Bab I-1 - Muslim India pada Abad Kesembilan Belas
Abad kesembilan belas adalah periode istimewa penting dalam sejarah modern . Abad ini adalah abad di mana kerusuhan intelektual dan berbagai macam konflik dan ketegangan mencapai klimaks di dunia Muslim. India salah satu pusat utama dari kerusuhan dan ketegangan ini.
Di sini konflik dan ketegangan antara Barat dan budaya Timur, antara sistim pendidikan yang lama dan sistim pendidikan yang baru, bahkan, antara pandangan dunia lama dan pandangan dunia baru, dan antara Islam dan Kristen memuncak. Kekuatan kekuatan yang bersangkutan terjebak dalam perjuangan sengit untuk kelangsungan hidup.
Gerakan ini dimulai pada saat perjuangan terkenal tahun 1857 untuk kemerdekaan negara itu telah ditindas. Hal ini telah mengejutkan Muslim secara mendalam, hati mereka terluka, dan pikiran mereka lumpuh. Mereka dihadapkan dengan bahaya perbudakan ganda: politik maupun budaya.
Di satu sisi, kekuatan pemenang, Inggris telah meluncurkan kampanye gencar untuk menyebarkan sebuah budaya baru dan peradaban di India. Di sisi lain, para misionaris Kristen menyebar di seluruh India giat mencari pengikut dari penganut yang agama lain. Sekedar dapat mengguncang keyakinan umat Islam dalam keyakinan mereka sendiri dan untuk membuat mereka skeptis pada dasar dari syariah Islam, meskipun mereka mungkin tidak menjadi Kristen, dianggap oleh mereka sebuah prestasi yang cukup penting.
Generasi baru Muslim, yang belum sepenuhnya kukuh dalam Islam, adalah target utama mereka. Sekolah-sekolah dan perguruan tinggi yang diperkenalkan bersama dengan pola budaya asing adalah lahan utama dari kegiatan yang diarahkan untuk menyebarkan kebingungan intelektual. Upaya ini bukannya tidak berhasil sama sekali dan bahkan, Ke Kristenan mulai terjadi di India.
Tetapi bahaya utama pada periode ini adalah bukan ke murtadan (dalam arti pergantian agama yang nyata dari Islam ke Kristen), tetapi skeptisisme dan ateisme. Perdebatan agama antara para ulama Muslim dan para misionaris Kristen sering terjadi, yang yang pada umumnya mengarah pada kemenangan para ulama Islam. Hal ini mengukuhkan keunggulan intelektual dan vitalitas yang lebih besar dari Islam atas Kekristenan. Namun demikian, keresahan intelektual, skeptisisme, dan kelemahan iman tumbuh dengan cepat.
Ini adalah salah satu aspek dari situasi: situasi berhadapan langsung dengan ancaman dari luar. Melihat kedalam, situasi bahkan lebih buruk. Ketidak-sepakatan bersama antara sekte Muslim telah mencapai proporsi yang mengerikan. Setiap sekte sibuk mencela yang lain. Polemik sektarian adalah kejadian sehari hari, yang sering mengarah pada bentrokan dengan kekerasan, bahkan pertumpahan darah,pada sengketa atas isu-isu sektarian yang kontroversial. Seluruh India dalam cengkeraman apa yang mungkin disebut perang saudara sektarian. Hal ini juga telah melahirkan kebingungan mental dan membangkitkan pelanggaran pelanggaran dalam masyarakat Muslim dan kejijikan pada masyarakat dan telah sangat merusak prestise para ulama Muslim dan Islam sendiri.
Di sisi lain, para sufi yang tak dewasa dan orang orang yang berpura-pura yang tidak peduli dan mengabaikan keunggulan spiritual telah membuat sufi menjadi seolah olah sebuah mainan.
Mereka memberikan publisitas yang luas untuk ucapan dalam kerasukan mereka dan juga ungkapan ungkapan ilham mereka.
Seseorang selalu bisa
menemukan sekelompok orang di mana saja
yang membuat klaim yang berlebihan dan
berkeliaran untuk memproklamirkan kemampuan mereka untuk melakukan mukjizat
luar biasa dan menerima wahyu. Akibat dari semua ini adalah bahwa massa Muslim
telah membiasakan diri untuk kegemaran kegemaran yang tak pantas atas hal-hal esoteris, untuk mujizat, untuk
pertunjukan supranatural, untuk mimpi-mimpi wahyu dan nubuat nubuat. Semakin
besar seseorang menawarkan hal-hal ini,
semakin besar popularitasnya. Orang tersebut terbiasa menjadi pusat pemujaan populer.
Para darwis munafik dan para pedagang agama yang licik mengambil keuntungan penuh dari situasi ini. Masyarakat telah mengembangkan diri untuk menyukai hal hal esoteris ini sedemikian rupa sehingga mereka selalu siap untuk menerima setiap fantasi baru, untuk mendukung setiap gerakan yang baru dan percaya pada setiap klaim esoteris, betapaun tidak berdasar dan maya. Muslimin umumnya jatuh dalam cengkeraman frustrasi dan menjadi mangsa semangat kekalahan. Kegagalan dari perjuangan 1857 dan kegagalan dari sejumlah gerakan-gerakan keagamaan dan garakan gerakan militan lainnya baru-baru ini masih segar dalam ingatan mereka.
Para darwis munafik dan para pedagang agama yang licik mengambil keuntungan penuh dari situasi ini. Masyarakat telah mengembangkan diri untuk menyukai hal hal esoteris ini sedemikian rupa sehingga mereka selalu siap untuk menerima setiap fantasi baru, untuk mendukung setiap gerakan yang baru dan percaya pada setiap klaim esoteris, betapaun tidak berdasar dan maya. Muslimin umumnya jatuh dalam cengkeraman frustrasi dan menjadi mangsa semangat kekalahan. Kegagalan dari perjuangan 1857 dan kegagalan dari sejumlah gerakan-gerakan keagamaan dan garakan gerakan militan lainnya baru-baru ini masih segar dalam ingatan mereka.
Banyak dari mereka telah putus asa karenanya , untuk melakukan perubahan dan reformasi melalui proses proses normal dan sejumlah besar orang mulai mengharapkan munculnya semacam pribadi yang karismatik, seorang ratu Adil.
Pada beberapa tempat seseorang mendengar bahwa pada pergantian abad ini ( dari abad 19 ke abad 20/ penterjemah), Al Masih yang dijanjikan akan tampil. Dalam majelis majelis ta’lim orang orang umumnya memperbincangkan berbagai bentuk kesesatan dan kelancungan yang mendahului Hari Kiamat. Nubuat-nubuat dan pernyataan pernyataan esoteris seperti yang dibuat oleh Shah Ni’matullah Kashmir membantu orang untuk melupakan kepahitan dari situasi saat ini dan memperkuat moral mereka. Impian impian, nubuat nubuat dan ungkapan ungkapan esoteris lainnya memiliki daya tarik magnet dan membuat semangat mereka tetap tinggi.
Provinsi Punjab, secara khusus, merupakan pusat kebingungan mental dan kerusuhan takhayul dan ketidak acuhan terhadap agama. Provinsi ini telah menderita selama delapan puluh tahun di bawah cengkeraman Raj Sikh, penguasa dari jenis tirani militer. Selama periode ini keyakinan religius dan ketaatan kaum Muslimin telah sangat melemah. Pendidikan Islam yang benar sudah hampir tidak ada untuk waktu yang lama. Dasar-dasar kehidupan Islam dan masyarakat Islam telah tergoyah. Pikiran mereka sungguh sungguh dalam cengkeraman kekacauan dan kebingungan.Secara ringkas meminjam kata-kata Iqbal:
Para Khalsa (Sikh) membawa pergi baik Alquran maupun pedang,
Di wilayah
kekuasaan mereka, Islam hanya mati.
Situasi ini telah melicinkan jalan di Punjab untuk munculnya agama baru - gerakan yang didasarkan pada penafsiran baru dan doktrin-doktrin esoterik. Perangai sejumlah orang dari wilayah mana gerakan ini timbul telah digambarkan oleh Iqbal dalam kata-kata:
Dalam agama, ia menyukai yang terbaru,
Dia tidak
menetap untuk waktu lama di suatu tempat, ia terus bergerak;
Dalam
pembelajaran dan penelitian dia tidak ikut serta,
Tapi untuk
permainan Guru dan Murid, ia siap menyerah;
Jika
terperangkap penafsiran (akhlakiah) siapapun yang menyampaikan,
Menjelang akhir abad kesembilan belaslah Mirza Ghulam Ahmad muncul di panggung dengan pesan dan gerakan yang uniknya . Untuk penyebaran pesan dan untuk pemenuhan ambisinya, Mirza Ghulam Ahmad seperti menemukan tanah yang subur dan masa yang tepat. Dia memiliki banyak unsur bagi keuntungannya: keresahan masyarakat yang meluas, masyarakat yang berperangai mencintai hal hal yang eksotis, keputus-asaan umum sehubungan dengan kemanjuran dari cara cara moderat dan normal atas reformasi dan revolusi, penurunan pamor dan kepercayaan para ulama, populernya perdebatan agama yang memvulgarkan keingintahuan dan kecenderungan pada agama masyarakat ( muslim), dan membuat mereka, sampai batas tertentu, menjadi berpikir liberal.
Selain itu, penguasa Inggris (yang telah memiliki pengalaman pahit dengan gerakan Mujahidin di Sudan dan tempat lain ,dan oleh karena itu, memiliki rasa ketakutan besar bagi semangat jihad dan antusiasme yang besar atas agama dari kaum Muslimin), menyambut hangat gerakan keagamaan baru ini, yang menjamin kesetiaannya kepada pemerintah Inggris dan bahkan membuat kesetiaan ini menjadi sebuah ayat ke imanan dan yang pendirinya telah memiliki hubungan panjang dan dekat dengan pemerintah. Semua unsur ini memberikan suasana yang dibutuhkan di mana sekte Qadiani bangkit, merebut pengikut dan berkembang menjadi sebuah sekte dan agama yang berdiri sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar