengan tingkat ketidak sepakatan
tertentu, Muslimin dan kaum Kristen percaya bahwa Al Masih, putra Maryam,
dibangkitkan dari keberadaan dasar ini ke surga surga dan yang pada beberapa masa
lainnya dia akan turun dari surga. Saya telah menulis tentang kesalahan pandangan ini dalam
risalah saya dan juga menyatakan bahwa turunnya ( dari surga) ini bukan berarti turunnya Al Masih anak Mariam dalam arti sebenarnya, melainkan lebih
merupakan metafora ekspresi, menginformasikan munculnya pengulangan Al
Masih dan yang mana, berdasarkan petunjuk dan wahyu dari Tuhan, berlaku untuk hamba
yang rendah hati ini.[9]
TAFSIRAN KHAYALI
Karena Nuruddin memiliki pengetahuan yang luas mengenai hadis
dari Nabi, ia selalu mengalihkan perhatian Mirza kearah kesulitan-kesulitan dalam membenarkan klaim-klaimnya
dan juga digunakan untuk membantu dia dalam memecahkan kesulitan-kesulitan itu.
Masalah bagaimana caranya menceritakan tanda tanda yang telah disebutkan berkenaan dengan Al
Masih, diperlukan kecerdasan luar biasa. Berikut adalah beberapa contoh dari
kecerdasan ini- dan kesemau-mauan yang menyertainya (having run riot).
Tradisi-tradisi dimana Mirza mendasarkan klaimnya atas ke Al
Masih-an juga menyebutkan sejumlah rincian yang berkaitan dengan turunnya Al
Masih. Salah satunya adalah bahwa Al Masih akan turun di Damaskus. Sekarang,
jika Mirza adalah Al Masih yang
dijanjikan, bagaimana hal ini dapat dibenarkan dalam situasi (in the light of) tradisi yang disebutkan di
atas? Jelas bahwa Damaskus dan Qadian berada jauh dari satu sama lain. Namun
demikian, kejanggalan itu tidak terpikirkan sang Mirza . Nuruddin lah yang mengingatkannya
tentang hal itu. Mari kita mengacu sekali lagi ke sang Mirza sendiri tentang persoalan
ini:
"Hamba yang rendah ini sejauh ini tidak menyibukan dirinya
dengan mencoba untuk mencari tahu arti dari ini (yaitu Damaskus), ketika
seorang teman dan kekasih dipercaya, Maulavi Hakim Nuruddin datang ke sini ke Qadian dan dia membuat permintaan yang
ditujukan ke Allah untuk mengungkapkan
pentingnya Damaskus dan dua istilah ambigu lain yang terjadi dalam Tradisi
bersangkutan dalam Shahih Muslim.
Karena pada masa itu, aku sakit dan pikiran saya tak mampu giat berusaha. Saya
tak mampu untuk
memikirkan hal ini( to attend to this matters).
Hanya sedikit upaya yang membawa saya ke penjelasan dari kata,
yang mana adalah kenyataan tentang Damaskus, terungkap kepada saya.[10]
Kemudian, ia menjelaskan tentang pencerahannya tentang makna
Damaskus dengan istilah ini:
Jadi, harus jelas bahwa dalam penafsiran kata 'Damaskus' telah
di wahyukan Tuhan kepada saya bahwa disini kota yang disebut sebagai Damaskus yang dihuni oleh orang-orang yang
memiliki sifat Yazid, yang mengikuti praktek-praktek dan gagasan-gagasan Yazid yang tercemar, yang di dalam hati-tidak
ada kasih kepada Allah dan Nabi ', tidak ada penghormatan untuk
perintah-perintah Allah,dan telah menjadi biasa untuk mengikuti kehendak mereka
dan yang menghamba pada nafsu rendah seperti
menumpahkan darah murni dan suci yang bahkan tampaknya bagi mereka sebagai
mudah dan sepele, yang tidak percaya pada akhirat dan untuk siapa keberadaan
Tuhan adalah masalah rumit yang membingungkan pemahaman mereka. Dan karena
dokter harus datang ke orang sakit, maka adalah penting bahwa Al Masih harus
muncul antara orang-orang seperti itu.[11] .
Jadi, 'turunnya Massiah di Damaskus' jelas menunjukkan bahwa ada
seseorang yang merupakan pengulangan Al Masih, yang juga menyerupai Husain
karena kemiripan antara kepribadian kedua beliau ini (Al Masih dan Husain), dan
yang akan, turun dalam rangka untuk memperingatkan Yazidi karena mereka kerabat orang Yahudi. [12]
Ia juga menambahkan:
"Lalu Dia mengatakan kepada saya bahwa orang-orang ini
memiliki sifat Yazid dan kota ini (Qadian) adalah serupa dengan Damaskus. Jadi,
Allah Ta'ala mengutus hamba ini ke Damaskus ini untuk tujuan yang besar di sisi
timur, di sebelah menara putih masjid dimana siapapun yang masuk akan aman.
Diberkatilah Dia yang mengutus Aku turun di tempat ini. [14]
Dua helai kafan kuning
Dalam menafsirkan hadis yang menyinggung rincian tertentu dari
turunnya Al Masih dan dalam mengamalkan nya pada dirinya sendiri, sang Mirza selalu bermegah megahan, mengedepankan arti
yang paling jauh, dan mengajukan pengertian yang paling konyol - seolah-olah ia
yakin bahwa pembacanya benar benar mudah dikelabui. Sebagai contoh,
lawan-lawannya pernah menunjukkan bahwa hadis atas dasar mana dia berdebat
tentang persoalannya dan atas mana ia mendasarkan klaimnya, juga menyatakan
bahwa, pada saat, Al Masih akan mengenakan dua helai kafan kuning. Menjawab
itu, ia mengatakan:
Saya penderita
sakit yang kronis. Dan dua helai kafan yang disebut hadis sebagai yang akan dikenakan oleh Al
Masih ketika ia akan turun, ada dalam diriku, dan kedua helainya ini, menurut
ilmu penafsiran mimpi, adalah dua penyakit. Jadi, satu helai ada di bagian atas
badan saya, jadi sakit kepala dan pusing, insomnia dan jantung berdebar datang kepadaku dalam bentuk serangan
penyakit. Helai lain yang berada di bagian bawah tubuh saya adalah diabetes
yang telah aku derita untuk waktu yang cukup lama sehingga sering saya kencing
seratus kali dalam sehari semalam, dan karena seringnya buang air kecil ini saya
menderita semua jenis penyakit kelemahan yang umumnya disebabkan oleh penyakit semacam itu.[15]
Menara Timur kota Damaskus
Hadis Nabi juga menyebutkan menara Timur kota Damaskus sebagai
tempat di mana Al Masih akan turun. Alih-alih menafsirkan dengan cara fantastis
lainnya, seperti yang biasa, apa yang dia lakukan dalam hal ini, adalah
membangun sebuah menara di bagian timur kota Qadian. Dia membuat keputusan ini
pada tahun 1900, menurut Sirat al-Mahdi,
dan mengundang kemurahan hati umat untuk menyumbang.[16] Pada tahun 1903, ia bahkan
meletakkan batu pertamanya. [17] Namun penyelesaiannya,
bagaimanapun, tidak bisa terjadi dalam waktu hidupnya, dan diselesaikan oleh
anaknya Mirza Bashiruddin Mahmud.
SATIR DAN EJEKAN
Tiga karya yang disebutkan di atas juga secara kasar
mengungkapkan perangai buruk Mirza. Karya karya itu penuh sindiran dan ejekan ditujukan terhadap
lawan dan berisi caci maki begitu pahit sehingga buku-buku ini sulit untuk
sejajarkan diantara buku-buku
bermartabat dengan tujuan mulia. Gaya dan cara pengungkapan yang diterapkan oleh Mirza dalam buku buku ini
bahkan tidak dari keugaharian dan
kemartabatan dari para penulis, manalagi dari para nabi dan para reformis agama.
Cara dimana ia mencemooh keyakinan atas tetap hidup dan kembalinya Al Masih ke
bumi dan pada mereka yang menganut ( subscribe) hal itu, mengingatkan salah satu jenis kecerdasan yang lebih terkait
dengan badut badut-istana ( court-jester) daripada dengan intelektualitas
serius. Lagi pula, jenis keterampilan debat dan permainan kata yang ia gunakan tidak berkait dengan cara cara pengungkapan kenabian. Ketika
mencoba untuk menunjukkan ketidak mungkinan rasional ketetap hidupnya Al Masih
di surga, ia menulis:
"Antara lain, salah satu keberatan adalah bahwa bahkan jika
kita mengandaikan bahwa Al Masih tidak mencapai surga, bersama dengan jasadnya,
maka hal itu akan memaksa kita untuk mengakui bahwa jasadnya pasti akan terpengaruh di surga, oleh efek
waktu, seperti semua manusia lain dan tubuh hewan terpengaruh,dan bahwa
perjalanan waktu tak pelak lagi akan mengarahkannya pada suatu hari pada
kematiannya. Jadi dalam kasus seperti itu, hal itu harus diterima sehubungan
dengan Al Masih yang setelah menyelesaikan masa kehidupannya, ia harus menemui
ajalnya di surga.[18], dan harus dimakamkan di
pemakaman penduduk dari suatu planet (kemungkinan penghunian yang ) diterima di
masa sekarang. Dan bahkan jika kita menganggap keberadaan hidupnya, tidak
diragukan lagi bahwa dia akan sekarang telah menjadi orang tua jompo dan hampir
bisa dikatakan tidak akan mampu menegakkan satu ibadahpun. Dalam keadaan
seperti itu, turunnya ia ke bumi tampaknya akan mengakibatkan tak lain dari kesusahan saja.[19]
Di tempat lain, dia membuat komentar sebagai berikut pada bagian
dari hadis yang menyebutkan bahwa Al Masih akan "membunuh babi."
"Apakah tugas yang sangat baik yang akan dilakukan oleh Al
Masih setelah ia datang ke bumi, hanya untuk pergi berkeliling, disertai dengan
sekumpulan anjing, untuk berburu babi? Jika ini benar, maka Sikh, Chamars dan
Sansis dan Gandils yang mencintai perburuan babi, punya alasan untuk senang,
karena mereka akan makmur. [20]
Di tempat lain ia membuat pengamatan berikut mengenai turunnya Al Masih dimasa yang akan datang :
Waspadalah supaya kamu jangan ditipu oleh seseorang yang mula mula menaiki balon udara dan kemudian turun dari sana di
depan Anda. Jadi, berhati-hatilah! Jangan anggap orang seperti itu sebagai
putra Mariam karena kemukminan Anda .[21]
Di tempat lain ia masih mengacu pada pertanyaan yang sama dengan
cara berikut:
Saudara-saudara, pertanyaan ini berdiri pada dua pijakan (two legs):
"(1) Satu, turunnya putra Mariam dari langit dengan tubuh fananya
nya menjelang akhir waktu. Pijakan pertama ini telah dipatahkan oleh Al-Quran
dan juga beberapa hadis dengan memberi khabar kematian Al Masih, anak Mariam.
"(2) Pijakan kedua adalah munculnya Dajjal yang dijanjikan menjelang akhir waktu. Sekarang pijakan ini
telah dipecah menjadi dua bagian oleh Hadis yang telah sepakati secara bulat yakni Sahih
Muslim dan Sahih Bukhari yang
telah diriwayatkan oleh sahabat penting, dan juga oleh disebutnya Ibnu Saba sebagai Dajjal yang dijanjikan dan, akhirnya, dengan membunuh dirinya
setelah membuatnya bergabung dengan umat Islam. Sekarang, bahwa kedua pijakan
dari argumen itu telah dipatahkan, bagaimana dan dengan dukungan siapa bangkai yang tidak memiliki kedua landasan ini
berdiri setelah tiga belas abad ?[22]
Berikut ini adalah contoh lain dari macam tulisannya:
Dapatkah dibuktikan bahwa telah terjadi kesepakatan mengenai Hadis
bahwa Al Masih akan bepergian memburu babi di hutan dan Dajjal yang akan melakukan
tawaf (memutari Kabah) dan bahwa anak Maryam akan melakukan tawaf wajib seperti orang sakit, dibopong dua laki-laki.
Apakah tidak diketahui bahwa tafsir-tafsir
(exegetists) hadis-hadis ini telah membiarkan dugaan dugaan mereka lepas
tanpa batas?[23]
Di tempat lain, ia mengatakan berikut di tujukan ke ulama ulama Sunni (harafiah: 'Salah
satu jalan)'. Suatu istilah yang umumnya diterapkan pada sekte Muslim terbesar
yang termasuk salah satu dari empat sekolah hukum Islam ortodoks. ) :
"Wahai para ulama yang terhormat! Sementara kematian Al
Masih umumnya dibuktikan oleh Al Quran Karim, dan dari awal hingga kini,
beberapa pernyataan tertentu dari beberapa sahabat dan dari beberapa penafsir (musafir) , terus menerus membunuh dia (
i.e. berpegangan bahwa Yesus sudah mati- Penterjemah). Lalu, mengapa Anda mengambil
sikap keras kepala yang sia sia? Biarkan Tuhan kaum Kristiani mati? Berapa lama
Anda akan terus menyebutnya sebagai Yang Hidup? Sang Baka? Apakah ada batas
untuk ini?[24] "
DAMPAK
PENGETAHUAN MODERN
Karya-karya dari Mirza ditulis selama periode ini juga
menunjukkan bahwa ia sangat terkesan dengan kemajuan ilmu alam dan dengan
pengetahuan ilmiah yang membangkitkan minat yang besar dan keingintahuan di
India pada hari-harinya. Tingkat pengetahuan ilmiah yang dicapai oleh Barat
pada saat itu akan tampak menjadi sederhana kalau dinilai oleh tingkat kemajuan
ilmiah sekarang. Lebih lagi pengetahuan Mirza atas pengetahuan pengetahuan itu berasal
dari tangan kedua dan sangat dangkal. Tampaknya salah satu sandaran utama
penolakannya terhadap gagasan kembalinya Al Masih adalah bahwa ide berlawanan
dengan fakta-fakta yang diterima ilmu pengetahuan modern. Dia berpikir bahwa
keyakinan semacam ini akan memaparkan
agama pada ejekan dari orang-orang berpendidikan. Ia menulis dalam Izala-i-Awham:
"Dalam era yang berpikiran-filosofis ini, yang telah dengan
cepat mendatangkan penghalusan budi dan kemajuan kecendekiawanan, merupakan kesalahan besar untuk berpikir bahwa seseorang
akan mampu mencapai keberhasilan agama sembari tetap berpegang pada keyakinan
ini.[25] Jika hal-hal tidak berdasar
seperti itu menyebar di padang pasir Afrika atau di antara penghuni gurun
Arabia atau di beberapa pulau pulau terpencil atau di antara kelompok orang liar, mereka
mungkin menyebar dengan mudah. Tapi kita tidak bisa menyebarkan ajaran tersebut
yang benar-benar bertentangan dengan akal sehat dan pengalaman dan ilmu alam
dan filsafat dan yang juga tidak dapat dibuktikan (berasal) dari Nabi kita (kepadanya menjadi salam dan damai dari Allah),
kecuali, hadis yang cukup menentang ini,
dibuktikan diantara orang-orang berpendidikan. Kita juga tidak dapat menyampaikan
ini kepada orang-orang yang cenderung skolastik dari Eropa dan Amerika, yang
menyingkirkan segala absurditas dari agama mereka sendiri. Mereka yang di dalam
pikiran dan hatinya cahaya pengetahuan
baru telah mengembangkan kekuatan manusia (sic.),
bagaimana bisa mereka percaya pada
hal-hal yang keluar dan keluar dari penghinaan terhadap Allah dan merupakan
suatu pembatalan dari prinsip-prinsip Kitab-Nya? [26]"
Saat membaca bagian-bagian seperti ini, orang akan sulit untuk
percaya bahwa mereka bisa saja ditulis oleh pegarang Surmah-i-Chashm-i-Arya, oleh penulis yang sama yang telah mendebat dengan kuat demi
kemungkinan dan kejadian yang sebenarnya dari mukjizat dan telah menyalahkan
pandangan bahwa pengertian metafisis dapat ditolak atas dasar akal budi atau
pengalaman-pengalaman manusia yang terbatas.
Dalam buku ini Mirza telah berpendapat atas dasar angka angka Jummal dan di sini cara mengemukakan
pendapatnya menjadi sangat dekat dengan cara para misionaris dari sekte Batiniyah yang biasanya menggunakan
angka-angka sebagai bukti-bukti argumen mereka bahkan dalam hubungan dengan
keyakinan agama yang mendasar.
"Perhatian saya telah
ditarik melalui Kashf (Wahyu suatu rahasia , untuk seorang sufi atau orang suci
oleh kasih karunia dan kuasa Allah) kearah sifat angka dari huruf dari nama nama berikut dimana saya telah
diberitahu tentang Al Masih yang muncul di akhir abad ketiga belas (Allah telah mengatakan kepada saya) yang mana telah saya simpan tanggalnya dalam mengingat-ingat nama
(bahwa Dia telah disimpan dalam tampilan era
(penampilan Al Masih) dalam memberikan nama ini (untuk saya) dan nama itu adalah "Mirza Ghulam Ahmad Qadiani" Penjumlahan angka dari nama ini persis 1300, dan dalam kota ini yaitu Qadian
tidak ada nama lain kecuali hamba yang bernama
Ghulam Ahmad. Dan telah dimasukkan ke dalam hati saya bahwa pada saat ini tidak
ada lain kecuali hamba yang memiliki nama 'Ghulam Ahmad Qadiani. " Dan ini
telah menjadi kebiasaan (practise) Allah terhadap hamba ini bahwa Dia, Yang Maha Murni,
mengungkapkan rahasia dari sifat sifat angka dalam huruf abjad. "[27]
Di tempat lain ia menulis:
"Sekarang hal itu dibuktikan oleh penelitian ini, bahwa Al-Quran
mengandung ramalan tentang kedatangan Al Masih, anak Mariam, menjelang akhir waktu. Kurun
waktu (the period) penampilan Al Masih, yang telah ditetapkan oleh Quran
sebagai 1400 (AH) juga telah diterima oleh banyak orang suci berdasarkan kashf ( pencerahan) mereka. Dan ayat
Quran : ‘ Dan Kami pasti mampu
mengeringkannya’ [28], yang mana menurut
(perhitungan) jummal, memuat angka1274[29], dan ini menunjuk pada
malam-malam dalam almanak qoma
riah Islam yang
mengandung petunjuk tersembunyi untuk munculnya bulan baru yang bisa ditemui
pada angka angka Jumal dari Ghulam Ahmad Qadiani.[30]
Dalam buku-buku ini, ketika mencoba untuk menjelaskan hadis dari
Nabi SAW dan menyatakan bahwa semua mengacu kepadanya, Mirza telah sangat lalai
dari semua pertimbangan,dengan memberi kuasa penuh pada angan angannya . Pada
kenyataannya, hampir tidak dapat dibayangkan bahwa setiap orang harus mengambil
kebebasan seperti dalam menjelaskan bahkan tulisan atau komposisi penulis biasa
dan penyair untuk tidak mengatakan Hadis Nabi. Untuk memenuhi tujuannya, Mirza
telah mengambil posisi bahwa kata-kata dari Hadis bersifat kiasan atau
metafora. Sekali lagi, dalam hal ini, dia tampaknya mengikuti jejak dari kaum Batinis, yang biasa menjelaskan
istilah-istilah agama – yang mana teks serta artinya
ada kesepakatan yang berlanjut tak terputus - dalam suatu cara yang
terlalu jauh mengada-ada dan konyol, tanpa ada dasar tata bahasa atau akal
sehat untuk mendukung mereka. Dan dengan demikian mereka telah membuka pintu banjir
ateisme dan nihilisme.
Dalam Izalah’-i-Awham,
sang Mirza berulang kali menegaskan bahwa pengetahuan tentang anak Mariam dan Dajjal ( Anti kristus) belum sepenuhnya
jelas bagi Nabi dan bahwa dalam hal ini Allah hanya mengaugerahi kepadanya
hanya dengan beberapa petunjuk ringkas.[31]
AL MASIH DI KASHMIR
Sang Mirza, terus "merenungkan" kematian Al Masih sampai,
pada akhirnya, ia menyimpulkan bahwa kematian telah terjadi di Kashmir dan
bahwa di sanalah ia di makamkan. Dalam hubungan ini, menurut kebiasaannya, ia
melakukan banyak penelisikan yang yang
menunjukkan kesuburan daya khayal nya bahkan pada tingkat yang kekanak-kanakan.
Dia telah mencoba untuk membuktikan bahwa pengucapan Kashmir dalam bahasa Kashmir
adalah "Kashir", dan tampaknya bahwa kata ini, pada kenyataannya,
adalah susunan kata Ibrani, yang terdiri dari 'K' yang digunakan untuk menunjukkan
kesamaan, kemiripan dan lain lain dan 'Ashir' yang dalam bahasa Ibrani berarti
Suriah. Jadi kata 'Kashir' dalam bahasa Ibrani berarti 'seperti Suriah'. Atas
dasar ini, Mirza kemudian menambahkan bahwa ketika Nabi Isa a.s. hijrah dari
Palestina ke bagian India, yang karena keunggulan cuaca, iklim yang nyaman dan
hijau dan kesegarannya, memiliki kemiripan dekat dengan Suriah , Tuhan
menamakannya "Kaashir", dalam rangka menghibur dan memuaskan beliau.
Penggunaan kata yang berlebihan menyebabkan menghilangkan huruf 'a' . Dan
hasilnya,menjadi 'Kashir. " Kemudian, dia membuktikan bahwa makam 'Budhasaf’ di wilayah Khan Yar Srinagar, sebenarnya makam
Isa yang lebih populer dikenal sebagai "pangeran”. [32] Dalam mencoba untuk mendukung
kepingan penelitiannya ini, Tak ada kemungkinan kemungkinan yang terlalu jauh
untuk ia jajagi. argumen, dengan hasil bahwa tulisannya pada titik ini lebih menyerupai
puisi dan fiksi daripada apa yang
biasanya dianggap sebagai tulisan akademik. Spekulasi spekulasi yang tak
terkendali dari para orientalis, yang dikenal suka untuk mengambarkan bukit
sebagai gunung, bukan apa apa bila dibandingkan dengan tulisan tulisan Mirza.
Hal ini membawa kita ke sebuah tonggak yang pasti dalam
pengalaman rohani dan klaim Mirza tersebut. Pada tahap ini, ia tegas mengklaim
sebagai "Al Masih yang Dijanjikan" dan mencoba untuk membuktikan ini
dengan apa yang disebut sebagai argumen 'rasional dan tradisional’.
[4] Meskipun
dalam suratnya Nuruddin menggunakan istilah : “ Pengulangan Al Masih”, studi Fath-i-Islam dan
Izalatal-Awham menunjukkan bahwa “Pengulangan Al Masih” dan “Al Masih yang
dijanjikan” diperlakukan sebagai istilah yang sama dan digunakan oleh Mirza
tersebut secara bergantian. Sebagai contohnya: "Keturunan ini tidak berarti turunnya
sebenarnya dari Al Masih, anak Maria, melainkan hanya sebuah ekspresi figuratif
yang menginformasikan kedatangan seorang seperti Al Masih yang mana, menurut
pernyataan dan inspirasi Ilahi , adalah yang rendah hati ini." ( lihat Tauzih-i
Maram, hal. 2).
[6] Ada tiga buku yang masuk dalam
tahap ini: Barahin-i Ahmadyah, Surmah-‘i
Chasm-i Aryah Sharah-‘i Haqq.
[9] Tawzih-i-Maram, hal.2.
[18] Di zaman
Mirza, ilmu fisika belum berkembang seperti yang sekarang ini ( tahun 1975),
demikian pula manusia belum memiliki
pengetahuan empiris tentang luar angkasa dan planet-planet lain yang cukup
mendalam untuk bisa membayangkan bahwa konsep waktu dan ruang di bumi adalah
tidak mutlak dan bahwa pengukuran waktu dan ruang di luar lingkup gravitasi
bumi mungkin sangat berbeda. Karena itu, ia tidak dapat memberi kemungkinan
bahwa seribu tahun di dunia ini bisa sama dengan sesaat di dunia lain atau,
bahwa mungkin ada dunia yang sangat berbeda dari kita sendiri dalam hal
perubahan, kematian, perasaan, yang diperlukan untuk kelangsungan hidup, dll.
Manusia tampaknya memiliki kelemahan yang tak terelakan dalam kepercayan buta
atas pengetahuan dan informasi dalam masanya sendiri dan cenderung untuk
menyangkal semua yang belum diketahui atau dialami sampai saat itu. Dalam
kata-kata Quran, "Tidak, mereka
menuduh dengan kebohongan dengan pengetahuan yang mereka tidak bisa lampaui,
bahkan sebelum penjelasan daripadanya telah mencapai mereka " ( Q
10:39).
[25] Sulit untuk mengatakan bagaimana dan
mengapa Mirza yang percaya pada dalil-dalil metafisika lainnya seperti wahyu,
malaikat, surga, neraka, dll dan bagaimana ia mentaati agama. Memang, jantung
agama yang dibimbing oleh iman pada yang gaib. Kutipan di atas hanya
menggambarkan sejauh mana ia secara mental hormat secara berlebihan pada
"modernisme", dan bagaimana ia, seperti para penulis dangkal lainnya
dan orang-orang setengah berpendidikan dari abad kesembilan belas, mendewa-dewakan ilmu
pengetahuan modern tanpa menempatkan secara benar domain dan keterbatasan
inherent nya.
[28] Perlu
dicatat bahwa ayat ini mengacu pada hujan, dan seluruh ayat berbunyi demikian.:
"Dan Kami turunkan air dari langit secara terukur dan Kami menyebabkan itu
membasahi tanah, dan Kami tentu mampu mengeringkannya (dengan mudah,) (Al
Quran XL: 18)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar